, , , , , ,

Peran TDS Meter dan EC Meter pada Budidaya Hidroponik

sahabatpetani.com.  Hal penting yang perlu diperhatikan dalam budidaya tanaman hidroponik adalah mengetahui berapa banyak nutrisi yang diperlukan oleh tanaman. Pembudidaya harus bisa mengukur padatan terlarut atau kepekatan nutrisi tanamannya, dengan menggunakan alat yang disebut TDS (total dissolved solid) Meter. Selain  untuk mengukur kepekatan larutan nutrisi tanaman hidroponik, TDS Meter juga bisa digunakan untuk mengukur padatan terlarut pada air minum. Tetapi TDS Meter mempunyai keterbatasan, alat ini tidak bisa mengetahui unsur apa saja yang terlarut. Hal tersebut disampaikan oleh Saeful Huda, pembudidaya sayuran hidroponik yang tinggal di Randuagung, Gresik.

“Satuan hasil pengukuran menggunakan TDS Meter adalah ppm (part per milion).  Masing-masing komoditas membutuhkan kepekatan larutan yang berbeda. Misalnya saja bayam  membutuhkan  1.260 – 1.610 ppm, pakcoy dan kangkung 1.050 – 1.400 ppm, sawi pahit 840 – 1.680 ppm,” terang Huda. Menurut alumnus Fakultas Pertanian UGM ini, ketika kepekatan larutan lebih tinggi dari cairan di dalam akar, bisa mengganggu membran akar. Akibatnya pertumbuhan tanaman bisa terhambat. Bahkan bisa menyebabkan kematian tanaman, ketika padatan yang terlarut banyak mengandung garam.

“Selain menggunakan TDS Meter,  pembudidaya hidroponik juga bisa menggunakan EC (electrical conductivity) Meter. Seperti halnya TDS Meter, EC Meter juga berfungsi untuk mengukur padatan larutan yang tidak terlihat, atau kepekatan nutrisi pada tanaman hiroponik,” ungkapnya. Huda menyampaikan, yang membedakan kedua alat tersebut adalah TDS Meter untuk mengukur jumlah partikel terlarut, sedangkan EC Meter untuk mengukur nilai konduktivitasnya. “Satuan pengukuran EC meter yaitu ms/cm (mili siemen/cm), atau (mmho/cm (mili hos/cm). Namun yang paling sering digunakan adalah ec saja seperti 1 ec atau 2 ec,” terangnya.

Huda mengungkapkan, cara menggunakan TDS Meter maupun EC Meter cukup mudah. Cukup dengan mencelupkan alat tersebut ke dalam cairan yang menjadi media hidroponik, selama 10 – 20 detik, hingga angka digital mencapai titik stabil. “Semula angka digital akan bergerak naik-turun, setelah beberapa detik angka tersebut menjadi stabil. Pada angka yang stabil itu lah kita akan mengetahui seberapa besar kepekatan larutan nutrisinya,” paparnya.

Ketika angka tersebut mengindikasikan kepekatan larutan tinggi, Huda menyarankan agar diberi cairan dengan ppm rendah. Bisa menggunakan air hujan, air demin, atau air mineral kemasan rendah ppm. “Sebaliknya ketika ppm-nya rendah, kita harus menambahkan nutrisi. Hal ini penting dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan nutrisi pada fase pertumbuhan dan umur tanaman,” jelasnya.

Huda juga menyampaikan, yang tidak kalah penting adalah pemilihan nutrisi yang diberikan. Sebab dengan menggunakan nutrisi yang berkualitas, pembudidaya akan memperoleh panen dengan kualitas bagus. “Untuk nutrisi, saya menggunakan Petroponic, yang diproduksi Petrokimia Gresik. Nutrisi ini mengandung unsur hara makro dan mikro lengkap. Petroponic bisa larut sempurna dalam air, dan mudah aplikasinya. Selain itu, Petroponic cocok untuk sayuran daun, ” ujar pembudidaya hidroponik sawi, kangkung, bayam, pakcoy dan kale itu. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *