, , , , , , ,

Taufik Muhlisin, Menjalin Hubungan Personal dengan Keluarga PPD Sangat Penting

sahabatpetani.com. Taufik Muhlisin (28) sejatinya ingin kuliah di pertanian setelah lulus dari SMKN Pertanian Bawen, Semarang. Tapi keinginannya dipendam dalam-dalam mengingat orang tuanya tidak mampu membiayai. Sejak masih duduk di bangku SMP, dia memang punya angan-angan  memajukan pertanian di desanya. “Saya melihat  lahan pertanian di tanah kelahiran saya cukup potensial. Tapi masih dikelola dengan cara tradisional, sehingga produksi panennya kurang begitu menggembirakan,” ujarnya.

Tidak bisa melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, tidak membuat Taufik patah arang. Lelaki hitam manis yang lahir dari keluarga petani di Desa Rejosari, Kecamatan Jambu, Semarang ini mencoba mencari pekerjaan. Dengan bekal ijasah pendidikan terakhirnya, dia melamar ke beberapa perusahaan. Tahun 2009, dua surat panggilan melayang ke rumah sederhananya. Yang satu dari toko swalayan dengan banyak cabang di Indonesia, dan satunya lagi dari Petrokimia Gresik.

“Saat itu saya bingung untuk memilih antara dua perusahaan tersebut. Apalagi  saya benar-benar buta tentang Petrokimia Gresik. Semula saya akan memenuhi panggilan dari toko swalayan yang memang saat itu mulai menjamur di Semarang,” ungkapnya. Di tengah kegalauannya, dia ketemu dengan Ragil Giali, salah satu tetua di desanya. Ragil menjelaskan bahwa Petrokimia Gresik adalah perusahaan besar yang mempunyai masa depan menjanjikan.

Taufik menerima masukan dari orang yang disegani di desanya itu, untuk mengikuti tes di Petrokimia Gresik. Setelah lolos tes tahap awal di Semarang, anak ke 2 dari 3 bersaudara ini harus mengukuti  tes berikutnya di Gresik. Sebagai bekal untuk ke Gresik, bapaknya menjual 10 kg biji kopi yang disimpannya sebagai tabungan keluarga. Dia berangkat dengan empat kawan sesama alumni SMK Pertanian Bawen. “Sesampai di Gresik, saya mendapatkan uang Rp. 400 ribu sebagai ganti ongkos transportasi. Saya luar biasa senang, sebab baru sekali ini memegang uang sebesar itu,” kenang suami dari Nuna Agustin Wumandari ini.

Dari empat kawan sesama alumni,  hanya tiga orang yang akhirnya lolos tes tahap akhir. Taufik sangat gembira, sebab sebentar lagi dia akan bekerja di perusahaan pupuk terlengkap di Indonesia. Setelah dua tahun, dia ditugaskan sebagai SPDP (Staf Perwakilan Daerah Penjualan). Selama delapan bulan, bapak dari Syafia Aurelia Najwa ini mendapat gemblengan untuk belajar tentang berbagai hal berkaitan dengan pupuk subsidi. Mulai dari mekanisme penyaluran hingga sistem pelaporan dan strategi peningkatan serapan.

“Selama delapan bulan saya magang di DIY, Kabupaten Sopeng, dan Kabupaten Madiun. Setelah itu saya ditempatkan menjadi SPDP Wilayah Jember, Lumajang, dan Probolinggo,” katanya. Taufik mengaku banyak belajar dari para seniornya, juga pada PPD (Petugas Perwakilan Daerah) di bawah koordinasinya. Dia tidak segan bertanya berbagai hal untuk terus meningkatkan kecakapannya sebagai staf penjualan. Usahanya tidak sia-sia, serapan beberapa produk, baik subsidi maupun non subsidi di wilayah kerjanya meningkat dengan signifikan. “Oh ya! Sebelumnya saya juga pernah mengampu wilayah Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, dan Pangandaran,” ujar anak dari pasangan Surandi dan Suwarsi ini.

“Tahun 2017 saya ditarget menjual Petroganik sebanyak 14.500 ton, realisasinya 100 % sebelum akhir tahun. Karena permintaan dari petani terus meningkat, kami melakukan koordinasi dengan dinas pertanian kabupaten dan provinsi.  Setelah disetujui, pada akhir tahun serapan Petroganik berhasil mencapai 17.792 ton,” paparnya. Demikian juga dengan penjualan  Petro Cas, yang ditarget oleh perusahannya sebesar 2.400 ton, dia bisa menjual 2.600 ton.

Selain itu, pada tahun yang sama Taufik dan timnya  juga berhasil menjual PHONSKA Plus sebanyak 2.066 ton, dari target 2.150 ton. NPK produksi Petrokimia Gresik yang mengandung 9 % Sulfur dan 2.000 ppm Zink tersebut, saat ini memang menjadi produk yang sedang dipacu penjualannya. Karena pupuk non subsidi dan harganya lebih mahal dibandingkan dengan pupuk subsidi, tentu saja strategi penjualannya berbeda. “Alhamdulillah, untuk PHONSKA Plus serapannya tertinggi nomor dua setelah Banyuwangi. Hal ini tidak lepas dari kerja keras dan cerdas rekan-rekan PPD di wilayah kami,” ujarnya merendah.

Keberhasilan Taufiq dan timnya dalam meningkatkan penjualan beberapa produk Petrokimia Gresik tidak menjadikannya  jumawa. Dia masih seperti dulu, menjadi pribadi bersahaja dan hangat. SPDP yang aktif menjalin komunikasi dengan awak media ini, juga ringan tangan membantu sesama. Menurut salah seorang seniornya, tidak jarang Taufiq merogoh uang pribadi untuk membantu PPD yang sedang membutuhkan biaya. “Menjalin Hubungan personal dengan PPD sangat penting, tidak jarang saya sekeluarga berkunjung ke rumah mereka. Bagaimana pun keberhasilan kami dalam menjual produk, tidak lepas dari peran mereka,” akunya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *