, , ,

Manfaat Probiotik dan Dampak Buruk Antibiotic Growth Promoter pada Ternak Unggas bagi Kesehatan Manusia

Penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) untuk meningkatkan produktivitas ternak unggas, mulai dilakukan sejak tahun 1940’an. Hal tersebut juga dilakukan oleh kalangan peternak unggas di Indonesia. Menurut data dari Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian, 30% peternak unggas di Indonesia menggunakan antibiotik untuk meningkatkan hasil usaha mereka.

Penggunaan AGP bertujuan untuk menekan pertumbuhan mikroba berbahaya, menyembuhkan unggas yang terkena penyakit, dan  mencegah penyebaran penyakit pada unggas lain. Selama ini memang peternak unggas sudah membuktikan, AGP mengurangi kematian unggas pada saat budidaya dan mempercepat siklus usaha.

Berdasarkan hasil riset, penggunaan AGP secara berlebihan ternyata berdampak buruk pada manusia.  Residu AGP di daging unggas yang dikonsumsi manusia, dapat menyebabkan resistensi antibiotik pada pencegahan dan pengobatan infeksi bakteri penyebab meningitis (radang selaput otak), pneumonia dan sepsis.

Hal ini bahkan dapat terjadi walaupun manusia yang terinfeksi bakteri tersebut belum pernah meminum antibiotik jenis tersebut. Di samping itu, AGP juga dapat menyebabkan resistensi terhadap antibiotik jenis lain.

Melihat dampak yang ditimbulkan oleh penggunaan AGP, pemerintah telah melarang penggunaan AGP pada budidaya unggas. Hal ini tertuang dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang peternakan dan kesehatan hewan. Peraturan ini mulai berlaku efektif sejak Januari 2018 di seluruh wilayah Indonesia. Sedangkan Kementerian Pertanian secara khusus mengatur bahwa penggunaan antiobiotik hanya diperbolehkan, untuk mengobati penyakit (terapi) melalui Peraturan Menteri Pertanian No. 14/2017.

Pelarangan penggunaan AGP  menyebabkan peternak mengalami kesulitan pada saat mulai mengadopsi peraturan ini. Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Herry Dermawan menyampaikan,  larangan penggunaan AGP pada pakan ternak, otomatis memperlambat pertumbuhan ternak.

Dengan target bobot unggas panen yang sama, terjadi perlambatan pertumbuhan ternak sekitar tiga hingga empat hari, dibandingkan dengan sebelum pelarangan AGP. Hal ini berakibat pada membengkaknya biaya produksi akibat tambahan biaya pakan, listrik, gaji pekerja, dan biaya lain-lain. Selain perlambatan pertumbuhan ternak, unggas juga berisiko terjangkit penyakit. Hal tersebut tentu saja berdampak pada  berkurangnya hasil panen.

Salah satu solusi untuk menggantikan peran AGP pada ternak  adalah dengan penggunaan probiotik. Menurut Prof. Dr. Komang G. Wiryawan, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB (seperti dikutip dari Bebeja.com, 16/8/2016), pemberian probiotik akan membantu menjaga keseimbangan populasi mikroba di saluran pencernaan.

“Probiotik juga mampu mencegah diare dan meningkatkan tumbuh kembang ternak, terutama pada hewan ternak kecil. Pada hewan ternak dewasa, pemakaian probiotik dapat menjaga proses metabolisme tetap baik, dan menurunkan produksi gas metana,” jelas Komang.

Salah satu perusahan di Indonesia yang memproduksi probiotik adalah PT Petrokimia Gresik. Menurut Manager Penjualan Produk Pengembangan PT Petrokimia Gresik, Arif Wahyu Utomo, probiotik yang diproduksi oleh perusahaannya diberi merek dagang “Petro Chick”.

Lelaki yang akrab dipanggil Tommy ini mengatakan, Petro Chick  mengandung mikroba-mikroba yang bermanfaat bagi pertumbuhan ternak unggas. Mikroba-mikroba di dalam Petro Chick tidak hanya berfungsi untuk menambah kekebalan ternak terhadap serangan penyakit.

“Probiotik yang kami produksi juga meningkatkan penyerapan nutrisi dalam saluran pencernaan dan meningkatkan kemampuan ternak mencerna protein menjadi daging. Selain target panen unggas lebih cepat tercapai, Petro Chick mengurangi bau dari kotoran unggas,” ungkapnya.

Lebih lanjut Tommy menyampaikan, Petro Chick dibuat dan diproses menggunakan bahan bahan organik sehingga tidak membahayakan kesehatan ternak maupun manusia. Penggunaan Petro Chick dapat meningkatkan hasil panen sebesar 10-20%.

“Mikroba yang ada di dalam Petro Chick juga dikembangkan khusus untuk ternak unggas sehingga mampu memberikan hasil yang lebih baik dari produk lain. Petro Chick dapat diaplikasikan dengan cara dicampurkan bersama air minum atau pakan ternak,” paparnya. (Fajar Primazona)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *