, , , ,

Cerita Dedi Budiman, Raih Mimpi Menjadi Petani di Tengah Keterbatasan

sabahatpetani.com – Pagi di Desa Pedeslohor, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes. Saya mengunjungi salah satu narasumber petani muda inspiratif Jambore Petani Muda 2018.

Rumah sederhana di tengah hamparan tanaman padi, bawang merah, melon, dan cabai menjadi tujuan kedatangan saya ke kabupaten paling barat Jawa Tengah ini. Kesan sebagai rumah petani langsung terasa ketika saya memasuki halaman rumah.

Kandang ayam di halaman rumah berdiri berdampingan dengan bekas persemaian cabai. Tong berisi cairan beraroma manis berisi kultur probiotik sebagai bahan pupuk hayati memenuhi penciuman saya. Berbagai peralatan pertanian tertata rapi di sudut rumah yang sekaligus berfungsi sebagai gudang peralatan.

“Silakan masuk Mas,” sapa pemilik rumah dengan ramah. Perkenalan berlangsung singkat, Dedi Setia Budiman, petani muda berusia 26 tahun ini langsung mengajak saya ke lahan pertanian yang sedang dikelolanya. Sambil menikmati hijaunya hamparan tanaman melon, cabe, dan padi di belakang rumahnya, Dedi mulai bercerita, perjalanannya mewujudkan mimpi menjadi petani.

Sebagai anak laki-laki satu-satunya di keluarga, Dedi menyadari tanggung jawab terbesar keluarga ada di tangannya. Walaupun memiliki lahan yang cukup luas, sekitar 2 hektar, Sobirin, ayah Dedi tidak mampu membiayai sekolah Dedi. Karena komoditas yang ditanam hanya terbatas pada tanaman padi dan tebu. Komoditas tersebut memiliki nilai ekonomis rendah, sehingga hasil dari bertani tidak cukup untuk membiayai sekolah Dedi dan empat saudaranya.

“Sejak lulus SMP saya sudah merantau ke kota besar. Beberapa kota pernah saya singgahi, dan pekerjaan apa saja saya lakukan. Paling tidak saya tidak lagi bergantung pada orang tua,” ungkap Dedi. Hidup jauh dari tanah kelahirannya, membuat anak kedua dari lima bersaudara ini menyadari bahwa dia merindukan kesehariannya di rumah, membantu orang tuanya bertani.

“Sebenarnya saya ingin pulang dan bertani, namun dengan bekal ilmu pertanian yang memadai. Apabila saya pulang dan hanya bertani seperti yang orang tua saya lakukan, saya rasa nasib saya tidak akan jauh berbeda dengan orang tua saya,” lanjut Dedi. Dengan keyakinan tersebut, anak kedua dari lima bersaudara ini akhirnya memutuskan bahwa dia harus kuliah, untuk menambah pengetahuannya di bidang pertanian.

Di sela-sela kesibukannya berjualan nasi goreng di Kota Surakarta, Dedi mulai meluangkan waktu untuk mempelajari pelajaran sekolah menengah atas. Hingga akhirnya, pemuda sederhana ini mengikuti ujian Paket C, ujian setara sekolah menengah atas untuk siswa yang tidak mengikuti pendidikan formal, dan dinyatakan lulus.

Berbekal ijazah Paket C, Dedi akhirnya dapat menempuh pendidikan di Jurusan Agribisnis, Universitas Tunas Pembangunan Surakarta. Aktivitas sebagai pedagang nasi goreng tetap Dedi jalani untuk membiayai kuliah dan kebutuhan sehari-hari.

Lulus tahun 2014, dengan predikat sangat memuaskan, Dedi memutuskan untuk kembali ke desanya. “Hal pertama yang saya lakukan adalah mengamati pergerakan harga komoditas pertanian di Kabupaten Brebes, dan mencariĀ  alternatif komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomis tinggi,” ujar Dedi. Komoditas hortikultura dipilihnya.

Berbekal pengetahuan dan jaringan semasa kuliah, serta sedikit modal hasil menjual gerobag nasi goreng, Dedi mulai menanam semangka dan bunga kol. Pada saat memulai menjadi petani, lahan yang dikelolanya baru seluas 0,08 hektar.

“Tantangan tidak hanya dalam kegiatan budidaya, tetapi juga bagaimana meyakinkan orang tua untuk mau mengganti komoditas,” tambahnya.

Dedi mengakui budidaya hortikultura lebih membutuhkan penanganan yang intensif. Selain itu, harga komoditas hortikultura juga lebih fluktuatif dibandingkan tanaman pangan dan perkebunan.

“Saya menyadari saya harus belajar dulu. Selain belajar tentang pasar, saya juga harus belajar cara menanamnya. Saya banyak terbantu teman-teman kuliah saya dari jurusan pertanian budidaya” kenangnya saat itu.

Usahanya terus berkembang, kini Dedi telah mampu mengelola lahan lebih dari 1 hektar. Berbagai komoditas pertanian ditanamnya, selain untuk meminimalisir risiko harga, juga untuk merotasi tanaman.

Dedi sedang mengamati hijaunya hamparan tanaman melon, cabe, dan padi miliknya

“Pesan saya untuk adik-adik siswa SMK jurusan pertanian, jangan gengsi jadi petani. Pertanian itu menjanjikan, pasarnya sudah jelas. Tinggal kita yang harus terus belajar. Belajar cara menanam yang benar, juga belajar membentuk mental pengusaha. Dan yang terakhir, jangan pernah menyerah pada keadaan, teruslah bekerja keras. Karena kerja keras akan membuka peluang-peluang yang tidak kita sangka,” pungkasnya. (Bayu Kristianto)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *