, , ,

Misteri Tembang Dini Hari di Kebun Percobaan Peninggalan Belanda

sahabatpetani.com. – Saya datang ketika matahari senja baru saja tenggelam di ufuk Barat. Suasana kebun percobaan (KP) peninggalan pemerintah kolonial Hindia Belanda itu, terlihat temaram. Mendung tebal menggelayut, tampaknya air hujan sebentar lagi akan turun. Beberapa burung kedasih mencuit, berebut mencari serangga di ketinggian pohon intaran yang tumbuh meraksasa di halaman depan perkantoran.

Kompleks KP itu sepi karena para karyawan  sudah pulang. Meninggalkan kesunyian ruang-ruang gelap perkantoran, terlihat melalui jendela kaca bening. Lampu-lampu teras mulai dinyalakan oleh seseorang, sepertinya penjaga KP. Sementara air hujan sudah mulai tumpah. Bergegas saya menghampiri lelaki itu, umurnya berkisar 65 tahunan. Suara batuknya terdengar hampir tanpa jeda.

“Mau cari siapa?” Sapanya. “Kepala KP. Di mana rumahnya?” Lelaki itu menunjuk rumah bergaya art deco yang terletak di sisi Barat. Saya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Langkah kaki saya ayunkan menuju rumah dinas Kepala KP, yang berjarak sekitar 15 meter dari tempat kami berdiri.

Setelah berbasa-basi sejenak dan menyampaikan maksud kedatangan saya, Pak Edy, nama Kepala KP itu, menyarankan agar saya menginap saja di kompleks KP. “Di belakang perkantoran ada satu kamar tidur yang bisa ditempati. Hotel jauh dari sini, sekitar 35 kilometer,” katanya. Saya menyetujui usulnya, sebab setiap pagi mulai pukul enam saya harus sudah siap di lahan.

Saya mendapat tugas dari kantor untuk mengumpulkan stok gambar video budidaya berbagai komoditas. Kebetulan KP yang terletak di salah satu kabupaten di Jawa Timur ini akan menanam padi, jagung, cabai, tomat, dan bawang merah. Saya akan mendokumentasikan prosesnya, mulai dari olah lahan, pemeliharaan, hingga pemanenan. Pada tahap awal, saya akan tinggal di sini untuk dua minggu.

Saya diantar ke kamar tidur oleh penjaga KP, namanya Bajuri. Lengan kanan duda 4 anak ini hampir seluruhnya dipenuhi tato. Tingginya sekitar 170 cm, dengan punggung sedikit bungkuk. Saya mencuri pandang pada motif tato di lengan kirinya, ada gambar perempuan dililit ular. Merasa saya perhatikan tatonya, dia tersenyum.

“Saya dulu pernah jadi preman di Terminal Joyoboyo.” “Oh ya? Sampai tahun berapa, Pak?” Saya berusaha tidak kaget dengan pengakuannya. “Sejak Joyoboyo sepi, karena bis-bis luar kota pindah ke Bungurasih. Saya putuskan pulang ke kampung istri, kemudian menjadi penjaga di KP ini,” jawabnya dengan dialek Surabaya yang kental.

Kamar tidur ini tidak begitu luas untuk ukuran bangunan Belanda, hanya 3 x 4 meter. Ada kipas angin berdiri di pojok, satu lemari pakaian kecil, dan tempat tidur kayu ukuran 1 x 2 meter. Setelah berbenah saya mengeluarkan laptop,   menulis artikel untuk media daring. Air hujan semakin menderas, suaranya riuh menghantam atap. Sesekali kilatan petir menyambar dengan suara menggelegar .

Belum sampai pada paragraf akhir, pintu kamar diketuk beberapa kali.  Saya bergegas menuju pintu, membukanya. Di luar kamar tidak ada siapapun, hanya suara hujan dan hentakan angin dingin yang menyergap. Saya celingukan beberapa kali, tetap saja tidak melihat satu sosok manusia pun di situ. Mungkin ada hewan yang tidak sengaja mengetuk pintu kamar saya. Entahlah. Saya kembali menutup pintu. Bulu kuduk saya berdiri.

Sejurus kemudian saya keluar kamar untuk mencari Pak Bajuri,  dengan perasaan was-was. Suara batuknya terdengar dari sisi Timur. Saya menuju ke arahnya melalui koridor dengan tiang-tiang jati yang kokoh di sisi kiri dan kanan. Tampias air hujan mengenai wajah saya.  Di dekat gudang tua dengan pintu lebar dan tinggi itu, Pak Bajuri sedang membersihkan umbi singkong.

“Sebentar lagi saya mau bakar singkong, mari  bergabung. Singkong hasil kebun di sini terkenal enak, empuk dan gurih,” tawarnya. Saya jongkok di sebelah Pak Bajuri, membantu membersihkan beberapa umbi yang masih dipenuhi tanah. “Biasanya jika jaga malam, Pak Bajuri mangkal di mana?” “Di teras gudang, sambil melihat televisi,” jawabnya. Jarinya menunjuk gudang tua dengan penerangan seadanya itu.

“Pak, bagaimana jika jaganya di teras kamar tidur  saya. Kebetulan saya membawa beberapa roti kering dan camilan. Rokok juga ada,” saya merayunya agar mau menemani. Pak Bajuri mengangguk. “Baiklah, kita bakar-bakar singkong di teras kamar saja.” Pak Bajuri sumringah.

Tidak berapa lama setelah bakar-bakar singkong dan berbagi cerita, saya ngantuk dan pamit. Tidak menunggu lama, saya terlelap di kamar. Sekitar pukul satu dini hari, saya terbangun karena kebelet pipis. Sayup-sayup telinga saya menangkap suara tembang Jawa yang dilantunkan oleh perempuan dengan suara yang sangat merdu, sesekali suaranya menyayat. Bulu kuduk saya kembali berdiri.

Ah, bisa jadi itu suara yang keluar dari televisi yang ditonton Pak Bajuri. Dengan sisa keberanian, saya keluar kamar berniat pergi ke toilet yang letaknya kira-kira 20 meter dari kamar. Di teras saya lihat Pak Bajuri mendengkur pelan. Televisi di hadapannya menayangkan siaran langsung sepak bola, dengan volume lirih. Dari mana suara tembang itu berasal? Saya urung untuk ke toilet. Takut. Saya pun menuntaskan hajat di  botol bekas air mineral.

Jam lima pagi saya terbangun dengan tubuh lemas. Setelah kesadaran terkumpul, saya bergerak keluar kamar dengan gerakan lambat. “Nyeyak tidurnya semalam?” Tanya Pak Bajuri sambil memegang segelas kopi di tangan kirinya. “Hanya bisa tidur sebantar saja, Pak Bajuri.” Saya menguap. “Kenapa? Takut?” Pak Bajuri tersenyum. “Jujur saja, iya. Semalam saya mendengar suara perempuan nembang dengan suara sangat merdu, dan kadang menyayat.” Pak Bajuri terdiam cukup lama, suasana menjadi hening.

“Pak Bajuri juga pernah mendengar suara seperti itu?” Saya mencoba membangun kembali percakapan. “Sering! Dan tidak hanya sampean, tamu-tamu yang menginap di sini juga pernah mendengar suara yang sama. Tapi nggak usah takut Pak, ‘dia’ hanya ingin berkenalan saja.” “Dia!? Siapa yang sampean maksud dengan ‘dia’?” “Makhluk halus penunggu KP ini. Kadang juga terdengar suara percakapan dengan bahasa  Belanda.”

Sambil terbatuk Pak Bajuri meneruskan bicaranya. “Maklum lah Pak, namanya juga perkebunan peninggalan Belanda yang umurnya sudah ratusan tahun….” Jantung saya berdegup kencang, cerita penjaga KP itu tidak lagi menarik untuk didengar. Saya mencoba mencari cara, bagaimana mengatasi rasa takut  pada hari-hari selanjutnya. Masih ada belasan hari lagi yang harus saya lewati di kebun percobaan ini. (SP)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *