, , , , , ,

Hadi Winarno Mengaplikasikan Pupuk Berkualitas untuk Tanaman Duriannya

sahabatpetani.com. Hadi Winarno (52) sudah sejak tahun 2008 membudidayakan durian di Desa Songgon, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Kecamatan di kaki Gunung Raung ini memang dikenal sebagai daerah penghasil durian. Akhir-akhir ini semakin banyak penikmat durian, yang datang langsung ke kebun buah durian di daerah berhawa sejuk ini. Mereka tidak hanya berasal dari Kabupaten Banyuwangi, tapi juga dari kabupaten-kabupaten lain di Jawa Timur dan Bali.

Ada berbagai varietas durian yang dibudidayakan oleh petani  Songgon, baik lokal maupun montong. “Di Songgon juga ada varietas durian merah, yang mulai populer sejak dipublikasikan lewat media sosial. Meskipun tidak semanis dan seharum durian lokal atau montong, durian dengan daging berwarna warna merah ini harganya mahal. Mungkin karena keunikannya,” ujar lelaki yang akrab dipanggil Win tersebut.

Terhitung sejak pertama kali menanam durian, suami dari Minaini ini sudah lima kali panen. Lelaki yang masih energik pada usia paruh baya itu  mempunyai 70 pohon durian. Pohon-pohon tersebut ditanam dengan jarak 8 x 8 meter, di atas lahan seluas 7.000 m2. “Daerah  sini memang cocoknya untuk menanam durian, selain manggis. Ada juga komoditas lain seperti buah naga dan pisang sebagai tanaman selingan,” jelasnya. Menurutnya  dia memilih menanam durian, mengingat kondisi tanah di lahannya tidak mempunyai irigasi. Selain itu karena buah ini banyak peminatnya, sehingga menjadi komoditas yang menguntungkan.

Menurut Win, kendala selama menanam durian adalah tidak menentunya cuaca. Ketika kemarau panjang, tanaman durian kekurangan pasokan air. Atau pada saat curah hujan tinggi dalam waktu relatif lama,  tanaman durian mendapatkan suplai air yang berlebihan. Kondisi ini menyebabkan terganggunya produksi buah. “Untuk perawatan sebenarnya tidak sulit. Hanya perlu ketelatenan dalam pemupukan, pembersihan lahan, dan pemangkasan tanaman secara rutin,” jelas bapak empat anak ini.

Untuk pemupukan,  jelas Win, dalam setahun idealnya dipupuk sebanyak dua kali. Saat akhir dan awal  musim hujan. Selain mengaplikasikan Petroganik untuk kesuburan tanah, sejak dua tahun terakhir ini dia mengaplikasikan NPK PHONSKA Plus. “Semenjak mengaplikasikan NPK dengan tambahan Sulfur dan Zink ini, bakal bunga menjadi lebih banyak. Prosentase bunga yang menjadi buah pun juga semakin tinggi. Buah durian menjadi lebih besar, aromanya lebih harum, dan rasanya lebih manis. Hal ini jika dibandingkan dengan ketika masih menggunakan NPK merk lain,” ungkapnya.

Win membeberkan, selama ini pemasaran buah durian cukup mudah. Setiap kali panen banyak pedagang yang langsung datang ke lahan untuk membeli. Mengenai harga yang fluktuatif, Win tidak menampik kenyataan tersebut. “Tetapi kan fluktuasinya tidak terlalu ektrim, paling hanya naik-turun sekitar Rp 5 ribuan lah. Jika turun segitu kami sebagai petani buah durian, ya masih untung,” ujarnya.

Selain menanam durian, Win juga menanam tanaman pangan dan cabai. Semua dipupuknya dengan Petroganik dan PHONSKA Plus. Hal  ini dilakukan karena dua pupuk tersebut terbukti mampu meningkatkan hasil panen. “Untuk tanaman cabai, pada saat olah lahan,  saya menebarkan Petro Cas (Petro Calcium Sulphate), untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Dengan Petroganik, Petro Cas dan PHONSKA Plus, hasilnya panennya luar biasa,” pungkasnya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *