, , , , , , ,

Profesi Ganda Rosenman Purba

sabahatpetani.com – Sejak kecil sudah membantu orang tuanya di ladang. Semula hanya melakukan pekerjaan ringan seperti menyiangi gulma. Baru ketika beranjak dewasa, ikut mengolah lahan, memupuk, dan mengangkut hasil panen. Rosenman Purba menyadari bahwa salah satu sumber nafkah orang tuanya adalah dari ladang. Sehingga dia harus membantu mereka, agar bisa meraih pendidikan setinggi mungkin.

“Baru setelah lulus dari SMA saya meninggalkan ladang, karena melanjutkan kuliah ke Medan,” ujar lelaki yang lahir di desa Raya Huluan, kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun pada 15 Januari 1966 ini. Tapi setelah menyelesaikan kuliahnya, Rosenman kembali ke ladang lagi.

Semula Rosenman menanam jahe karena prospeknya bagus, kemudian dilanjutkan dengan membudidayakan cabai, jagung dan beberapa sayuran. Meskipun pada tahun 1989 diterima menjadi PNS, suami dari Ermalina Saragih ini tetap meneruskan usahataninya. “Tapi karena mulai banyak kesibukan mengajar dan kuliah lagi, pekerjaan di ladang banyak dikerjakan oleh istri saya,” paparnya.

Sebagai guru yang pada saat itu gajinya tidak terlalu besar, dia tidak banyak mengeluh. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, Rosenman dan istrinya bekerja keras mengelola lahan peninggalan orang tuanya. “Setelah banyak diganggu oleh hama dan penyakit, saya beralih menanam kopi ateng sejak tahun 2005,” kisahnya.

Menurut Rosenman menanam kopi memang membutuhkan keuletan dan pengetahuan budidaya yang memadai, agar hasilnya maksimal. Dia dan istrinya benyak belajar kepada petani kopi yang sudah sukses. “Peran istri memang tidak diragukan lagi. Sebab dia yang banyak bergelut di ladang, dari mulai pukul delapan pagi hingga sore,” ucapnya.

Dengan semakin bertambahnya aktivitas, kakek satu cucu ini harus pandai membagi waktu. Ketika anak-anaknya masih membutuhkan biaya besar untuk kuliah, hampir setiap hari dia ke lahan sepulang dari kantor.

“Setelah pulang mengajar pukul dua siang saya langsung ke ladang hingga sore, untuk membantu istri. Bahkan tidak jarang pulang hingga pukul sepuluh malam,” kenangnya. Tapi seiring  bertambahnya usia, tenaganya sudah tidak sekuat dulu.

Beberapa tahun terakhir ini dia menekuni usaha toko mebel dan peralatan elektronik di rumahnya. “Saya ingin santai lah, kan anak sudah lulus kuliah semua, tinggal yang bungsu,” katanya.

Dari hasil ladang kopi, dia bisa membiayai sekolah lima anaknya. Empat sudah lulus kuliah, dan satu lagi masih di bangku SMA. Rosenman juga mampu membeli beberapa mobil, baik mobil keluarga maupun mobil untuk menunjang usaha taninya. “Dengan bertani kita bisa sejahtera kok, asalkan ditekuni dengan serius,” ungkapnya.

Agar mendapatkan panen optimal Rosenman memperhatikan betul pemeliharaan tanaman kopi, utamanya dalam hal pemupukan. Dia selalu memilih pupuk yang benar-benar berkualitas. Untuk pupuk majemuk dia memilih PHONSKA, pupuk NPK produksi PT Petrokimia Gresik

Sejak tahun 2015 lelaki berpembawaan tenang ini menjadi kepala sekolah SMK Pembangunan XX Simalungun. Dia menekankan bahwa bertani merupakan profesi yang bisa menghidupi, bisa menyejahterakan. “Profesi apapun, jika kita seriusi, kita tekuni, tentu saja akan membawa hasil yang maksimal, termasuk bertani. Hal tersebut saya tekankan pada murid-murid kami,” jelasnya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *