, , ,

Mengurangi Impor, Menggairahkan Budidaya Bawang Putih Lokal

sahabatpetani.com – Pemerintah Indonesia menargetkan swasembada bawang putih pada tahun 2019, dengan luasan lahan 26.650 hektar. Hal ini dimaksudkan karena ketergantungan impor bawang putih mencapai 96 persen dari total kebutuhan per tahunnya. Impor bawang putih sebenarnya sudah dimulai sejak akhir tahun 90’an, ketika kran impor dibuka oleh pemerintah saat itu. Dengan masuknya bawang putih impor, produksi bawang putih lokal semakin tergerus.

Menurut Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Spudnik Sujono, pemerintah telah membebaskan impor bawang putih sejak tahun 1998 lalu.   “Bawang putih sejak tahun 1998 dilepas dan jadi RIPH (Rekomendasi Impor Produk Hortikultura) sejak 2013, sampai hari ini impor bawang putih tidak diatur,” ungkap Spudnik.

Padahal sebelum dibukanya kran impor, petani lokal telah mampu memenuhi hingga 70% kebutuhan bawang putih di dalam negeri. “Tahun 1998 dan 1999 kita memang tidak bisa memenuhi seluruhnya, tapi sudah 60%-70%. Tapi begitu impor dibuka, impor terus dan turun produksi dalam negeri. Sampai saat ini dari 500 ribu ton kebutuhan, kita hanya memenuhi 4 persen atau 20 ribu ton,” terangnya.  (detikFinance,19/5/2017).

Keengganan petani untuk menanam bawang putih karena harganya tidak bisa bersaing dengan bawang putih impor. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Utama Pertani (Persero) Wahyu. “Bawang putih impor faktanya lebih murah, kalau itu (impor) diteruskan maka bawang putih itu tinggal nama, bahwa petani Indonesia pernah menanam bawang putih. Itu kan yang di khawatirkan,” kata Wahyu (Liputan 6,19/5/2017).

Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Indonedia melalui Kementerian Pertanian meminta importir untuk ikut menanam bawang putih di Indonesia. Namun saat ini menurut Spudnik Sujono, luasan yang sudah ditanami bawang putih baru sekitar 12.000 hektar. “Mulai tahun 2018 sudah diberlakukan jika importir bawang putih wajib menanam 5 persen dari kuota yang diminta,” ucapnya.  (Kompas, 22/2/2018)

Menurut Spudnik, untuk memenuhi kebutuhan bawang putih, saat ini Indonesia masih mengimpor dari China, Mesir, India, Filipina, Thailand, hingga Taiwan.  Agar target kita bisa swasembada bawang putih terpenuhi, kita minta agar importir menanam bawang putih seperti yang dilakukan di Banyuwangi.

“Ada 145 hektar lahan yang dijadikan kawasan bawang putih dan menghasilan 4.000 ton per tahun di Banyuwangi,” jelasnya. Hal yang sama juga sudah dikembangkan di Sembalun – Lombok Timur NTB, Temanggung – Jawa Tengah, Magelang, Tegal dan Karanganyar – Jawa Tengah, serta di Solok – Sumatera Barat.

Spudnik menyebutkan, Banyuwangi akan dijadikan cikal bakal kawasan baru pengembangan sentra bawang putih.  Karena selain lahannya subur, juga memiliki kadar garam yang tinggi sebagai pupuk mikro yang berasal dari laut dan juga gunung berapi. (SP)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *