, , , , , ,

Hery Widyatmoko, Direktur Utama PT Petrosida Gresik; “Waspadai Serangan Ulat Grayak pada Bawang Merah”

sahabatpetani.com – Ada beberapa komoditas yang dibudidayakan petani pada saat musim kemarau, salah satunya adalah bawang merah. Hal ini disebabkan karena tanaman bawang merah tidak tahan terhadap curah hujan yang lebat. Tanaman dengan bunga majemuk berbentuk tandan ini membutuhkan kondisi tanah dengan air yang tidak menggenang. Oleh karena itu pada lahan yang sering tergenang atau daerah lahan yang becek, harus dibuat saluran pembuangan air  yang baik.

Pada dasarnya budidaya bawang merah tidak begitu sulit, hanya saja butuh pengetahuan yang memadai, dan ketelatenan agar menghasilkan panen yang optimal. Pengetahuan tersebut meliputi pengolahan lahan, pemeliharaan, hingga pemanenan. Pada masa pemeliharaan hal penting yang harus diperhatikan, selain pemupukan, adalah mewaspadai serangan hama dan penyakit.

Hama yang sering menyerang tanaman bawang merah adalah ulat grayak (Spodoptera exigua). Selain bawang merah, serangan ulat grayak juga menyasar  cabai dan kedelai. Menurut Direktur Utama PT Petrosida Gresik, Hery Widyatmoko, serangan hama ini berlangsung dengan sangat cepat. Dalam sehari daun bawang merah bisa habis digerogoti gerombolan ulat grayak, hingga hanya tersisa epidermisnya saja

“Ketika bawang merah sudah tidak berdaun lagi, maka proses fotosintesis akan terganggu. Hal ini berakibat pada  penurunan produktivitas. Bahkan lebih parah lagi, bawang merah akan mati,” jelas Hery.

Lelaki yang lahir pada 30 Juni ini menyampaikan, bawang merah yang diserang ulat grayak, ditunjukkan dengan adanya bercak berwarna putih transparan pada bagian daunnya. Ketika menyerang, telur yang telah menetas menjadi larva masuk ke dalam daun dengan jalan melubangi ujung daun. Ulat grayak kemudian menggerek permukaan bagian dalam daun, hingga hanya menyisakan epidermis luar daun. Jika hal ini dibiarkan, maka daun akan menjadi kering.

Hery mengatakan  ulat grayak merupakan hama nocturnal, yang aktif di malam hari dan akan bersembunyi pada siang hari.  Untuk menangulangi serangan ulat grayak yang bekerja pada malam hari, petani bisa mengunakan lampu perangkap imago (light trap).  Lampu perangkap ini hanya menggunakan alat sederhana, berupa lampu dan baskom berisi air.

“Atau bisa juga dengan pola tanam berseling, di mana petani tidak menanam bawang merah terus-menerus di lahan yang sama. Karena populasi ulat grayak dapat dikendalikan dan dikurangi apabila melakukan pergantian jenis tanaman dalam satu lahan. Hal ini untuk memutus siklus hidup ulat grayak tersebut,” papar Hery

Jika serangan ulat grayak sudah terjadi dan tidak bisa dicegah, Hery menganjurkan untuk mengaplikasikan insektisida. Hal ini untuk menghindari agar petani tidak menderita kerugian, dan masih bisa panen dengan hasil yang tetap optimal. Meskipun demikian,  petani harus memahami insektisida yang tepat untuk menanggulangi serangan ulat grayak.

Saat ini ada banyak insektisida untuk ulat grayak yang diproduksi oleh beberapa formulator, baik produksi dalam negeri maupun impor. Salah satu yang diproduksi oleh formulator dalam negeri adalah Sidasat 75 SP. Insektisida dengan bahan aktif Asefat 75 % ini merupakan insektisida sistemik yang diproduksi oleh PT Petrosida Gresik. “ Sidasat 75 SP berbentuk tepung dan berwarna putih, yang dapat dilarutkan dalam air. Insektisida ini sangat efektif untuk mengendalikan serangan ulat grayak pada bawang merah,” terang Hery.

Lebih lanjut penghobi sepeda gunung dan golf ini memaparkan, agar lebih efektif dalam menanggulangi ulat grayak, dianjurkan untuk mencampur Sidasat dengan Emazo 75 EC. Insektisida yang bersifat racun kontak dan lambung dengan bahan aktif emamektin benzoat 75 g/l ini, berbentuk pekatan yang bisa diemulsikan.

“Agar lebih kuat lagi, untuk meningkatkan daya tembus serta kelengketan insektisida pada tanaman atau hama, bisa ditambahkan dengan Mixsida 400 EC. Aplikasi kombinasi ini diharapkan akan meningkatkan daya basmi terhadap ulat grayak,” kata Hery.

Meskipun  mampu mengendalikan ulat grayak, jelas Hery, aplikasi berbagai insektisida harus tetap memperhatikan kaidah 5 tepat (tepat jenis, dosis, waktu, cara aplikasi, dan sasaran). Hal ini dilakukan untuk menjamin efektivitas insektisida, dan untuk menghindari terjadinya pemborosan atau pun resistensi.

“Yang harus diperhatikan oleh petani dalam mengaplikasikan insektisida, selain kaidah 5 tepat, adalah petunjuk pengaplikasian yang tertera dalam kemasan. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada saat pagi hari, dan berakhir ketika matahari terbit. Bisa juga disemprotkan pada sore saat matahari tenggelam, atau  malam hari. Penyemprotan hendaknya mengikuti arah angin,” pungkasnya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *