, , , , , ,

Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M. Agr.; “Butuh 20 Ton Pupuk Organik untuk Tingkatkan 1 % Bahan Organik Tanah”

Tanah di daerah pegunungan cenderung lebih subur dibandingkan dengan tanah di pesisir. Hal tersebut disebabkan karena di daerah pegunungan proses dekomposisinya lambat. Lambatnya proses dekomposisi  menyebabkan kadar organik tanah di pegunungan menjadi tinggi,  bisa mencapai 5 %. Sebaliknya tanah-tanah di pesisir dengan proses dekomposisi cepat, mempunyai kadar organik rendah, bahkan tidak sampai 2 %.

“Ironisnya banyak lahan sawah di Indonesia  berada di pesisir. Seperti misalnya sawah di Pulau Jawa, 45 – 60 % terdapat di jalur  pantura (pantai utara). Oleh sebab itu untuk sawah dengan bahan organik rendah, utamanya di daerah pesisir, harus diberi  pupuk organik,” jelas Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr., Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.

Menurut Dedi, tanah yang kandungan bahan organiknya sangat rendah, atau bisa dikatakan dalam kondisi sakit, membutuhkan proses penyembuhan yang lama. Karena proses perusakannya pun juga berjalan lama. Sehingga penyembuhannya  dilakukan secara bertahap. Dedi mengibaratkan tanah yang bahan organiknya rendah sebagai manusia yang mengalami serangan stroke, yang kelihatannya saja datangnya tiba-tiba. Serangan stroke terjadi akibat gaya hidup penderitanya, yang terakumulasi dalam waktu yang tidak sebentar.

“Kerusakan tanah itu tidak datang tiba-tiba, tapi melalui proses perusakan yang cukup lama. Oleh sebab itu recovery-nya memerlukan waktu yang juga lama. Memang prosesnya bisa dipercepat, tapi dengan cara memberikan pupuk organik dalam jumlah yang besar,” paparnya. Bahan organik yang terkandung di dalam pupuk organik, jelas Dedi,  berperan untuk memperbaiki sifat fisik, biologi dan kimia tanah.

Lebih lanjut Dedi menjelaskan, untuk meningkatkan 1 % bahan organik  pada tanah seluas 1 hektar, perlu kurang lebih 20 ton pupuk organik. Jumlah tersebut diperoleh dari kerapatan tanah sebesar 1 gr/cm3, dan ketebalan lapisan olah 20 cm. “Dengan tanah seluas 1 hektar (10.000 m2), perkaliannya adalah 10.000 x 0,2 x 1.000, maka akan ketemu 20 ton/hektar pupuk organik,” terangnya.

Dari perhitungan tersebut, petani bisa menghitung akan meningkatkan bahan organik berapa persen di lahannya. Misalnya saja kandungan bahan organik tanahnya hanya 1,5 %,  ingin ditingkatkan  menjadi jumlah minimal yaitu 2 %, maka dibutuhkan pupuk organik 10 ton per hektar. “Aplikasinya tentu saja bertahap. Jika tiap satu musim tanam petani mengaplikasikan satu ton, maka butuh aplikasi pupuk organik selama 10 musim tanam,” katanya.

Selain itu Dedi juga menekankan pentingnya pengembalian sisa panen ke lahan, seperti misalnya jerami padi. Hal ini mengingat bahwa masih cukup banyak petani yang membakar jerami setelah panen. “Yang menghilangkan bahan organik dalam jumlah besar itu adalah pembakaran. Dengan membakar sisa panen, artinya kita telah membuang sia-sia bahan organik yang dikandungnya,” ujarnya.  Selain  membuang bahan organik dalam jumlah besar, menurut Dedi, pembakaran sisa panen bisa meningkatkan emisi gas rumah kaca, yang bisa berakibat pemanasan global.

Dedi mengungkapkan, tidak sedikit  juga petani yang memberikan jerami sisa panen sebagai makanan ternak. Sebenarnya hal tersebut tidak masalah, asalkan kotoran ternaknya dikembalikan ke lahan. Atau kotoran ternak dimasukkan ke biodigester, sehingga metannya bisa dipanen untuk bahan bakar biogas. Sisanya berupa sludge dan slurry bisa dikembalikan ke lahan untuk dijadikan pupuk organik. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *