, , , , ,

Potensi Budidaya Jahe, Disukai di Dalam Negeri Diminati Pasar Eropa

sahabatpetani.com – Jahe, siapa tidak kenal tanaman yang  pedas rimpangnya sangat akrab dengan lidah manusia itu. Jahe merupakan tanaman rumpun berbatang semu yang diperkirakan berasal dari India dan Cina,  kemudian tersebar ke Jepang, Timur Tengah dan Asia Tenggara.

Pada abad-abad kolonialisme, jahe menjadi komoditas yang cukup populer, dan banyak diperdagangkan di Eropa. Hal ini karena rasa pedas dan hangat tanaman dengan nama latin Zingiber officinale itu,  cocok untuk dikonsumsi masyarakat benua biru yang dingin.

Hampir semua daerah di Indonesia mengenal jahe, mulai dari Aceh hingga Papua. Masyarakat Aceh menyebutnya halia dan beeuing, orang Batak Karo mengenalnya sebagai bahing, orang Minangkabau menamakannya sipodeh. Penduduk Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali, menyebutnya  jae. Di Lampung, Madura, Gorontalo, dan Ternate, masing-masing menamakannya;  jahi, jha, melito, dan geraka.

Rasa pedas dan hangat   jahe disebabkan oleh senyawa aktif yang disebut dengan gingerol. Menurut Dr Raymond R Tjandrawinata, PhD, Direktur Eksekutif Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS), ada beberapa senyawa aktif dalam jahe yang bermanfaat untuk kesehatan.

“Ada gingerol, shogaol, hexahydrocurcumin dan masih banyak lagi. Rata-rata fungsinya untuk menghangatkan tubuh dan ada juga yang sebagai anti inflamasi,” tutur Raymond, seperti dikutip dari  detikHealth (28/1/2016). Gingerol, lanjut Raymond,  biasanya terkandung dalam bentuk minyak berwarna kekuningan yang muncul ketika jahe diperas atau ditumbuk.

Dari studi yang diterbitkan oleh National Center for Biotechnology Information, US National Library of Medicine dan National Institutes of Health, disebutkan bahwa  gingerol terbukti memiliki berbagai manfaat. Selain sebagai zat anti-inflamasi, gingerol juga terbukti memiliki sifat antioksidan yang baik. Tapi jahe yang dimasak akan mengurangi kandungan gingerol. Gingerol yang tersisa akan berubah menjadi zingerone dan kehilangan rasa pedasnya.

Jahe juga berkhasiat mengatasi infeksi bakteri, infeksi jamur, gangguan lambung, bahkan tumor. Dengan kandungan antioksidan yang dimilikinya, jahe juga dapat mengurangi resiko penyakit kanker, dan menghambat pertumbuhan kuman pada tubuh. Selain itu tanaman ini juga mengandung antikoagulan (anti pembekuan darah), yang lebih berkhasiat daripada bawang putih.

Sebagai bumbu masakan, jahe memberi aroma berbagai masakan Nusantara. Ada berbagai masakan yang menggunakan jahe, sebut saja misalnya tumisan, semur, dan masakan berkuah lainnya. Rimpang jahe bisa diolah menjadi jus, sirup, roti, asinan, acar, manisan, dan permen. Ekstrak jahe dalam bentuk kapsul sudah banyak  dijual di apotik maupun toko obat.

Di Indonesia ada tiga jenis jahe yang dibudidayakan oleh petani, yaitu; jahe kecil atau jahe emprit, jahe besar atau jahe gajah, dan jahe merah. Masing-masing jenis jahe tersebut mempunyai bentuk, warna dan tingkat kepedasan yang berbeda.

Jahe kecil atau jahe emprit mempunyai rimpang sedikit  lebih besar dari jahe merah. Rimpangnya berbentuk agak pipih, berwarna putih, seratnya lembut dan aromanya tidak tajam. Jahe kecil digunakan sebagai bahan baku minuman, rempah-rempah dan penyedap makanan.

Jahe besar atau jahe gajah, (ada yang menyebut jahe badag) memiliki ukuran yang besar dan gemuk. Ruas rimpangnya jauh lebih menggembung dibanding jenis jahe lainnya. Warna dagingnya cenderung putih kekuningan, sehingga beberapa orang menyebut jahe kuning.

Sedangkan jahe merah, sesuai dengan namanya, rimpang jahe ini didominasi warna merah. Jahe merah mempunyai ukuran rimpang yang paling kecil di antara jahe kecil dan jahe gajah. Meskipun bentuknya paling kecil, daging jahe merah mempunyai tingkat kepedasan paling tinggi.

Selama ini permintaan jahe di pasar internasional, utamanya negara-negara di Eropa cukup tinggi. Ketua Asosiasi Petani Jahe Organik (Astajo) Kabul Indarto mengatakan, permintaan jahe merah hingga tahun 2016 mencapai 4 ton per pekan, jahe emprit 10 ton per pekan, sedangkan jahe gajah bisa lebih dari 20 ton per pekan.

“Umumnya pasar ekspor lebih mengutamakan jahe gajah ketimbang jahe lainnya. Permintaan jahe gajah sangat tinggi di Belanda sebagai bahan baku minuman,” ujar Kabul seperti dikutip dari  KONTAN (11/5/2016).

Selain dikonsumsi, ternyata Belanda adalah negara pengepul jahe gajah di Uni Eropa. Menurut Kabul, Belanda juga menjual lagi jahe gajah ini ke beberapa negara Eropa lainnya dengan harga tinggi.  Hanya saja peluang besar di pasar Eropa  belum bisa dimaksimalkan oleh petani di Indonesia.

“Selain produksi yang tak mencukupi, petani juga tak mampu menjual langsung ke Eropa. Karena pembeli di Eropa juga mensyaratkan kemasan khusus dan juga kualitas jahe yang baik. Alhasil, pasar ekspor jahe ke Eropa saat ini dipegang oleh China dan Thailand,” papar Kabul. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *