, , ,

Shofyan Adi Cahyono, Menularkan Virus Bertani Kepada Anak Muda di Desanya

sahabatpetani.com – “Saya lahir dan tumbuh besar dari keluarga petani. Mulai leluhur hingga bapak saya, tidak ada yang mempunyai profesi selain bertani. Bapak berharap saya menjadi sarjana pertanian, agar generasi berikutnya menjadi petani yang lebih terdidik,” kata Shofyan Adi Cahyono.

Anak tunggal pasangan Suwadi dan Suyanti ini sudah sejak dini dikenalkan oleh orang tuanya pada dunia pertanian. Bahkan sejak sebelum masuk sekolah dasar, dia sering di ajak ke ladang. Bagi Shofyan kecil, ladang milik orang tuanya tersebut menjadi arena bermain yang mengasikkan.

“Selama kuliah di fakultas pertanian, saya menikmati materi-materi yang diajarkan. Kendalanya hanya satu, biaya kuliah. Pada semester awal, Alhamdulillah saya mendapat beasiswa. Tapi semester berikutnya saya harus mencari terobosan lain,” kisahnya.

Dengan dukungan Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan Fakultas Pertanian dan Bisnis UKSW, Shofyan membentuk unit usaha Sayur Organik Merbabu (SOM). Melalui SOM, Shofyan membenahi usaha budidaya sayur organik yang dirintis orang tuanya sejak tahun 2007.

“Tahun 2013 sudah mulai marak jual-beli  online, saya pun memanfaatkan momen tersebut. Dengan berdagang secara online, ternyata pasarnya tidak hanya menembus batas kabupaten, tapi juga melewati batas provinsi, bahkan lintas negara,” terang lajang kelahiran 20 Juli 1995 ini. Berkat usaha tersebut kuliahnya bisa diselesaikan,  hingga meraih gelar sarjana pertanian pada  tahun 2017.

Setelah lulus kuliah, usahanya semakin berkembang. Dari yang semula pasarnya hanya sekitar Salatiga, merambah ke seluruh kota besar di Jawa, Bahkan akhir-akhir ini memasuki pasar Kalimantan dan Malaysia.

“Ketika pasar sudah mulai terbentuk, tahun 2015 saya mendirikan kelompok petani “Citra Muda”. Anggotanya anak-anak muda dari keluarga petani. Hal ini saya lakukan karena prihatin, melihat  mayoritas petani aktif  berumur di atas 45 tahun. Sedangkan anak-anak mudanya tidak banyak yang tertarik menjadi petani,” akunya.

Saat ini anggota Citra Muda  mencapai 20 petani. Mereka diajari bercocok tanam, membuat pupuk dan pestisida organik, serta diajari strategi menjual hasil pertanian. Mereka mengelola lahan seluas 9 hektar yang ditanami berbagai sayuran. “Lahan yang saya kelola sendiri  hanya 1,5 hektar,” terang Shofyan.

Hingga saat ini komoditas yang ditanam meliputi 40 jenis sayuran. Dari jenis sayur daun, sayur buah, sayur bunga, sayur polong, dan sayur umbi. Seperti misalnya sawi sendok, berbagai jenis selada, kale, berbagai jenis tomat, kol ungu, dan labu jepang (kabocha).

Shofyan mengungkapkan, pasar sayur organik yang dikelolanya dari kalangan menengah ke bawah. Hal ini mematahkan mitos yang mengatakan bahwa sayur jenis ini hanya mampu dibeli oleh kalangan atas, karena harganya mahal.

“Memang harganya 30 % lebih mahal dibanding sayur non organik, tapi itu yang grade 1. Sedangkan yang grade 2, harganya bisa sama (dengan sayur non organik). Bahkan ketika sayur non organik jenis tertentu langka, harga yang grade 2 bisa lebih murah lagi,” paparnya.

Shofyan optimis, ke depannya profesi petani semakin menjanjikan. Mengingat semakin berkurangnya lahan pertanian, sedangkan jumlah manusia terus meningkat. Hal ini menyebabkan  supply dan demand  pangan menjadi tidak seimbang.

“Saya berharap kepada anak-anak muda, utamanya yang dari keluarga petani, agar tidak memandang sebelah mata. Kelak akan semakin banyak peluang usaha di bidang pertanian,” ujar mahasiswa semester dua magister pertanian ini. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *