, , , ,

Para Perempuan Perkasa Simalungun, Mengurus Anak, Suami, dan Ladang

sahabatpetani.com – Matahari baru saja meninggalkan cakrawala Timur, cahaya emasnya lembut menerpa kulit. Ermalina Saragih (52) bergegas menuju lahan kopi miliknya yang berjarak sekira 14 kilometer dari rumah. Diantar anak lelaki nomor duanya, mereka berkendara dengan menggunakan mobil pick up. Di bak belakang terlihat beberapa karung pupuk dan cangkul, serta bibit kopi yang akan ditanam.

“Ada beberapa pohon kopi yang harus diremajakan, karena sudah kurang produktif. Kami juga akan memupuk pohon-pohon kopi kami,” ujarnya. Pohon-pohon kopi itu ditanamnya sejak tahun 2005, di lahan seluas 2 hektar.

Sebelumnya ibu lima anak ini menanam jahe, jagung, dan cabai. Setelah beberapa kali diserang hama, dia dan suaminya memutuskan untuk mencoba menanam kopi. Ternyata peruntungan keluarganya ada pada tanaman yang berasal dari Abyssinia tersebut.

“Meskipun saya lahir besar dari keluarga petani, tapi baru setelah menikah saya terjun ke ladang. Ya karena keadaan lah,” kata Ermalina dengan logat Simalungun yang kental. Istri dari Rosnman Purba ini menyadari, ketika baru pertama kali menikah kondisi ekonomi rumah tangganya masih jauh dari mapan.

“Waktu itu suami jadi PNS dengan pangkat rendah, sehingga penghasilan tidak mencukupi untuk membiayai hidup kami. Apalagi anak bertambah terus hingga lima, mana untuk biaya makan dan sekolah. Mau nggak mau saya harus membantu suami untuk cari duit. Karena kami punya ladang, ya nanam lah,” kisah petani yang tinggal di kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun ini.

Ermalina mewakili perempuan Simalungun pada umumnya, selain menjadi ibu rumah tangga,  sanggup bekerja keras membantu suami untuk mencari nafkah. Dengan dibantu suami dan beberapa tenaga, ladang itu digarapnya dengan sungguh-sungguh. Kegagalan menanam beberapa komoditas, tidak menyurutkan semangatnya.

“Hasil dari budidaya kopi, salah satu faktor  yang membuat kehidupan kami berubah. Kami bisa menyekolahkan empat anak lelaki hingga lulus kuliah. Di samping itu juga untuk  membeli beberapa mobil,” paparnya tanpa bermaksud pamer. Anaknya yang  nomor lima perempuan, saat ini masih duduk di bangku SMA.

Di Simalungun, Ermalina bukan satu-satunya ibu rumah tangga yang menyokong perekonomian keluarga dengan bertani. Tionar Saragih (42) yang sama-sama tinggal di kecamatan Raya, juga melakukan hal yang sama. Dia mulai terjun ke lahan sejak tahun 2000. Seperti halnya Ermalina, ibu empat anak ini juga menanam kopi. Luas lahan kopinya saat ini kira-kira 1 hektar.

“Suami tidak banyak membantu, karena sering dinas luar. Agar bisa menyekolahkan anak-anak, saya harus ke ladang,” paparnya sambil tersenyum. Dinas luar yang dimaksud Tionar bukan lah dinas ke luar kota atau bahkan ke luar negeri. “Jika tidak kerja di lahan, itu artinya dinas luar,” sambungnya dengan terkekeh.

Seperti halnya Ermalina dan Tionar, Farida Ariyani Sinaga (48) juga menjadi ibu rumah tangga yang patut diacungi jempol karena kegigihannya. Ibu dengan 3 anak ini sudah menjanda sejak suaminya meningggal pada tahun 2007. Jika sebelumnya dia hanya membantu suami secara paruh waktu, sejak 11 tahun terakhir ini menjadikan petani sebagai pekerjaan utama.

Para perempuan petani yang gigih itu tidak meninggalkan peran sebagai ibu rumah tangga. Mereka masih menjalankan tugasnya,  mengurus suami dan anak-anak mereka. Setelah urusan domestik selesai, para peremuan itu meninggalkan rumah menuju ladang.

“Bagi kami kebahagiaan keluarga harus nomor satu, segala tantangan harus dihadapi dengan tegar. Masalah memang datang silih berganti, tapi harus diselesaikan dengan baik. Kami dituntut untuk tidak hanya bisa mencuci, memasak, dan mengajari anak, tapi juga mencangkul di ladang,” ujar Ermalina sambil mengunyah sirihnya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *