, , , , ,

Tepis Stigma Buruk Pertanian, SMKN 1 Malang Kenalkan Urban Farming dan Pertanian Berbasis Teknologi

sahabatpetani.com. – Sektor pertanian, sebagai sektor strategis untuk menjaga stabilitas pasokan pangan saat ini menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan yang sangat nyata dan berkaitan dengan masa depan sektor pertanian Indonesia adalah regenerasi petani.

Berdasarkan sensus pertanian tahun 2013, jumlah rumah tangga petani di Indonesia berkurang lebih dari 15 juta dalam 10 tahun. Pengurangan tersebut tidak lepas dari keengganan generasi muda untuk menjadi petani, karena stigma yang menganggap pertanian itu pekerjaan yang tidak keren, kotor, dan tidak menjanjikan.

Stigma tersebut yang coba dipatahkan oleh jurusan pertanian SMKN 1 Malang. “Saat ini jurusan pertanian di SMK kami memang belum sepopuler jurusan-jurusan yang lain, namun jumlah peminatnya dari tahun ke tahun terus meningkat,” ujar Kepala Sekolah SMKN 1 Malang, Retno Utami.

Pada saat dibuka pertama kali tahun 2005, jurusan pertanian hanya satu bidang keahlian, masing-masing satu kelas di setiap tingkat. Saat ini, jurusan pertanian di SMKN 1 Malang telah berkembang menjadi dua bidang keahlian, yaitu Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura serta Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian. “Jumlah siswa jurusan pertanian saat ini mencapai 180 orang, dengan jumlah kelas di setiap tingkat sebanyak 2 kelas,” Ketua Program Keahlian Agribisnis SMKN 1 Malang, Ari Setyowati menambahkan.

Ari mengakui, walaupun jumlah siswa jurusan pertanian meningkat, bukan berarti stigma petani dan pertanian sudah berubah. Di kalangan siswa dan orang tua siswa sendiri, banyak yang masih memandang rendah sektor pertanian.

Kondisi tersebut terlihat dari proporsi alumni jurusan pertanian yang menjadi petani atau karyawan perusahaan pertanian, yang diperkirakan tidak sampai 10%. “Sebagian besar alumni kami justru bekerja di sektor non pertanian. Selain karena keterbatasan lahan dan lapangan pekerjaan, orang tua siswa juga mengarahkan anaknya untuk bekerja di sektor yang menurut mereka lebih menjanjikan,” tambah pengajar yang merupakan alumnus Institut Pertanian Bogor ini.

Salah satu upaya yang dilakukan sekolah untuk mengubah stigma tersebut adalah dengan memasukkan konsep pertanian yang terkini dan “keren” dalam kurikulum pengajaran.

Salah satu materi yang diperkenalkan kepada siswa adalah konsep pertanian perkotaan. Siswa diperkenalkan dan diberi kesempatan untuk mempraktekkan konsep tersebut, di antaranya budidaya sistem hidroponik, aquaponik, tabulampot, dan tasalampot.

Integrasi Hidroponik Padi dan Budidaya Ikan Lele, SMK Negeri 1 Malang

Lokasi sekolah yang berada di tengah kota Malang sangat sesuai dengan konsep ini. Selain menyesuaikan ketersediaan lahan, menurut Ari, Kota Malang memiliki potensi pasar yang besar untuk produk-produk pertanian berkualitas. “Selain agar piawai bercocok tanam, kegiatan ini juga mendorong siswa untuk jeli membaca peluang pasar pertanian, sehingga dapat menumbuhkan mental kewirausahaan,” lanjutnya.

Selain pertanian perkotaan, program keahlian agribisnis juga memperkenalkan materi pertanian berbasis teknologi kepada siswa. Materi tersebut di antaranya penerapan kultur jaringan dan berbagai teknologi pengolahan produk pertanian.

“Kami ingin memperluas cara pandang siswa tentang pertanian, bahwa pertanian tidak terbatas pada budidaya konvensional yang selalu kotor-kotoran dengan tanah. Sentuhan teknologi sederhana sekalipun ternyata dapat memberikan nilai tambah produk. Selain itu, juga dapat memperkenalkan pertanian yang lebih bergengsi, sehingga siswa bangga dan mau menjadi petani,” pungkasnya. (Bayu Kristianto)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *