, , , , , ,

Mengintip Petani Lamongan, Bojonegoro, dan Tuban Berdiskusi dengan Metode PRA

Tidak kurang dari 40 petani berkumpul di aula berukuran 45 meter persegi milik UPT Dinas Pertanian dan Kehutanan Kecamatan Babat, Lamongan. Petani-petani yang berasal dari Lamongan, Bojonegoro, dan Tuban itu sebagian besar petani pemilik lahan, selebihnya adalah petani penggarap. Mereka diundang oleh Petrokimia Gresik dan PT Jasindo (Jasa Asuransi Indonesia, untuk melakukan diskusi seputar bidang yang mereka geluti, yaitu budidaya pertanian.

Dimulai dengan membagi mereka dalam tiga kelompok, disesuaikan dengan asal daerah petani. Masing-masing kelompok mengelilingi selembar kertas selabar dua kali kertas ukuran A3. Beberapa anggota kelompok terlihat menggambar beberapa obyek, seperti tanaman padi, kantong pupuk, truk, hasil panen, dan gambar anak kecil. Sementara yang lainn mendiskusikan obyek-obyek yang sudah digambar di kertas tersebut. Petani-petani itu terlihat antuasias, mungkin baru pertama kali ini mereka mengikuti diskusi dengan metode seperti itu.

Setelah semua kelompok menyerahkan kertas dengan gambar berbagai obyek tersebut, Bagus Aryawa, salah satu fasilitator, menempelkannya pada dinding. Lelaki berambut gondrong itu meminta wakil dari masing-masing kelompok untuk menjelaskan maksud dari obyek-obyek yang digambarnya. Secara bergantian mereka menjelaskan maksud dan tujuan dibuatnya gambar oleh masing-masing kelompok.

Menurut Bagus Aryawa, metode yang digunakan adalah PRA (participatory rural appraisal). PRA merupakan metode pendekatan dalam proses pemberdayaan dan peningkatan partisipasi masyarakat, yang penekanannya pada keterlibatan masyarakat. “Kekuatan pada PRA adalah pada alat-alat bantunya, untuk memastikan peserta diskusi mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi. Kemudian juga untuk memperkuat rasa percaya diri mereka, sehingga berani untuk memberikan pendapat,” paparnya.

Tidak dipungkiri dengan metode tersebut, diskusi menjadi hidup dan efektif. Hampir semua peserta terlihat aktif selama diskusi berjalan. Peserta yang tadinya malu-malu dan kurang percaya diri, menjadi peserta yang bisa mewarnai suasana diskusi. Mereka saling mengemukakan pendapat dan memberikan komentar, setiap kali materi diskusi dilempar fasilitator.

Mengenai aktivitas peserta yang diminta menggambar di selembar kertas, Bagus menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan upaya untuk mengetahui impian para peserta. Dengan mengetahui impian peserta diskusi, terlihat bahwa sebenarnya mereka sudah melakukan sesuatu, hanya saja kurang mendapat apresiasi. “Di samping itu mereka jadi lebih berani mengungkapkan hal-hal yang belum optimal dalam hidup mereka. Bukan hanya yang disebabkan oleh  faktor dari dalam, tapi juga dari luar diri mereka,” ungkap Bagus.

Ditemui secara terpisah, Manager Promosi dan Perencanaan Pemasaran Petrokimia Gresik Luqman Harun menyampaikan, diskusi ini dimaksudkan untuk mengetahui pemahaman petani tentang budidaya pertanian dan resiko kegagalan panen. “Lamongan, Bojonegoro, dan Tuban, merupakan tiga kabupaten yang dipilih karena para petaninya sudah mengikuti Program GP3 (Gerakan Peningkatan Produksi Pangan) dan AUTP (Asuransi Usaha Tani Padi). Selain itu mereka sudah mengaplikasikan produk-produk non subsidi Petrokimia Gresik, khususnya PHONSKA Plus,” ujarnya.

Menurut Luqman,  diskusi ini juga dimaksudkan untuk mengetahui masalah yg mereka hadapi di lapangan. Masalah tersebut terkait  dengan pemupukan berimbang, manajemen resiko usaha, dan  harapan petani untuk menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi. “Pemilihan Babat sebagai lokasi pertemuan, karena kecamatan ini merupakan titik tengah di antara 3 kabupaten tersebut,” ujarnya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *