, , , , , , , , ,

APCITA, Meningkatkan Kesejahteraan Pembudidaya Catfish Tulungagung

Kabupaten Tulungagung merupakan salah satu sentra perikanan di Jawa Timur. Walaupun begitu, pembudidaya ikan di Kabupaten Tulungagung masih menghadapi beberapa masalah. Masalah yang sering dikeluhkan oleh pembudidaya ikan di Kabupaten Tulungagung adalah kenaikan harga pakan. Ketika harga pakan naik,  keuntungan pembudidaya ikan menjadi  berkurang.  Menurut Imam Turmudi, pembudidaya catfish dari Ngunut, hal ini disebabkan karena 70 % biaya produksi untuk pembelian pakan. Imam mengakui prospek budidaya catfish, terutama patin cukup bagus. Namun ketika harga pakan  naik,  keuntungan sangat tipis. “Saya dulu pernah mencoba membuat pakan sendiri, memang biayanya lebih murah. Tapi karena naik-turunnya kualitas protein tepung ikan (bahan baku pakan), berimbas pada petumbuhan ikan,” tuturnya.

Masalah harga pakan ikan di Tulungagung menggerakkan beberapa pembudidaya ikan untuk membentuk sebuah organisasi. Pada tahun 2013, atas inisiatif dari beberapa pembudidaya ikan, seperti  Mashudi, Supangat, Suhaili, Imam Turmudi, dan Jumani terbentuklah  APCITA. “APCITA itu singkatan dari Asosiasi Pengusaha Catfish Tulungagung. Tujuan dari dibentuknya asosiasi ini untuk membangun kekuatan pembudidaya ikan, khususnya catfish (patin dan lele),” jelas Mashudi, ketua APCITA.

Menurut Mashudi, dengan bersatunya  pembudidaya catfish dalam sebuah organisasi, mereka mempunyai kekuatan untuk mengatasi berbagai permasalahan anggotanya. Salah satunya adalah permasalahan harga pakan ikan. Selain itu, APCITA juga menjadi ajang pembelajaran anggotanya, untuk meningkatkan pengetahuan budidaya ikan. Pertemuan pun rutin dilakukan minimal sebulan sekali.

“Dalam setiap pertemuan, kami mendiskusikan berbagai hal tentang budidaya catfish. Dari mulai memilih bibit, upaya pembuatan pakan, pemeliharaan, hingga informasi harga ikan. Selain itu kami juga membangun jaringan bisnis untuk prospek yang lebih bagus bagi anggota,” papar Mashudi. Pertemuan rutin tersebut tidak jarang melahirkan inovasi baru dalam pembudidayaan ikan, khususnya catfish.

Mashudi mengungkapkan, hingga saat ini anggotanya sudah mencapai 19 orang, dengan luas kolam 98.331 m2. Anggota tersebut tersebar di 10 kecamatan; Pakel, Bandung, Kedungwaru, Kauman, Ngunut, Boyolangu, Campurdarat, Gindang, Ngantru, dan Sumbergempol. “Sejak tahun 2017, kami melakukan kerjasama dengan pabrik filet ikan patin di Tulungagung. Kapasitas pabrik tersebut 10 ton per hari, tapi untuk sementara ini kami baru bisa memasok antara 2 – 3 ton saja,” jelas Mashudi.

Keuntungan bekerjasama dengan pabrik filet patin tersebut banyak dirasakan angota APCITA. Sebab pembudidaya cukup hanya menyiapkan lahan dan benih. Sedangkan pakan, obat, serta probiotik, dipasok oleh pabrik, dan akan dipotong pembayaran pada saat hasil panen disetor ke pabrik. Selain itu pabrik juga melakukan pengawalan budidaya agar produktivitas ikan optimal.

Yang paling menarik dari kerjasama dengan pabrik, menurut Imam Turmudi, adalah kepastian harga. Harga ikan patin dari pabrik dipatok Rp14.500,- per kg, Memang jika dilihat dari harga pasaran saat ini, lebih rendah Rp.1.000,-  per kg. Tapi mereka lebih aman, karena sudah ada kepastian pasar. “Selain itu kami tidak dipusingkan dengan kenaikan harga dan jaminan pasokan pakan. Ketika harga patin di pasar jatuh pun, kami tidak terpengaruh,” tegasnya.

Hal tersebut diamini oleh Bangun Adi Wahono, anggota termuda yang tinggal di Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat. Menurut alumnus Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya ini, banyak sekali manfaat yang didapat sejak dia bergabung dengan APCITA. “Saya relatif baru terjun di budidaya catfish, dengan bergabung asosiasi, saya banyak mendapatkan pengetahuan budidaya. Selain itu saya sudah tidak lagi pusing memikirkan fluktuatifnya harga patin. Karena hasil kolam saya sudah dibeli langsung oleh pabrik, dengan harga yang sudah ditetapkan,” paparnya

Memang melakukan budidaya catfish tidak selamanya tanpa kendala. Meskipun patin merupakan ikan yang tahan serangan penyakit, bukan tidak mungkin terserang parasit dan jamur. Hal ini diakui Imam Turmudi, ikan patin di kolamnya pernah juga terkena serangan penyakit tersebut. Salah satu materi yang didiskusikan di pertemuan rutin APCITA pun, di antaranya adalah solusi untuk mengendalikan dan menaggulangi serangan penyakit.

Untuk penanggulan penyakit pada catfish, salah satu solusinya dengan mengaplikasikan probiotik. Imam sendiri sudah 3 tahun ini mengaplikasikan Petrofish, probiotik khusus ikan produksi Petrokimia Gresik “Dengan mengaplikasikan Petrofish ikan cenderung lebih sehat, kualitas air meningkat. Air di kolam  menjadi hijau bening, dan rasa ikan lebih gurih, tidak bau tanah,” akunya. (Bayu Kristianto)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *