, , , , ,

Budidaya Buah Naga Ala Edy Lusi

Musim buah naga di Banyuwangi biasanya berlangsung pada bulan Agustus hingga Februari, hal ini berkaitan dengan intensitas sinar matahari pada  bulan-bulan tersebut yang cukup tinggi.  Sedangkan pada bulan Maret sampai dengan Juli, buah naga tidak bisa berbuah dengan maksimal. Hal ini disebabkan  tidak maksimalnya sinar matahari, sedangkan buah naga membutuhkan penyinaran ideal selama 10 – 12 jam.  Agar buah naga bisa berbuah sepanjang tahun, perlu penambahan lampu minimal 12 watt. Hal ini diungkapkan oleh Edy Lusi, petani buah naga dari Desa Tambakrejo, Kecamatan Purworejo, banyuwangi.

“Ketika buah naga bisa panen di luar musim, harganya bisa meningkat menjadi lima kali lipat. Biasanya jika musim buah naga kami bisa menjual dengan harga Rp. 5 – 6 ribu perkilogram, di luar musim harganya bisa mencapai Rp. 25 – 30 ribu per kilogram,” jelas Edy. Pemasangan lampu antara titik dengan jarak 2 meter, jika luasan lahan 1 hektar dibutuhkan lampu sekitar 2.000 lampu. Dari luas 1,5 hektar  lahan buah naga milik Edy yang dipasang lampu,  biaya operasionalnya  sebesar Rp. 10 juta tiap bulan. Biaya tersebut tentu saja bukan jumlah yang sedikit

“Dengan tambahan lampu biaya produksi menjadi bertambah besar, tapi dengan keuntungan yang berlipat, petani buah naga masih jauh lebih untung,” papar Edy. Memang dibutuhkan modal awal yang tidak sedikit untuk memasang instalasi lampu, dari mulai material hingga ongkos pasang. Tapi menurutnya biaya tersebut dinilainya sebagai investasi, toh pemeliharaannya relatif tidak mahal.

Edy Lusi mulai mencoba teknik penyinaran lampu di lahan buah naganya sejak tahun 2012. Semula dia menggunakan genset untuk menyuplai listriknya, sebelum  berlangganan listrik ke PLN. “Tadinya diejek oleh beberapa petani buah naga, begitu percobaan saya mendapatkan hasil, mereka mulai mencoba. Keberhasilan teknik penyinaran lampu, diikuti oleh petani buah naga di desa-desa tetangga,” kata aktivis Panaba (Persatuan Petani Buah Naga Banyuwangi) ini. Puncaknya ketika diliput oleh televisi lokal Banyuwangi pada tahun 2014.

Jika ada petani yang ingin belajar ilmu budidaya buah naga, Edy tidak pelit berbagi. Tidak jarang rumahnya menjadi jujukan petani yang akan dan sedang melakukan budidaya buah yang berasal dari Mexico ini. “Selama  tidak sibuk di lahan, saya siap menerima siapa saja yang ingin belajar membudidayakan buah naga. Saya juga aktif berbagi ilmu baik melaui kopdar (kopi darat) Panaba, maupun melalui media sosial, baik Grup WA maupun facebook,” jelas lulusan SMK Akuntansi yang pernah menjadi TKI di Taiwan ini.

“Sejak kembali dari luar negeri tahun 2012 dan memutuskan membudidayakan buah naga, saya tidak ingin lagi bekerja ke luar negeri. Di tanah kelahiran saya ternyata potensi pertaniannya luar biasa,” ungkapnya. Ketika diminta untuk memberikan tips budidaya buah naga, Edi mengatakan bahwa yang perlu diperhatikan utamanya mengenai perawatan. Menurut Edy, perawatan buah naga itu gampang-gampang sulit. Gampangnya semua petani bisa melakukannya. Sulitnya ketika menentukan pupuk yang ideal agar panen bisa optimal, dan menghasilkan buah yang berkualitas.

“Pada masa pertumbuhan, unsur N harus tinggi agar sulur bisa tumbuh lebat. Ketika waktunya berbuah, mengaplikasikan pupuk yang mengandung K dan S dengan komposisi yang pas. Itu kenapa saya  menggunakan PHONSKA Plus sejak 2 tahun ini,” terangnya. Edy mengakui bahwa pupuk NPK produksi Petrokimia Gresik dengan tambahan kandungan 9% S dan 2.000 ppm Zink tersebut memang unggul. “PHONSKA Plus terbukti mampu memperlebat buah, dan menjadikan buah bisa mencapai kategori grade A (grade tertinggi dalam pasar buah naga),” akunya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *