, , , , ,

Mohammad Ashari Pulang Kampung untuk Membudidayakan Jamur Tiram

sahabatpetani.com – Budidaya jamur tiram sebenarnya cukup mudah. Semua orang bisa membudidayakan, asal telaten dan tekun dalam merawatnya. Hal tersebut disampaikan oleh Mohammad Ashari (43), pembudidaya jamur tiram dari Kelurahan Magetan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Yang harus diperhatikan adalah proses pengapian untuk sterilisasi. Prosesnya harus benar-benar matang, jika tidak maka log (bibit) tidak bisa menghasilkan jamur. Luas ruangan yang dibutuhkan dalam membuat 1.000 log per hari, sekitar 3 x 5 meter. “Jadi tinggal dikalikan saja, kita akan memproduksi berapa log tiap harinya,” jelasnya. Sedangkan bahan-bahan  untuk membuat log  terdiri dari bekatul, dedak, kapur pertanian, dan serbuk gergaji.

Saat ini produksi log jamur tiramnya mencapai  8.000 log per hari. Tiap log bisa menghasilkan 5 hingga 7 ons jamur tiram. Semua aktivitasnya dilakukan di rumahnya, dengan dibantu oleh satu orang pekerja. Selain menjual jamur  basah (jamur yang baru dipanen), Ashari juga menjual ketika masih dalam bentuk log. Konsumen log yang diproduksinya dari beberapa kabupaten di Jawa Timur, seperti Sidoarjo, Ngawi, dan Magetan. Sedangkan untuk jamur basah, pemasarannya meliputi Magetan, Madiun, dan Ngawi.  “Saya juga memproduksi hasil olahan, berupa jamur krispi yang dipasarkan ke Magetan, Ngawi, Madiun, Malang, dan Bojonegoro,” ujarnya.

Ashari mulai membudidayakan jamur tiram sejak tahun 2013, ketika memutuskan pulang kampung setelah cukup lama merantau. Ketika masih bekerja di penggergajian kayu di Solo, dia melihat begitu banyak limbah serbuk gergaji yang menumpuk. Oleh pemilik usaha, serbuk gergaji itu dijual langsung tanpa diolah terlebih dulu. Saat itu suami dari Sulastri ini mulai berpikir, bagaimana caranya mengolah limbah industri kayu tersebut.  Agar produknya memiliki nilai jual yang  lebih tinggi.

“Ketika  memutuskan untuk pulang kampung dan keluar dari pekerjaan, mau tidak mau saya harus putar otak untuk membuat usaha agar dapur tetap ngebul,” kisahnya. Melihat salah satu kawannya melakukan usaha budidaya jamur, Ashari pun teringat pada limbah serbuk gergaji di tempat dia bekerja dulu. Sebab ternyata serbuk gergaji ternyata bisa digunakan sebagai medianya.  Maka bapak dua anak ini pun belajar pada temannya tersebut. Setelah dirasa menguasai, dia mulai melakukan usaha barunya itu.

Ilmu yang diperoleh dari temannya, digabungkan dengan pengetahuan yang didapat dari berbagai sumber, dijadikan bekal untuk memulai budidaya jamur tiram. Ashari juga melakukan beberapa inovasi agar hasil panen bisa lebih meningkat. Salah satunya adalah menggunakan pupuk organik produksi Petrokimia Gresik. Pupuk organik tersebut digunakan sebagai pengganti bekatul, salah satu campuran media untuk membuat log. Dari sisi biaya, pupuk organik ini lebih murah dibanding bekatul. Untuk membuat satu kwintal log, cukup dengan  13-15 kg pupuk organik. Hasilnya bisa mencapai 170-180 log. “Hasil panen jamurnya juga lebih bagus dan bisa tahan lama,” paparnya. (Rahman Hidayat)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *