,

Menembus Trans Papua, Membangun Jaringan Distribusi Pupuk Bersubsidi di Boven Digoel

Begitu mendengar “Boven Digoel” yang ada dalam benak kita adalah tempat mengerikan, di mana beberapa tokoh pergerakan Indonesia pernah diasingkan. Dari mulai Mas Marco Kartodikromo, KH Misbach, hingga Bung Hatta, Sutan Sjahrir dan Mohamad Bondan, pernah merasakan kekejaman penjara alam yang didirikan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda itu.

Ternyata kabupaten yang terletak di tengah Pulau Papua dan berbatasan langsung dengan Papua Nugini ini, juga dikenal sebagai sentra hortikultura. Sebagian besar kebutuhan hortikultura di Pulau Papua disuplai dari Boven Digoel. Ironisnya, para petani di kabupaten dengan 15 kecamatan ini  belum pernah merasakan pupuk bersubsidi.

Dinas Pertanian Provinsi Papua kemudian menerbitkan Surat Keputusan Alokasi Pupuk Bersubsidi  pada tanggal 12 Januari 2018. Salah satu wilayah yang mendapatkan pupuk bersubsidi adalah Kabupaten Boven Digoel. Kami, SPDP Papua dan distributor pupuk bersubsidi CV Tias Jaya,  berkunjung ke sana untuk mempersiapkan berbagai hal terkait  penyaluran pupuk bersubsidi tersebut.

 

Lahan hortikultura di Boven Digoel (foto: Setiawan Suryo)

Bukan hal mudah untuk mencapai Boven Digoel, medan yang berat serta panjangnya jarak tempuh,  menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Dibutuhkan persiapan ekstra untuk dapat mencapai tujuan. Selain wajib membawa kendaraan dengan penggerak empat roda  dalam  kondisi yang baik dan BBM cadangan, kami juga membawa perlengkapan berkemah, perbekalan medis dan makanan yang cukup. Tidak tanggung-tanggung, kami  melibatkan tiga sopir yang sudah berpengalaman melakukan perjalanan Merauke – Boven Digoel melalui Trans Papua.

Pada pertengahan April 2018 sekitar pukul 08.00 WIT, kami berangkat dari Merauke. Sepanjang perjalanan, pemandangan alamnya luar biasa indah. Jalanan berkelok, naik turun perbukitan, belantara dengan pepohonan berdiameter 80 hingga 100 cm berdiri menembus langit. Utamanya ketika memasuki area Taman Nasional Wasur.

Beberapa kali kami menyeberangi sungai-sungai besar dengan arus lumayan deras. Sesekali terlihat kamp militer di jalur yang kami lewati. Keberadaan kamp-kamp militer tersebut, bisa jadi berkaitan dengan posisi Trans Papua yang berada di dekat perbatasan Indonesia – Papua Nugini.

Kami tiba di Tanah Merah, ibukota Boven Digoel, ketika jarum jam menunjukkan pukul 21.00 WIT. Pengukur jarak pada kendaraan kami menunjukkan angka 524 KM saat kami tiba di kota ini. Pada beberapa titik, saya melihat monumen-monumen dibangun untuk mengenang penderitaan para pendiri republik ketika diasingkan ke Boven Digoel. Salah satunya adalah patung Bung Hatta. Patung ini berdiri di tengah kota, dimaksudkan untuk mengenang jejak beliau yang pernah diasingkan di wilayah ini pada taghun 1934.

Sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan, hal yang pertama kami lakukan adalah mengunjungi Dinas Pertanian Kabupaten Boven Digoel. Tujuan kami, selain memperkenalkan diri  juga berdiskusi seputar regulasi penyaluran pupuk bersubsidi. Dalam kesempatan tersebut, kami  menginformasikan agar dinas pertanian segera menerbitkan SK Alokasi Pupuk Bersubsidi. Selain itu juga agar membentuk tim verifikasi dan validasi (verval) penyaluran pupuk bersubsidi.

Di depan UD Asri, pengecer pupuk bersubsidi di Tanah Merah (foto: istimewa)

Sambutan hangat diberikan oleh Pak Kartono selaku Kabid PSP dan Ibu Florenska Wattimena selaku Kasi Pupuk Dinas Pertanian Boven Digoel. Mereka mengatakan bahwa petani di Boven Digoel selama ini sudah menantikan hadirnya pupuk bersubsidi. Hampir setiap minggu ada petani yang berkunjung untuk menanyakan hal tersebut. Menurut informasi yang saya peroleh, dinas pertanian sebenarnya sudah mengajukan permintaan alokasi pupuk bersubsidi sejak 2013. Tapi hal tersebut baru bisa direalisasikan lima tahun kemudian.

Seusai berkunjung ke dinas pertanian, kami bergegas menuju Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Digoel untuk melengkapi dokumen legalitas. Hal ini dimaksudkan agar dapat melakukan penyaluran di wilayah setempat. Atas bantuan Dinas Pertanian Kabupaten Digoel, kami  mendapatkan surat rekomendasi penyaluran pupuk bersubsidi. (Setiawan Suryo  – SPDP Papua/Merauke)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *