, , ,

Usahatani Lebih Efektif dan Efisien dengan GPS

sahabatpetani.com – Sejak dikembangkan oleh angkatan bersenjata Amerika Serikat (AS), dan diijinkan untuk tujuan non militer sejak tahun 2000, Global Positioning System (GPS) semakin banyak digunakan untuk berbagai kepentingan. Dalam dunia pertanian, GPS banyak membantu petani dalam menabur benih dan pupuk, serta penyemprotan herbisida dan pestisida. Utamanya pada pertanian di lahan yang luas, di mana dibutuhkan ketepatan pada saat proses pemeliharaan agar  menjadi lebih efektif dan efisien.

Ketepatan dalam aktivitas budidaya sangat penting, sebab akan berpengaruh pada produksi panen. Mulai dari penanaman, pemberian pupuk, pemberantasan hama, sampai dengan pemanenan. Dengan menggunakan GPS,  penanaman, pemupukan, dan penyemprotan herbisida dan pestisida akan lebih akurat. Hal ini untuk menghindari  penyemprotan ulang pada lokasi yang sama.

Seperti yang sudah dilakukan oleh  Tate Von Eye, petani kedelai dari South Dakota.  Dia merupakan salah satu petani di AS yang sudah memanfaatkan GPS untuk menggarap lahannya. Lewat sebuah layar monitor, Tate Von Eye dapat mengetahui bahwa posisi traktornya sudah pada posisi yang tepat.

“Sekali jalan, traktor mampu menyemprot lahan selebar 30 m2. Dengan monitor yang menunjukkan sinyal dari satelit itu, saya dapat melakukan penyemprotan dengan sangat tepat, tanpa ada lahan yang terlewat. Selain itu,  tidak ada lahan yang tersemprot dua kali,  sehingga bisa menghindari pemborosan herbisida,” ujarnya.

Dengan GPS, para petani seperti Tate Von Eye tidak harus menandai mana area yang sudah ataupun yang belum disemprot. Mereka cukup melihat jalur virtual yang tertera di GPS.  Alat untuk menentukan tempat di bumi dengan bantuan satelit ini, selain bisa dipasang di traktor, juga di alat mesin pertanian lainnya. Saat ini GPS memiliki resolusi yang cukup baik. Untuk yang navigasi sekitar 10-20 m, differential GPS (dGPS)  2-5 m, sedangkan yang real time (RTK) GPS bisa sampai 5 cm.

GPS menjadikan Tate Von Eye dapat melakukan penyemprotan herbisida dengan toleransi 20 sentimeter. Dengan tingkat akurasi tersebut,  menurutnya, dapat menghemat kira-kira     5 % herbisida. “Saya bisa berhemat setiap kali menggunakan traktor yang dilengkapi GPS, baik untuk menabur benih, atau menabur pupuk. Dengan penghematan ini, uang pembelian sistem GPS akan kembali dalam waktu dua tahun,” akunya.

Ketepatan dalam aktivitas budidaya dengan menggunakan GPS tentu saja membutuhkan biaya mahal. Tapi bukan tidak mungkin diaplikasikan di Indonesia. Mengingat semakin banyak petani yang memiliki telepon cerdas (smartphone), yang sudah dilengkapi dengan GPS. Dengan biaya relatif murah, teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi pertanian.

Penelitian yang dilakukan oleh Guan et al (2006) menyebutkan, GPS yang ada di dalam telepon cerdas dapat digunakan untuk membantu para petani  mengelola lahannya. Telepon cerdas diintegrasikan dengan pusat data melalui internet, sehingga petani dapat memasukkan data langsung dari lahan mereka. Dari sini kemudian data-data tersebut  diolah di pusat data.

Hasil penelitian Guan juga menyebutkan, standard deviasi dari error GPS sebesar 14,6 m dan diperlukan 1-2 menit untuk proses perekaman data melalui telepon selular. Hal ini dimaklumi mengingat kekuatan GPS pada telepon seluler,  masih standard serta kecepatan internet yang terbatas. Akan tetapi untuk data-data yang tidak memerlukan tingkat presisi koordinat yang tinggi, GPS pada telepon cerdas layak dijadikan pilihan.

Data-data yang dapat diperbarui secara otomatis meliputi; cuaca, persil tanah yang sedang di kerjakan, koordinat secara umum, elevasi, dan tanggal/jam. Sedangkan data-data lain yang bisa diinputkan secara manual berupa jenis pekerjaan, jenis pupuk, tanaman, dan jumlah pekerja. Semua data ini tentunya sangat membantu bagi petani dalam mengelola lahan mereka secara efektif dan efisien. (SP)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *