, , ,

Alsintan Bantuan Pemerintah Pusat, Picu Kegairahan Pemuda Lampung untuk Bertani

sahabatpetani.com. – Beberapa tahun terakhir ini mulai banyak anak muda Lampung yang menekuni profesi sebagai petani. Seperti halnya di daerah lain, semula kebanyakan anak muda Lampung enggan pergi ke sawah dan ladang. Setelah memasuki masa produktif, mereka berharap bisa terserap di bidang pekerjaan non pertanian. Seperti misalnya bekerja sebagai PNS, tentara, polisi, kantoran, atau di sektor industri.

Anak-anak muda di manapun memang ingin terlihat ‘gaul’, baik dari sisi penampilan maupun pekerjaan. Mereka memandang bahwa menjadi petani bukan lah pekerjaan kekinian, tidak menarik untuk dipamerkan. Lebih-lebih pada era media sosial (medsos) saat ini, di mana segala aktivitas menarik segera mereka unggah di akun mereka.

“Tapi sejak hadirnya alsintan (alat mesin pertanian) di perdesaan, mereka mulai tertarik untuk menggarap lahan. Keberadaan alsintan tersebut menjadikan profesi petani lebih bergengsi, sebab tidak lagi bertani secara tradisional dengan menggunakan cangkul, bajak, dan sapi,” ujar Lusia, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Metro, Lampung.

Keberadaan alsintan tersebut, menurut Lusia, sebagian besar merupakan bantuan pemerintah pusat. Jumlahnya lebih dari 100 buah, baik traktor tangan maupun traktor roda empat. Selain itu ada juga yang swadaya dari masyarakat desa. Untuk alsintan bantuan pemerintah, dikelola oleh 138 kelompok tani yang tersebar di 5 kecamatan di Kota Metro.

Lusia, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Metro (foto: Made Wirya)

“Selain pekerjaan di lahan menjadi lebih mudah, alsintan membuat anak-anak muda desa merasa lebih keren. Apalagi saat mereka sedang menggunakan traktor roda empat untuk membajak sawah, tidak jarang mereka melakukan selfie dan mengunggahnya di facebook, IG maupun WAG,” papar Lusia.

Hal ini diakui oleh Kristianto (30), petani dari Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Metro Utara. Sejak kedatangan bantuan alsintan dari pemerintah pusat, dia dan kawan-kawannya semakin giat bertani. “Dari yang semula ada yang bertani karena tak ada pilihan lain, menjadi bergairah untuk mengerjakan sawah. Anak-anak muda yang tadinya galau karena belum mendapat pekerjaan tetap di kota, kembali ke desa untuk menggarap lahan orang tuanya,” terangnya.

Kristianto mengakui bahwa bertani ternyata bisa dijadikan profesi yang menyejahterakan, menjanjikan masa depan. Dia memang masih belum begitu lama terjun sebagai petani, sebelumnya  memilih pergi ke kota untuk mengadu nasib. Sementara orang tuanya semakin uzur dan dibiarkan mengerjakan lahan sendiri.

“Saat ini untuk menjadi petani lebih enak lagi, karena pemerintah mendukung dengan bantuan alsintan. Selain pemerintah juga menyubsidi benih, pupuk, dan pestisida. Untuk alsintan kami mendapatkan 2 unit traktor tangan, 1 unit traktor roda empat, dan 2 unit pompa air,” jelas Kristanto.

Ketua Kelompok Tani “Akur” dengan 33 anggota ini mengakui, akhir-akhir ini jumlah pemuda desanya yang menjadi petani terus meningkat. Dari keseluruhan anggota di kelompoknya, ada 8 petani yang berusia muda. Diakuinya kegairahan anak-anak muda itu, selain bisa terlihat ‘gaul’, mereka sudah membuktikan bahwa petani tidak kalah dengan profesi lainnya.

“Sedangkan anggota kelompok tani yang lain, berusia antara 50 – 55 tahun. Tapi bukan berarti anak-anak para petani tua itu enggan bertani. Hanya saja  mereka tidak bergabung di kelompok kami, tapi tetap membantu orang tua mereka di lahan,” ujar petani muda yang menanam jagung, padi, dan horti ini.

Menurut Syuhada (50) Ketua Kelompok Tani “Amurwat 2” Kelurahan Purwoasri, Kecamatan Metro Utara, saat ini semua anggota kelompok taninya  berusia muda. Petani generasi tua sudah tidak produktif lagi, dan memilih untuk pensiun. Di samping itu, semangat anak-anak muda untuk menggarap lahan juga disebabkan karena masuknya teknologi pertanian di lahan mereka.

Diakuinya, kehadiran alsintan sangat berpengaruh pada kegairahan anak muda di desanya untuk bertani. Saat masih menggunakan tenaga kerbau, petani generasi orang tua mereka butuh waktu yang cukup lama untuk mengolah lahan.

“Ketika mulai ada traktor tangan waktu pengerjaan bisa lebih singkat, sehari bisa mencapai setengah hektar. Nah, dengan bantuan traktor roda empat ini sehari bisa mengerjakan 2 hektar. Hal ini  menarik minat mereka, karena pekerjaan jadi lebih cepat, lebih ringan dan tidak kotor. Mereka juga bisa pamer kepada teman-temannya melalui media sosial,” ujar Syuhada. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *