, , , , , ,

Imam Turmudi; “Dari Guru Honorer Menjadi Pembudidaya Ikan yang Sukses”

Jalan hidup Imam Turmudi mirip jalur Batu-Mojokerto melalui Pacet, naik turun dan penuh kelokan tajam. Setelah merampungkan S1 di IKIP Malang (sekarang UM) tahun 1990, bapak dua anak ini sempat menjadi guru honorer selama dua tahun. Karena gaji guru honorer tidak mencukupi kebutuhan keluarganya, dia mencoba menjadi sopir truk  Tulungagung–Jakarta. Lelaki yang tinggal di Desa Pulosari, Kecamatan Ngunut, Tulungagung ini juga pernah menekuni usaha jual-beli mobil. Pernah juga menjadi petani kopi dan cengkeh, ketika istrinya yang berprofesi sebagai bidan pindah tugas ke Malang Selatan.

“Tahun 2007 saya pindah ke Ngunut dan mulai membudidayakan gurame dengan modal Rp. 70 juta. Itu lah awal mula saya terjun di bidang usaha budidaya ikan, dengan pengalaman yang minim,” kenangnya. Dari gurame, Imam beralih ke budidaya lele yang saat itu lagi diminati konsumen, sambil terus belajar ilmu budidaya ikan air tawar. Karena gurame dan lele untungnya sedikit ditambah dengan konsumen yang sering rewel, Imam beralih ke patin. “Selain budidaya ikan, saya juga beternak sapi hingga mencapai 15 ekor. Tapi karena tahun 2014 sapi impor membanjiri pasar dalam negeri, usaha saya gulung tikar,” kata Imam.

Desa Pulosari memang sejak lama menjadi sentra budidaya ikan. Di desa itu terdapat tidak kurang dari 150 pembudidaya ikan,  mereka belajar dengan cara otodidak. Kesadaran untuk membentuk kelompok budidaya ikan baru pada awal tahun 2000’an. Pada tahun 2008 Imam Turmudi bersama dengan Didik Sulistyo, H. Zaelani, Purwohadi, dan Slamet Pitoyo, mendirikan kelompok budidaya ikan (pokdakan) dengan nama “Mina Sari”. Beberapa pengurusnya ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan oleh instansi pemerintah maupun swasta. Ilmu yang diperoleh segera ditularkan kepada semua anggota, sehingga mereka mendapatkan tambahan pengetahuan.

Pada tahun 2010, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lumajang melakukan pendampingan. Instansi tersebut selain melakukan pelatihan teknik budidaya, juga membenahi manajemen organisasi “Mina Sari”. Hal ini membuat kelompok budidaya ikan tersebut maju pesat, luasan kolam milik anggota meningkat. Bahkan satu anggota bisa memiliki  30 – 60 petak. Karena melihat potensi yang dimiliki oleh “Mina Sari”, mereka didaftarkan untuk mengikuti lomba budidaya ikan, mulai tingkat kabupaten hingga nasional. “Akhirnya Mina Sari memperoleh penghargaan Adibakti Mina Bahari, sebagai pemenang I kategori budidaya lele/patin tingkat nasional, tahun 2011,” ujar Imam sambil menunjukkan piala dan piagamnya.

Imam Turmudi mengakui peran probiotik  untuk meningkatkan produksi ikan, cukup signifikan. Dia mengenal probiotik sejak 7 tahun lalu saat mengikuti pelatihan di Jombang. Bahkan anggota Apcita (Asosiasi Pembudidaya Cat Fish) ini pernah membuat probiotik sendiri. “Tapi probiotik yang saya buat kandungan bakterinya hanya sebatas kira-kira.  Makanya ketika mengetahui Petrofish masuk ke Tulungagung, saya mengaplikasikannya,” terang suami dari Ikrima ini.  Imam mengakui Petrofish mampu menaikkan produksi hingga 10 %, dan kualitas air kolam juga meningkat. “Tidak hanya itu, rasa patin juga lebih gurih dan tidak bau tanah, sehingga harga jualnya bisa lebih tinggi,” aku pemilik kolam ikan dengan total luas 1 hektar itu.  (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *