, , , , ,

Bergantung Hidup dari Lebo dan Lupi

Pekerjaan sebagai petugas Mobil Uji Tanah Petrokimia Gresik untuk  Bali, NTB dan NTT, membuat saya harus berkeliling dari desa ke desa di wilayah tersebut. Ketika menuju ke Desa Seloto untuk melakukan uji tanah, saya melewati lebo (danau) yang cukup luas. Lebo yang membentang di beberapa kecamatan di Sumbawa Barat ini mempunyai luas sekitar 750 hektar. Dengan daya tampung air tidak kurang dari 170 juta meterkubik, lebo ini banyak memberi manfaat untuk masyarakat di sekitarnya.

Melimpahnya air lebo dimanfaatkan untuk irigasi lahan pertanian, sumber air rumah tangga, dan dijadikan tempat wisata para pelancong yang kebetulan melintas. Memang pemandangan di area lebo ini cukup indah, dengan latar belakang perbukitan hijau.  Di sepanjang tepian lebo, berdiri beberapa warung untuk melayani pengunjung. Warung-warung itu menyediakan berbagai menu makanan ikan air tawar dari lebo, baik yang masih segar maupun yang sudah dikeringkan. Selain itu, lebo dengan air bening ini juga menjadi sumber nafkah bagi beberapa nelayan desa di sekitarnya.

Salah satu nelayan yang memanfaatkan potensi ikan di lebo  adalah Ibrahim (62). Sebelum fajar menyingsing, dengan bermodalkan lupi (sampan) dan jala, bapak lima anak ini menyusuri luasnya lebo hingga ke tengah. Sudah 45 tahun dia menjalani profesinya. Usia yang tidak lagi muda tidak mengurangi semangatnya dalam mengais rejeki untuk bertahan hidup. Dia masih terlihat cekatan mendayung lupi dan menebarkan jala. “Sebenarnya petani dengan nelayan tidak jauh beda, kami sama-sama mengharapkan hasil bumi sebagai mata pencaharian. Bedanya, jika petani tidak boleh menggarap lahan orang lain, nelayan tidak boleh menggunakan dengan lupi orang,” ujarnya berkelakar, sambil memperbaiki periuk yang akan digunakan memasak di lebo.

Ibrahim lahir dan besar dari keluarga miskin di Desa Sampir, Kecamatan Taliwang. Orang tuanya hanya mampu menyekolahkan hingga  kelas 3 Sekolah Dasar. Penghasilan sebagai nelayan tidak seberapa besar, tapi Ibrahim tetap menekuninya, sebab tidak ada pilihan lain. Beberapa tahun terakhir ini, hasil tangkapannya semakin turun karena fisiknya tidak memungkinkan berlama-lama menyusuri lebo. Dengan bertambahnya usia,  Ibrahim turun ke lebo selepas subuh, dan pulang pukul sembilan pagi. Ikan yang diperoleh hanya sekitar 5-10 kg per hari. Ikan hasil tangkapannya dijual dengan harga antara Rp. 10 ribu hingga Rp. 25 ribu per kilogram. Tidak jarang hasil tangkapannya hanya cukup untuk lauk di rumah. “Lamun sekedar untuk telas jangkam mo kami keman lebo (kalau sekedar untuk menyambung hidup, cukuplah kami dari danau),”  katanya.

Sudah sejak sebulan ini Ibrahim memiliki lupi baru, menggantikan miliknya yang sudah mulai keropos dimakan umur. Lupi baru ini bantuan dari Pemerintah Daerah Sumbawa Barat. “Lupi baru bantuan dari pemerintah, dengan syarat diminta menabung di bank,” ungkapnya. Lupi bantuan pemerintah lebih besar dari lupi miliknya. Dengan lupi baru,   Ibrahim bisa mengarungi lebo lebih jauh dan membawa hasil tangkapan lebih banyak. “Nelayan di lebo ini juga akan diberikan asuransi,” tambahnya. Meski lupi yang lama sudah mulai rapuh, sesekali Ibrahim masih mengoperasikannya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk apresiasi, karena lupi lama miliknya sudah menemani mencari nafkah selama puluhan tahun.

Di atas lebo Ibrahim menanak nasi di periuk usang, beberapa bumbu yang dibawanya dari rumah mulai diracik. Ikan hasil tangkapan dipanggang di atas bara arang, setelah terlebih dahulu dibersihkan. Dia sedang memasak sepat (ikan bakar khas Sumbawa). Baginya makan nasi hangat dengan lauk sepat di atas lupi, merupakan kenikmatan luar biasa. “Kami kat lahir ke mpa lebo, harus tu mangan ke mpa lebo, nan po sempurna tu mangan (kami dibesarkan dari ikan dari lebo, harus makan dengan ikan dari lebo, baru lah sempurna kami makan,”  ujarnya menutup perbincangan dengan saya. (Azis Satria Putra)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *