, ,

Kebun Greneng, Kebun Buah Hasil Metamorfosa Lahan Tandus Lembah Waduk Greneng (Bagian 2)

sahabatpetani.com – Kebun Greneng terletak 12 kilometer dari Kota Blora. Jika ditempuh dengan kendaraan bermotor, membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Sebenarnya waktu tempuhnya bisa lebih singkat. Tapi karena pada beberapa titik jalannya berlubang, kendaraan harus bergerak perlahan.

Lokasi kebun ini cukup terpencil, lumayan jauh dari pemukiman penduduk. Hal ini yang menyebabkan Bambang Suharto mendapatkan tantangan keras dari istrinya, ketika awal-awal akan membeli tanah di daerah tersebut. Bisa dimaklumi, karena selain terpencil, tanahnya juga tandus. “Istri saya tentu saja tidak setuju, kenapa harus membeli tanah di lokasi yang tidak jelas prospeknya itu,” kenangnya.

Tapi Bambang Suharto pantang surut, dia terus meyakinkan istrinya bahwa jika tanah tersebut dikelola dengan baik, punya potensi untuk menjadi kebun buah. Pada akhirnya istrinya setuju, dan pengusaha hasil bumi yang lahir dan besar di kecamatan Jepon, kabupaten Blora ini mulai membeli tanah sepetak demi sepetak.

Bambang mengakui, agar buah hasil kebunnya dikenal masyarakat awalnya ditawarkan dari rumah ke rumah. “Sampai sekarang, saya masih mengantarkan pesanan buah secara door to door. Bahkan konsumen yang hanya memesan satu-dua buah pun saya layani,” akunya. Belakangan buahnya ditawarkan secara on line, sehingga wilayah penjualannya bisa lebih luas.

Selain itu, sudah banyak juga yang dibeli oleh masyarakat sekitar untuk dijual kembali ke konsumen. Ketika wawancara sedang berlangsung, ada beberapa orang yang datang mengendarai motor dengan membawa keranjang. Mereka hilir mudik mengangkut jambu kristal yang baru saja dipanen. Di antara mereka adalah karyawan di kebun miliknya.

Pepaya kalina yang ditanam Bambang Suharto (foto: Made Wirya)

Miyatun (50), salah satu penduduk yang tanah garapannya dekat dengan Kebun Greneng, juga membenarkan hal tersebut. Banyak tetangganya yang membeli aneka buah-buahan yang dihasilkan kebun itu. “Banyak tetangga saya yang beli, kemudian dijual kembali. Mereka menjualnya ke pasar, tapi lebih banyak yang ider (keliling) keluar masuk kampung,” katanya.

Hal ini diamini oleh Agus Jamhuri (55), tetangga Miyatun. Menurutnya keberadaan kebun buah ini selain bisa menghijaukan area waduk, juga membawa manfaat untuk masayarakat sekitar seperti dirinya. “Dulu daerah sini masih berupa oro-oro, hanya ditumbuhi alang-alang dan semak-semak. Tapi sekarang banyak tanaman buah-buahan. Ketika panen bisa dikulak (dibeli untuk dijual kembali) oleh penduduk sekitar,” ungkapnya.

Rencananya Bambang akan membentuk kelompok peternak sapi di areal kebun buahnya, anggota dan pengurus dari karyawan. Mereka akan diberi fasilitas berupa kandang sapi komunal, lahannya sudah disiapkan. Saat ini dia sedang mengajukan bantuan sapi dalam bentuk hibah ke Kementerian LH, Pertanian, Peternakan, dan Kemendes.

“Dengan demikian nantinya akan terjadi simbiose mutualisma, anggota bisa mendapat tambahan penghasilan, pemberi bantuan tidak khawatir bantuannya diselewengkan, dan Kebun Greneng mendapat pupuk kandang untuk memperbaiki struktur tanah,” terangnya.

Bambang mengungkapkan, pada tahap awal diperkirakan akan mendapat bantuan sebanyak 10 – 20 ekor sapi. Harapannya pada tahap berikutnya jumlah tersebut akan bertambah. “Tidak hanya sapi pedaging, kami juga berharap mendapatkan bantuan sapi perah. Hal ini untuk memberdayakan mereka, sekaligus sebagai sarana edukasi,” jelasnya.

Keberhasilan Bambang menghijaukan lembah Waduk Greneng sampai juga ke telinga Menristek Dikti. Pada awal tahun 2018 Mohammad Natsir mengunjungi kebun buahnya. Pada kunjungan tersebut, kata Bambang, Menristek Dikti mengapresiasi keberadaan kebun buah yang dikelolanya.

“Beliau mengatakan bahwa ini bisa dijadikan contoh perhutanan sosial. Tapi dari awal membuat kebun buah ini, nggak ada tujuan lain, selain untuk budidaya. Jika dikatakan hobi juga tidak, lha wong saya ini nggak ngerti-ngerti banget cara menanam buah. Saya ini sekedar sponsor dan penyebar virus cinta membudidayakan buah-buahan. Hanya itu,” ujarnya merendah. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *