, , , ,

Misteri Hama Tikus yang Membuat Bulu Kuduk Berdiri

sahabatpetani.com – Petani mana yang tidak kenal tikus, salah satu hama yang paling ditakuti oleh petani padi dan jagung. Selain tanaman serealia, binatang pengerat itu juga menyerang palawija, hortikultura, dan perkebunan.

Tikus menyerang akar dan batang padi, sehingga menyebabkan kematian. Sedangkan pada tanaman jagung, serangan tikus biasa terjadi saat fase pembentukan tongkol dan pengisian biji. Tongkol yang dimakan oleh tikus menjadi rusak dan mudah terinfeksi jamur.

Sebagai petugas lapangan yang bertugas melakukan sosialisasi pemupukan berimbang, saya juga harus memahami pengetahuan dasar tentang hama dan penyakit. Karena pertanyaan seputar hal tersebut, kerap kali ditanyakan oleh peserta sosialisasi.

Saya sudah beberapa kali mendengar, bahwa tikus merupakan hama yang  misterius. Ada petani yang mengatakan tikus tidak sembarang menyerang sasarannya. Pada hamparan jagung yang luas, tidak semua petak diserang oleh mamalia bergigi tajam itu. Entah apa alasannya, petani tersebut tidak menjelaskan dengan rasional.

Suatu ketika saya ditugaskan ke salah satu kabupaten di Jawa Tengah, jika tidak salah tahun 2007. Setelah melakukan sosialisasi, saya menyempatkan untuk melihat-lihat lahan demplot pada salah satu desa. Demplot kali ini bekerjasama dengan petani jagung di lahan seluas 0,5 hektar.

Lahan tersebut terletak di antara hamparan tanaman jagung yang cukup luas. Sepanjang mata memandang, hanya terlihat tanaman jagung, dengan tongkol yang mulai terlihat menyembul.

Saya masih ingat, saat itu pukul lima sore. Matahari sudah bergeser ke sisi Barat,  sengatannya mulai berkurang. Saya berjalan menyusuri pematang, memastikan pertumbuhan  jagung di lahan demplot tumbuh dengan baik.

Setelah memfoto perkembangan tanaman jagung dan mencatat beberapa data untuk laporan, saya tidak segera kembali ke mobil. Tapi memutuskan untuk melihat-lihat lahan jagung yang lain. Hal ini saya lakukan untuk membandingkan perkembangan jagung milik petani di lahan  sebelah, dengan lahan demplot kami.

Ketika baru beberapa langkah, saya dikejutkan dengan suara mencicit dari balik rerimbunan. Saya segera mencari dari mana suara itu berasal. Tidak lama kemudian, dari balik rerimbunan batang jagung, ribuan tikus kecil  keluar dengan cara berbaris rapi.

Tikus-tikus itu menyeberangi pematang menuju ke salah satu petak, entah milik siapa. Beberapa tikus terdepan mulai naik menuju tongkol, diikuti oleh teman-teman yang di belakangnya. Satu batang yang berisi dua tongkol itu diserbu oleh belasan binatang pengerat yang tampak kelaparan.

Pergerakan mereka cukup lincah, perpindahan dari batang ke batang dilakukan dengan melewati daun. Mereka seperti sedang bermain akrobat. Sepanjang hidup baru kali ini  saya melihat ribuan tikus, dengan pergerakan yang tampak terorganisir seperti itu. Tentu saja saya bergidik. Tapi saya coba memberanikan diri untuk memotretnya dengan menggunakan kamera saku.

“Jika hal ini dibiarkan, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama  biji jagung lahan itu akan segera habis,” saya bergumam. Sebagai petugas lapangan yang sering bersentuhan dengan petani, saya merasakan bagaimana sedihnya petani ketika lahannya di serang hama.

Saya mencoba untuk mengusir tikus-tikus itu. Dengan gerakan pelan, saya ambil gumpalan tanah keras di dekat pematang yang saya pijak, kemudian saya lemparkan ke arah gerombolan  penjarah itu.

Begitu lemparan saya mengenai sasaran, sontak ribuan tikus itu bergerak panik. Suara mendecit dan gesekan daun kerana polah tikus-tkus itu demikian mencekam. Bulu kuduk saya berdiri, saya bergegas meninggalkan lahan jagung tersebut, menuju mobil yang mengantar saya.

Menjelang tidur di kamar hotel, saya mencoba untuk melihat hasil jepretan peristiwa tersebut di kamera yang saya bawa. Tapi saya tak menemukan satu file pun yang berisi tikus-tikus itu. Yang ada hanya foto sosialisasi dan beberapa foto tanaman demplot. Jantung saya berdegup kencang.

Besok paginya saya menemui petani yang lahannya dijadikan demplot. Setelah mendiskusikan perkembangan tanaman jagungnya, iseng saya menanyakan siapa pemilik lahan jagung yang terletak dua petak dari lahannya.

“Memangnya kenapa, Pak?” Tanyanya. “Kemaren saya lihat ribuan tikus menyerang lahan itu. Melihat serangan yang masif, rasanya pemilik lahan itu tidak akan panen,” jawab saya. Petani itu melangkah menuju lahan yang saya maksud, saya mengikuti dari belakang. Sesampainya di lahan tersebut dia termangu. Pesta para tikus semalam itu hanya menyisakan klobot dan tongkol tanpa biji.

“Tikus-tikus itu kok tidak menyerang lahan lainnya ya, Pak?” Petani itu tidak segera menjawab. Dia bersidekap sambil matanya nanar mengawasi lahan jagung di depannya. Setelah beberapa saat diam dan menghela nafas, dia menghampiri saya.

“Pemilik lahan ini dikenal jahat, sudah cukup lama menjadi rentenir dengan bunga tinggi mencekik,” jawabnya lirih. Ketika saya akan bertanya lagi, dia segera mengajak saya untuk meninggalkan lahan tersebut. Tentu saja saya penasaran. Mungkinkah ada hubungan antara perilaku  seseorang dengan  hasil panen jagung di lahan yang ditanamnya? Entah lah. #KisahMisteri (seperti diceritakan oleh Effrie Prihanto)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *