, , , , ,

Akhmad Muadi, dari Kuli Panggul Hingga Jadi Pengusaha Cairan Fermentasi Mengkudu Kualitas Ekspor

sahabatpetani.com – Kemiskinan yang mendera orangtuanya, membuat Akhmad Muadi harus bekerja keras sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Bapaknya hanya seorang songkol (kuli panggul) di pasar. Untuk membiayai sekolahnya, Muadi harus membantu bapaknya. Lebih-lebih ketika dia lulus SD dan  hendak meneruskan ke SMP.

Setelah lulus SMP, lelaki yang lahir pada 13 Juni 1978 ini memutuskan untuk mandiri, dengan bekerja apa saja. Anak dari pasangan Wasio dan almarhum Musini ini pernah membantu temannya jualan baju, menjadi pesuruh di arena lomba adu cepat burung merpati, hingga bertani belimbing.

“Saya pernah menjadi ketua asosiasi petani buah belimbing di Jember. Posisi ini memungkinkan bertemu dengan banyak orang, termasuk Pak Christian. Dialah orang yang membukakan pintu usaha pembuatan fermentasi buah mengkudu,” kenangnya.

Semula Muadi membudidayakan buah mengkudu di lahan yang disewanya. Tapi usahanya tidak berjalan mulus. Buah mengkudu yang rencananya akan dikirim ke Surabaya, hampir semuanya busuk. Suami dari Zulfa ini menyadari, saat itu dia kurang begitu berpengalaman dalam membudidayakan buah mengkudu.

“Baru setelah hasil panennya bagus, Pak Christian menyarankan agar difermentasikan, untuk pasar ekspor,” ujarnya. Awalnya Muadi hanya mencoba memfermentasikan sebanyak 5 ton. Setelah dilakukan fermentasi selama 3 bulan, ternyata kepadatan pH-nya  di atas 7 dan berwarna hitam, kaliumnya juga tinggi. Hal ini menunjukkan proses fermentasinya berhasil, dan layak untuk diekspor.

Pada awalnya dia mendapat permintaan dari Christian sebanyak 10 kontainer, atau sekitar 25 ton cairan fermentasi mengkudu. Seiring dengan bertambahnya waktu, usahanya semakin maju. Saat ini dua negara yang menjadi tujuan ekspor produk tersebut. Untuk mengkudu yang proses fermentasinya  satu tahun diekspor ke Cina. Sedangkan yang proses fermentasinya dua tahun, dikirim ke Perancis.

 “Produksi cairan fermentasi mengkudu kualitas ekspor, mulai saya lakukan sejak tahun 2014. Untuk pengawasan, buyer mendatangkan tenaga ahlinya ke sini setiap menjelang dilakukan pengiriman. Saya hanya mengirim sampai di Pelabuhan Tanjung Perak. Untuk pengiriman ke Perancis dan Cina, dilakukan oleh buyer sendiri,” jelas Muadi.

Saat ini, selain memproduksi cairan fermentasi mengkudu, Muadi juga melayani mengkudu rajangan kering untuk diekspor ke Korea Selatan. Mengenai pemupukan, dia mengaku ada perbedaan perlakuan antara produk cairan fermentasi dan rajangan.

“Untuk produk cairan fermentasi,  saya dan petani binaan hanya memberikan pupuk organik. Sedangkan untuk yang rajangan, saya mengaplikasikan PHONSKA Plus,” bebernya di sela-sela keikutsertannya pada acara Gebyar PHONSKA Plus di Kecamatan Umbulsari, Jember.

Muadi menuturkan, PHONSKA Plus diaplikasikan sebelum mengkudu mulai berbunga. Hasilnya, bunga tidak mudah rontok, sehingga buah menjadi lebih rimbun dan panen meningkat,” terangnya.

Untuk mendukung pasokan mengkudu, Muadi bekerjasama dengan 32 petani binaan. Total luas lahan yang mereka garap tidak kurang dari 30 hektar. Itupun masih belum memenuhi jumlah mengkudu yang dibutuhkan. Lebih-lebih semakin banyaknya permintaan mengkudu rajangan dari Korea Selatan.

Untuk mengatasinya Muadi merangkul penduduk sekitar, untuk dijadikan sebagai pencari buah mengkudu. Hingga saat ini ada 277 orang yang rutin menyetor buah mengkudu ke perusahaannya.

Belakangan Muadi tidak hanya melayani ekspor, produk cairan fermentasi mengkudunya juga dipasarkan untuk pasar dalam negeri. “Cairan fermentasi mengkudu sangat banyak manfaatnya. Selain untuk pencegahan, juga terbukti bisa menyembuhkan beberapa penyakit. Diantaranya adalah jantung, maag, hipertensi, kanker, tumor, dan diabetes,” jelasnya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *