, , , , , , , , ,

Perjalanan Hidup Luqman Taufiq, PPD Wilayah Ujung Timur Jawa

Berbagai profesi pernah dilakoni  Luqman Taufiq (37), sejak lulus dari SMA pada tahun 1998. Mulai dari anak buah kapal, buruh bangunan, hingga sopir angkutan pupuk. Meskipun tumbuh dan besar dari keluarga petani, bapak dua anak ini tidak serta merta tertarik menjadi petani. Justru pengalaman masa remaja yang  dipaksa oleh kedua orang tuanya untuk bekerja di lahan, membuat Luqman merasa enggan menjadi petani. “Saya dan dua adik saya harus mengangkut padi hasil panen yang beratnya puluhan kilo itu menyusuri pematang. Belum lagi harus mencangkul dan aktivitas-aktivitas lainnya yang banyak menguras keringat,” ujarnya.

Setelah beberapa kali ganti profesi dan belum menemukan yang cocok, Luqman kembali ke dunia masa kecilnya, pertanian. Tahun 2005 dia  akrab lagi dengan sawah dan ladang, yang lama ditinggalkannya. Dimulai dengan menanam cabai, sambil nyambi menjadi sopir angkutan di perusahaan ekspedisi. “Saat itu saya melihat bahwa pertanian ternyata mempunyai prospek yang bagus. Karena bagaimana pun juga, manusia hidup tidak akan lepas dari produk pertanian,” terangnya diplomatis. Tapi ketika kembali bertani, Luqman mengalami beberapa kali kerugian.

Setelah belajar budidaya pertanian dan strategi menjual hasil panen selama 5 tahun, Luqman mulai mendapatkan untung. Bahkan pada dua kali musim panen cabai, dia mampu membeli mobil pick up. “Saya membeli pick up untuk menunjang usaha budidaya jeruk dan buah naga yang saat itu mulai marak di Banyuwangi,” kenangnya. Usahanya pun mulai menggeliat,  jeruk dan buah naga dari lahannya dan lahan milik petani lain, dijualnya hingga keluar Banyuwangi. “Pasar saya mulai dari Bali, Kediri, Tulungagung, Blitar, Surabaya, hingga Cibitung,” paparnya. Semakin lama, luas lahan yang digarapnya semakin luas, hingga mencapai 2 hektar.

Lahan seluas itu ditanamai jeruk dan buah naga. Kedua komoditas tersebut dipupuk dengan PHONSKA, Urea. Petroganik, Petrocas, dan SP-36. “Sejak Petrokimia Gresik memproduksi PHONSKA Plus pada tahun 2016, saya beralih ke PHONSKA non subsidi dengan tambahan S dan Zn itu,” akunya. Meskipun produk non subsidi dan tentu saja harganya lebih mahal, tapi dengan peningkatan produksi dan kualitas komoditas yang ditanamnya, masih lebih menguntungkan.

Luqman mengemukakan, PHONSKA Plus bisa  merangsang pembungaan, baik pada jeruk maupun buah naga. Ketika curah hujan tinggi, pupuk ini membuat bunga pada tanaman jeruk dan buah tidak mudah rontok. Untuk meningkatkan cita rasa  buah, suami dari Elok Ernawati ini mengaplikasikan KCl dan ZK produksi Petrokimia Gresik. “Dengan PHONSKA Plus terjadi peningkatan produksi sekitar 10 hingga 20 %, tentu saja hal ini bisa menambah penghasilan,” akunya.

Setelah menjadi PPD (Petugas Penjualan Daerah) Petrokimia Gresik sejak tahun 2015, usaha taninya lebih banyak ditangani istrinya. Ada kisah menarik dari bergabungnya Luqman dengan Petrokimia Gresik. Hal ini bermula dari aktivitasnya dalam memasarkan pupuk yang disebutmya sebagai pupuk ‘alternatif’. “Saya pernah menjual pupuk ‘alternatif’. Pupuk dengan harga murah tapi mempunyai mutu rendah ini, mempunyai pasar yang bagus. Sebab ketika kuota pupuk subsidi sudah habis, sedangkan petani masih membutuhkan, maka pupuk ini dijadikan alternatif,” ujarnya.

Setelah lima tahun berbisnis pupuk yang berpotensi merugikan petani tersebut, Luqman tidak lagi melanjutkan. Hal ini disebabkan karena  dia memergoki orang tuanya mengaplikasikan   komoditas yang dijualnya itu. “Begitu tahu orang tua saya sendiri menjadi pembeli pupuk alternatif yang saya jual, tentu saja saya terhenyak. Sebab saya tahu pupuk itu hampir tidak ada pengaruhnya pada hasil panen,” paparnya. Luqman segera tersadar dan menghentikan aktivitas bisnisnya. Dia merasa bersalah, mendapatkan untung besar tapi merugikan petani, begitu pikirnya saat itu.

Begitu mendapatkan penawaran menjadi PPD, dengan tanpa banyak petimbangan Luqman menerimanya. Dia yakin mampu menjadi salah satu ujung tombak penjualan produk-produk Petrokimia Gresik itu. Menurutnya menjual produk berkualitas dari produsen sekelas Petrokimia Gresik bukan hal yang berat. “Menjual pupuk dengan kualitas yang tidak jelas saja saya mampu kok,” katanya tanpa bermaksud sesumbar.

Luqman berpendapat, menjadi PPD ke depannya harus lebih memahami produk yang dijual, hal ini merupakan bekal ketika melakukan sosialisasi ke kios dan petani. Sebab lewat PPD lah seringkali konsumen dan petani menanyakan berbagai hal tentang produk yang dijual, baik subsidi maupun produk non subsidi. “Selain itu, kedekatan emosional dengan kios sangat penting. Sebab ketika kita sudah akrab dengan para pemilik kios, mereka dengan senang akan menjualkan produk yang kita tawarkan. Lebih-lebih jika untungnya besar,” pungkasnya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *