, ,

Menghirup Kopi Luwak di Kaki Gunung Sindoro

sahabatpetani.com – Jika kita melaju dari Temanggung ke arah Wonosobo, setelah melewati Jembatan Sigandul yang eksotik itu, akan terlihat bangunan dengan arsitektur Jawa yang kental. Kompleks bangunan di atas tanah seluas 2.300 m2 tersebut terdiri dari beberapa lokal. Dua di antaranya merupakan rumah limas kuno, terlihat dari ornamen luar dan soko guru (tiang utama)  kokoh yang menyangga atapnya.

Begitu memasuki pintu depan bangunan utama  yang terletak di bagian paling depan, aroma harum kopi langsung menyeruak. Suara coffe grinder terdengar di pojok belakang sebelah kiri, ditingkah denting sendok yang beradu dengan cangkir. Pada beberapa meja antik yang tersebar di ruangan 10 x 10 meter itu, terlihat pengunjung menghirup kopi sambil bercengkerama.

Matahari sudah hampir di atas kepala, tapi udara masih terasa sejuk. Dari sisi kanan, anak muda tinggi besar langsung menyambut kami dengan hangat. Dia memperkenalkan diri sebagai pemiliknya, namanya Ardhi Wiji Utomo.

“Warung kopi ini mulai beroperasi sejak tahun 2009, dibangun secara bertahap. Saya namakan Warung Gunung Sigandul, karena letaknya di lereng Gunung Sindoro, dan berdekatan dengan Jembatan Sigandul,” katanya membuka perbincangan.

Warung yang terletak di desaTlahap, kecamatan Kledung, Temanggung  ini, menyediakan beragam sajian kopi. Tapi yang menjadi andalannya, menurut Ardhi,  adalah kopi luwak. Biji kopi luwak sebagai bahan dasarnya  tidak berasal dari luwak liar di hutan, tapi  luwak yang sudah ditangkarkan.

“Aroma dan cita rasanya tidak jauh berbeda. Kandungan acid (asam) juga sama-sama rendah. Sebab ketika buah kopi masuk ke dalam perut luwak, enzim di dalam perut luwak menekan kadar acid pada biji kopi,” ujar salah satu barista yang cukup dikenal di Temanggung  ini.

Ardhi Wiji Utomo, pemilik Warung Gunung Sigandul (foto: Dadang S)

Suami dari Retno Ambarwati itu mengatakan, buah kopi yang diberikan ke luwak adalah jenis arabika yang benar-benar sudah masak. “Jadi buah kopi yang sudah siap panen, warnanya merah. Kami biasa menyebutnya cherry. Hal ini membuat aroma kopi menjadi lebih wangi. Karena kandungan acidnya rendah, aman buat penderita maag,” papar lelaki kelahiran 26 Juli 1982 itu.

Makanan yang diberikan ke luwak, kata Ardhi,  tidak jauh beda  dengan yang dikonsumsi oleh luwak liar. Selain buah kopi, juga diberi makanan selang seperti pisang dan ayam atau ikan. Pada saat menjelang produksi diberi asupan susu.

“Kenapa kami berikan susu, karena luwak butuh kalsium yang tinggi. Jika kalsium tidak terpenuhi, luwak akan makan bulunya sendiri, sehingga berakibat kematian. Hal itu yang menyebabkan petani kopi luwak di Temanggung sering kali gagal,” jelas bapak satu anak ini.

Harga secangkir kopi luwak di warung ini terbilang cukup mahal, dibandrol     Rp. 45 ribu. Mahalnya harga kopi luwak, menurut Ardhi, di samping karena prosesnya relatif rumit, biaya produksinya juga mahal. Selain itu, dari 20 kg buah kopi petik merah hanya menjadi 8 ons bubuk kopi luwak. “Harga per kilogram bubuknya  mencapai Rp. 2,5 juta,” katanya.

Proses penyajian kopi luwak (foto: Dadang S)

Kopi luwak hanya disajikan dalam bentuk kopi tubruk saja, metodenya saja yang berbeda-beda, mulai dari vietrnam drip, syphon, V60, french press, atau dengan mocca pot. “Tapi khusus untuk metode mocca pot tidak kami jadikan espresso, karena suhuhya terlalu tinggi dan tekanannya minimal 9 bar,” terangnya.

Ardhi juga menjelaskan, buah kopi arabika sebagai bahan dasar kopi luwak, hanya panen selama 4 bulan dalam satu tahun. Sehingga dalam kurun waktu tersebut dia harus mengumpulkan sebanyak-banyaknya untuk kebutuhan selama setahun.

Buah kopi arabika  tersebut dibelinya dari petani kopi di Temanggung. Agar memenuhi standar kopi luwak yang benar-benar berkualitas, Ardhi mensyaratkan kopi yang dibelinya harus yang petik merah.

“Untuk buah kopi yang benar-benar masak dan siap panen itu, tentu saja saya beli dengan harga yang mahal,”  tegas alumnus fakultas ekonomi PTS di Magelang. Mahalnya harga kopi luwak di warung kopi milik Ardhi sepadan dengan aroma dan cita rasanya. Apalagi diminum sambil menikmati sejuknya semilir angin dan indahnya Gunung Sindoro. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *