, ,

Kunci Keberhasilan Tuhar, Menjalin Ikatan Emosional dengan Komoditas yang Ditanamnya

sahabatpetani.com – Di Temanggung, komoditas nomor satu adalah tembakau. Tapi dengan adanya bantuan bibit kopi tahun 2000, mulai ada petani tembakau yang mencoba menanam kopi. Salah satunya adalah Tuhar. Pada awalnya banyak bibit kopi bantuan tersebut yang dibuang begitu saja oleh petani. Alasan mereka, tidak percaya kopi bisa tumbuh di Temanggung.

“Tapi saya tidak menyia-nyiakan (bibit bantuan itu), saya terus mencoba untuk menanamnya. Panen pertama kali tahun 2003, hasilnya masih belum menggembirakan.” kenang petani yang tinggal di desa Lahab, kecamatan Kledung ini.

Di samping itu, hasil panennya masih belum ada yang membeli. Karena Tuhar belum memahami waktu pemanenan kopi yang tepat. Dia memanen buah kopi yang masih muda, sehingga tidak diminati pasar. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan dalam budidaya kopi, hasil panennya mulai dilirik pembeli.

“Saat itu ada program SLPHT dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Temanggung. Kami diajari bagaimana membudidayakan kopi yang ideal, termasuk pemanenannya. Buah yang dipetik harus yang sudah matang, berwarna merah. Istilahnya petik merah,” terangnya.

Pengetahuan berharga tersebut tidak disimpan sendiri oleh Tuhar. Bekal ilmu yang dimiliki ditularkan kepada petani lain. Dalam setiap pertemuan yang diadakan, dia selalu menganjurkan untuk melakukan petik merah, agar harganya bagus.

“Tapi ketika itu ada beberapa petani yang menantang, jika mereka petik merah saya berani beli dengan harga berapa. Tentu saja, karena saya yang menyarakan, saya juga harus bertanggung jawab. Saya katakan pada mereka bahwa saya berani mencarikan pembeli dengan harga tinggi,” ujar suami Rubiah ini.

Tahun 2012 Tuhar melakukan kampanye di kelompok tani “Daya Sindoro”, di mana dia bergabung di dalamnya. Kampanye tersebut berupa anjuran agar petani melakukan petik merah. Bentuk kampanyenya dengan membuat gelang bertuliskan “Petik merah saja”. Lambat tapi pasti, usahanya menuai hasil. Saat ini petani yang sudah melakukan petik merah mencapai 95 %.

Dengan meningkatnya produksi kopi, tidak serta merta menggeser tembakau yang menjadi tanaman andalan petani. Menurut Tuhar, petani di desa Lahab, dan petani-petani Temanggung pada umumnya, melakukan penanaman tumpang sari kopi dan tembakau. Jarak tanam antara kopi dan tembakau sekitar 5 meter.

“Dengan tanam tumpang sari kopi dan tembakau, berpengaruh terhadap aroma kopi. Di masyarakat pencinta kopi Indonesia, kopi arabika Sindoro-Sumbing produk Temanggung dikenal sebagai kopi dengan aroma tembakau,” jelasnya.

Lelaki yang lahannya dijadikan lokasi shooting film “Filosofi Kopi 2”, dan dilibatkan sebagai figuran tersebut, cukup dikenal oleh masyarakat kopi di Indonesia. Rumahnya banyak dikunjungi orang-orang yang ingin tahu tentang seluk-beluk kopi. Mereka berasal dari kalangan akademisi, pengusaha kedai kopi, awak media, politikus, hingga artis.

Bisa dikatakan bapak tiga anak tersebut sudah hidup mapan sebagai petani dan produsen biji kopi. Luas lahan yang dikelolanya hampir 2 hektar, dengan 2.000 batang pohon kopi. Tentu saja semua itu tidak diraih dalam hitungan hari. Selain keuletan dan semangat untuk terus belajar, Tuhar menjaga relasi antara dirinya dengan komoditas yang ditanamnya.

“Seperti halnya manusia, tanaman juga punya perasaan, punya rasa lapar, dan mengerti ucapan terima kasih. Ketika tanaman lapar dan kita beri makan, tanaman akan mengucapkan terima kasih. Ucapan terimakasih tersebut diimplementasikan dengan memberikan hasil panen melimpah kepada petani,” ungkapnya.

“Saya bisa merasakan ‘keluhan’ tanaman, karena saya menanam dengan hati, dengan segenap perasaan. Saya berusaha untuk memahami apa keinginannya, kebutuhannya. Dengan demikian tanaman juga akan memahami apa yang saya inginkan. Dari situ akan terjadi ikatan emosional, saling memberi dan menerima, antara tanaman dan manusia,” ujarnya filosofis. (Made Wirya)

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *