, ,

Kebun Greneng, Kebun Buah Hasil Metamorfosa Lahan Tandus Lembah Waduk Greneng (Bagian 1)

sahabatpetani.com – Sore menjelang, matahari bergerak mendekati cakrawala Barat. Kelembutan sinar emasnya memantul pada bening air Waduk Greneng. Pemandangan waduk yang terletak di desa Tunjungan, kecamatan Tunjungan, kabupaten Blora ini, menunjukkan puncak keindahannya.

Beberapa orang terlihat memanen srikaya, jambu dan pepaya. Sementara yang lainnya mengangkut buah-buahan dengan keranjang. Buah-buahan itu dinaikkan ke boncengan sepeda motor. Suara knalpotnya meraung-raung memecah keheningan senja.

Tapi siapa sangka, lembah tandus berbatu yang tadinya hanya ditumbuhi alang-alang dan semak belukar itu, menjelma menjadi kebun buah yang subur. Sepanjang mata memandang, terlihat kerindangan dari ribuan pepohonan berbagai jenis. Pohon-pohon buah yang tumbuh berderet naik-turun mengikuti kontur tanah.

Tentu saja metamorfosa itu tidak terjadi dalam semalam, tidak pula semudah membalik telapak tangan. Butuh belasan tahun, keuletan, kesabaran, dan biaya besar untuk mewujudkannya. Semuanya bermula dari mimpi Bambang Suharto, pengusaha hasil bumi dari Kecamatan Japon, Blora.

“Saya hanya ingin mewujudkan mimpi, untuk menjadikan Blora sebagai sentra buah-buahan,” katanya ketika ditemui di beranda rumah kayu miliknya. Rumah kayu itu tepat menghadap ke lembah Waduk Greneng. “Saya tertarik untuk melakukan budidaya sejak tahun 1996, utamanya budidaya buah-buahan. Saya percaya bahwasanya kekuatan negara kita, sebenarnya di sektor pertanian,”

Untuk mewujudkan mimpinya, Bambang mulai mencari lahan yang dianggapnya tepat. Baru pada tahun 2010, dia menemukan lokasi di Waduk Greneng. Waduk ini merupakan satu-satunya waduk yang airnya tidak pernah kering di kabupaten Blora. Selain itumenyimpan keindahan alam, juga potensi airnya. Bambang berpikir, dengan air waduk yang tidak pernah kering, dia akan bisa membuat sumur bor untuk pengairannya.

“Saat itu tanah di sekitar waduk hanya ditumbuhi semak-semak dan ilalang. Pemilik lahan tidak memanfaatkannya dengan maksimal, bisa jadi karena tanahnya merupakan tanah marginal. Memang di beberapa titik ditanami pohon jati, tapi hanya sekedar tumbuh dan tidak dirawat dengan baik,” ungkap lelaki kelahiran 2 Juni 1963 ini.

Tanah di sekitar Waduk Greneng memang bukan tanah yang ideal untuk bertani, hampir seluruh permukaanya berbatu. Pada beberapa lokasi penduduk sekitar menanam ubi jalar dan ketela pohon, utamanya di dekat bibir waduk yang berbentuk serupa huruf “F” ini.

“Tapi dengan melihat potensi air yang tidak pernah kering meskipun kemarau panjang sekalipun, saya punya keyakinan lokasi ini bisa diubah menjadi areal pertanian. Saya pilih pohon buah, karena mulai awal sudah tertarik dengan budidaya buah-buahan,” paparnya.

Untuk mewujudkan mimpinya, Bambang menggandeng sahabatnya, Prakoso Heriono, yang mempunyai keahliah di bidang budidaya tanaman buah unggulan. Dia dan Prokoso Heriono pernah melakukan kerjasama dalam menanam jambu citra di lahan milik Batalion 410 Alugoro, Blora, pada tahun 1999.

Sahabatnya tersebut juga berhasil menjadikan Kabupaten Demak sebagai sentra jambu merah di Provinsi Jawa Tengah. “Menurut Pak Prakoso, meskipun tanah marginal, tapi dia optimis lahan di sekitar Waduk Greneng bisa ditanami buah-buahan,” ujarnya

Tanaman pertama yang diujicoba adalah klengkeng, pada tahun 2012. Menjelang penanaman dilakukan, Bambang Suharto menyumbangkan bibit mangga jenar dan sirsat madu kepada masyarakat sekitar waduk. Tujuannya agar mereka juga bisa menanam buah-buahan, dan menikmati hasilnya. Tidak tanggung-tanggung, dia memberikan bibit dua komoditas tersebut kepada 400 KK.

“Kelengkeng pertama yang kami tanam sebanyak kurang lebih 350 pohon di tanah seluas 3 hektar. Kendalanya adalah air, terus terang saja waktu itu kami kesulitan mendapatkan air. Saya memang sengaja tidak mau mengambil air waduk, karena khawatir dianggap mengeksploitasi,” katanya.

Untuk mendapat pasokan air, dia membuat sumur bor di 7 titik, tapi yang berhasil keluar air hanya 2 titik saja, dengan kedalaman antara 130 – 140 meter. Sebelum dialirkan melalui pipa paralon ke komoditas yang ditanam, air terlebih dulu ditampung di 4 tandon dengan total kapasitas 200 m3. Dengan terselesaikannya masalah pengairan, tanaman kelengkengnya tumbuh dengan subur.

Tapi keberhasilan pertumbuhan klengkeng di lahan miliknya, tidak diiringi dengan perkembangan tanaman buah dari bibit yang disumbangkan ke masyarakat sekitar. Dari 800 bibit pohon, hanya 10 % saja yang berhasil tumbuh dengan baik, selebihnya mati mengenaskan. Bahkan ada yang sudah tumbuh, tapi ditebang dengan alasan yang tidak jelas.

”Ketika saya tanya kenapa tanamannya tidak dirawat, mereka mengatakan bahwa tidak yakin (bibit tanaman tersebut) bisa hidup, jadi buat apa repot-repot merawatnya,” kenang Bambang. Tapi suami Catharina Yuliawati ini masih memberikan lagi bibit secara cuma-cuma kepada yang masih ingin berusaha menanam.

Bambang Suharto dan Alpukat Kendil yang ditanamnya

Secara bertahap lahan yang digarapnya diperluas, hingga akhirnya mencapai 25 hektar. Dari total luas tersebut, yang baru ditanami baru 16 hektar. Saat ini ada dua jenis kelengkeng yang ditanam di lahan yang diberi nama “Kebun Greneng” itu . Yang paling banyak populasinya adalah kelengkeng kateki, varietas ini sudah disertifikasi tahun 2016. Varietas lainnya adalah kelengkeng moya.

Menurut Bambang, kelengkeng moya merupakan varietas baru yang akan disertifikasi dan kelak akan dipersembahkan kepada kabupaten Blora, tanah kelahirannya. “Kelengkeng ini rasanya enak sekali, setelah disertifikasi biarlah menjadi kekayaaan komodias Blora,” ujarnya. Total tanaman kelengkeng di kebunnya hingga saat ini mencapai 1.200 pohon.

Komoditas lainnya adalah pepaya kalina, yang ditanam di lahan seluas 2 hektar dengan jumlah tanaman 2.500 pohon. Selain itu juga ditanami srikaya rofi sebanyak 100 pohon di areal seluas 1,5 hektar.

Komoditas lain yang ditanam adalah Alpukat kendil, sebanyak 30 pohon. Sesuai namanya alpukat ini berbentuk serupa kendil (alat masak terbuat dari tanah liat yang dibakar), diameter tengahnya bisa mencapai 15 cm, bahkan ada yang lebih.

Selain terbatasnya pasokan air, tantangan lainnya adalah jenis tanah marginal dengan karakter yang berbeda-beda. “Ada tanah yang berbatu, dan ada yang seperti tanah liat, solusinya adalah dengan menggunakan pupuk kandang yang difermentasi. Untuk memenuhi kebutuhan unsur hara, kami mengaplikasikan pupuk kimia, baik tunggal maupun majemuk,” jelasnya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *