, , , , ,

Boimin, dari Buruh Panggul di Banyuwangi Menjadi Petani Horti Sukses di Sigi

sahabatpetani.com – Kesuksesan Boimin sebagai petani hortikultura tidak diraih dalam semalam. Butuh waktu belasan tahun untuk menjadikan dirinya seperti saat ini. Dengan berbekal pendidikan pas-pasan, jejak kehidupan lelaki kelahiran Banyuwangi 5 Juni 1966 ini dimulai dari buruh panggul di desanya. Pekerjaan tersebut dilakoninya hingga dua tahun sejak berumah tangga. Setelah  temannya yang bekerja di perusahaan benih mengajari bertani, Boimin mulai tertarik untuk melakukan budidaya.

“Pertama kali belajar bertani, saya menanam cabai di lahan milik orang tua seluas seperempat hektar. Panen pertama tidak begitu menggembirakan, ya maklum saja, namanya juga baru belajar,” ujarnya. Tapi bapak dua anak ini tidak menyerah, dia terus mencoba dan mencoba lagi. Hinggga akhirnya Boimin mulai memahami bagaimana cara menanam cabai agar hasil panennya optimal.

Setelah beberapa kali panen dengan hasil menggembirakan, Boimin mendapat informasi dari temannya tentang banyaknya lahan potensial di Sulawesi Tengah. Lelaki yang suka tantangan ini pun mulai mencoba untuk mengadu nasib di tanah rantau. Ketika informasi yang diterima tentang tanah harapan itu dirasa cukup, Boimin, istri dan salah satu anaknya pergi ke Sulawesi Tengah. Tujuannya adalah Desa Jonoge, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi.

“Di Jonoge saya menyewa lahan seluas 7 ribu meter persegi. Lahan tersebut saya tanami berbagai komoditas hortikultura, seperti semangka, cabai, dan kacang panjang. Saya sisakan sepetak untuk mendirikan gubug buat rumah tinggal,” kenangnya. Dengan keuletannya, dari berumah gubug kecil di lahan sewa, Boimin mampu membeli rumah dengan halaman yang cukup luas, pada tahun 2012.

Disusul dua  tahun kemudian, lelaki rendah hati ini  bisa membeli tanah garapan dengan total luas 2 hektar. “Tadinya saya hanya mampu beli setengah hektar, setelah uang terkumpul, beli lagi satu hektar, dan belakangan saya nambah lagi setengah hektar,” paparnya. Lahan seluas itu ditanaminya belimbing dan tomat. “Untuk lahan sewa, luas saat ini mencapai hampir satu hektar. Semuanya saya tanami semangka, labu madu, dan kacang panjang sebagai tanaman pagar,” jelasnya.

Semangka yang ditanam di lahan sewa, adalah semangka tanpa biji. Rencananya komoditas tersebut akan dipanen sekitar sehari lagi. Menurut Boimin, berat satu buah semangka di lahannya berkisar antara 6 hingga 7 kilogram. “Bahkan ada beberapa yang bisa mencapai 10 kilogram per buah,  rasanya juga manis. Di pasaran tentu saja harganya lebih tinggi,” akunya.

Agar semangka tumbuh menjadi subur dan menghasilkan buah yang lebat, besar dan rasanya manis, Boimin menekankan pentingnya pemupukan. Dia mengaku mengaplikasikan PHONSKA Plus, NPK produksi Petrokimia Gresik dengan tambahan Sulfur dan Zink. “Dengan PHONSKA Plus efeknya mulai terlihat sejak semangka berumur 20 hari. Ditandai dengan cepatnya pertumbuhan cabang-cabang yang menjalar. “Bunganya juga semakin banyak dan tidak mudah rontok, sehingga banyak yang berhasil menjadi buah hingga menjelang panen,” katanya.

Petani horti yang baru saja membeli mobil MPV keluaran terbaru ini juga heran dengan PHONSKA Plus. Pupuk NPK ini harganya lebih murah dibanding pupuk sejenis yang impor, tapi hasilnya relatif sama. “Dengan PHONSKA Plus, selain panennya bisa meningkat dari 20 ton menjadi 25 ton per hektar, biaya produksinya juga bisa berhemat, Hal ini jika dibandingkan jika menggunakan NPK impor. Sehingga untungnya juga lebih banyak,” pungkasnya sambil tersenyum. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *