, , , , ,

Mulyono, Petani Muda dari Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Lumajang; “Menjadi Petani Harus Cerdas dan Tidak Malas Belajar”

Mulyono, petani muda yang tinggal di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Lumajang ini  masih belia ketika mulai bertani. Bapaknya lah yang awalnya mengajari bagaimana cara melakukan budi daya berbagai komoditas hortikultura di lahan mereka. Kecamatan yang terletak di sebelah Barat kota Lumajang ini memang terkenal sebagai penghasil hortikultura, utamanya kentang, kol, dan bawang daun. “Karena ketiadaan biaya, setelah lulus SMP saya harus bekerja membantu orang tua. Karena orang tua saya petani, ya saya bekerja di lahan,” kenangnya.

Selain belajar bertani, Lajang kelahiran 19 Juli 36 tahun yang lalu ini juga belajar usaha kecil-kecilan. “Dari Desa Kandang Tepus, rumah orang tua saya, saya dan bapak berjalan kaki ke Desa Argosari yang berjarak sekitar 10 Km. Dulu Argosari merupakan sentra bawang putih, dan bapak saya membelinya untuk dijual ke Lumajang dan Mojokerto,” ungkap Mulyono. Saat itu jalan menuju Argosari hanya jalan setapak menembus belantara. Untuk mengangkut bawang putih dari Argosari, mereka menyewa kuda dari penduduk setempat.

Melihat potensi Argosari, anak ke 5 dari 6 bersaudara ini memutuskan menetap di desa tersebut. Dia menyewa lahan seluas satu hektar untuk ditanami kentang, bawang daun, dan bawang putih. “Saya mulai tinggal di desa ini sejak tahun 2002, dan mulai hidup mandiri berusaha tidak lagi bergantung pada orang tua,” kisahnya. Komoditas pertama yang ditanamnya adalah kentang, yang saat itu mulai menjadi primadona di desa berhawa dingin itu. Hasil panen kentang perdana di lahannya menggembirakan, dan Mulyono meraup banyak keuntungan.

Meskipun pernah rugi beberapa puluh juta karena gagal panen, Mulyono tidak menyerah. Dia terus bekerja keras menekuni usahanya. Dari lahan yang hanya satu hektar, saat ini Mulyono memiliki lahan seluas lima hektar, baik yang sewa maupun milik sendiri. Dua hektar diantaranya dibeli tahun 2006, empat tahun sejak dia memutuskan pindah dari rumah orang tuanya. Selain bertani, dia juga terus mengembangkan kios pertanian dan sembako untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga petani di Argosari. “Sejak tahun 2015, saya dipercaya Petrokimia Gresik menjadi kios resmi,” jelasnya.

Mulyono mengakui, menjadi petani harus cerdas dan tidak malas belajar. Selain belajar dari orang tuanya dan rekan-rekannya sesama petani, dia juga banyak mengikuti sosialisasi dari penyuluh pertanian dari Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang. Oleh penyuluh pertanian, lelaki yang pandai memasak ini diajari bagaimana cara budi daya komoditas hortikultura. “Selain  itu, untuk pemupukan saya beberapa kali mengikuti sosialisasi yang diadakan oleh Petrokimia Gresik, “ akunya.

Dari sosialisasi oleh petugas lapang Petrokimia Gresik, Mulyono menjadi lebih memahami beberapa produk yang selama ini sudah diaplikasikannya. Mulai dari PHONSKA, Urea, Petroganik, Sp-36, hingga Za. Pada musim tanam kentang kali ini,  dia mulai menggunakan PHONSKA Plus,  NPK dengan tambahan unsur Zn. “Selain itu juga pupuk hayati Petrobio Fertil, dan Petrogladiator,” sebutnya. Mulyono juga mengatakan, sejak diberi Petrobio Fertil, lahannya menjadi lebih subur.

Mengenai Petrogladiator, Mulyono mengakui bahwa biodekomposer produksi Petrokimia Gresik ini sangat efektif dan efisien untuk membuat kompos. Sebelumnya dia dan kebanyakan petani di desanya langsung menebarkan kotoran hewan ke lahan. Karena masih belum menjadi kompos, berakibat buruk pada tanaman. Pada kentang misalnya, daun menjadi layu dan dalam tempo 40 hari, batang roboh dan mati. “Aplikasi dekomposer ini mudah, 1 ton pupuk kandang cukup diberi 2 kg Petrogladiator, kemudian diperam selama 2 minggu. Setelah itu bisa langsung ditebar di lahan,” terangnya.

Dengan pemupukan yang ideal dan didukung dengan meningkatnya kesuburan tanah, petani muda ini dapat meningkatkan hasil panen. Pada panen kentang baru-baru ini, terjadi peningkatan yang cukup berarti. “Sebelumnya dengan benih yang sama hanya bisa mencapai (panen) 11 ton per hektar. Setelah menggunakan Phonska Plus, ZA, dan Petrobiofertil, hasilnya bisa meningkat 14 ton per hektar. Oh ya, ditunjang juga dengan Petrogladiator untuk mengkomposkan kotoran hewan, sebelum ditebar di lahan” pungkasnya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *