Sariati Samosir, Membesarkan Tiga Anak dengan Menenun dan Bertani

sahabatpetani.com – Sariati Samosir melepas tudung yang membelit kepalanya, diusapnya keringat yang masih tersisa di kening dan leher. Matahari sudah hampir di atas kepala, ketika nenek satu cucu itu pulang dari sawah yang digarapnya. Umur padi di sawah yang hanya sepetak itu sudah hampir 20 hari, waktunya dilakukan pemupukan susulan. “Saya hanya punya sawah dengan luas 1.200 m2, itu pun sewa. Hasil panen hanya sekitar satu ton, lumayan lah buat tambahan makan sehari-hari,” katanya.

Selepas dari sawah, biasanya Sariati langsung bergelut dengan alat tenun yang terletak di ruang tamu rumah anak perempuannya. Menenun sarung dan selendang yang biasanya dikenakan oleh perempuan Batak untuk acara adat. Berbagai motif pernah dibuatnya, Piala, Pucca Bunga, Bintik, Tumtuman, dan Icor Moror.

Sarung yang ditenunnya sudah hampir jadi, masih butuh kira-kira seminggu lagi sebelum diambil oleh Toke. Perempuan yang tinggal di Desa Sitompul, Kecamatan Siatas Barita, Tapanuli Utara itu sudah lama menjalin hubungan bisnis dengan salah satu Toke. Semua kebutuhan untuk membuat kain tenun dipenuhi oleh Toke tersebut.

“Selain bahan, saya juga diberi uang muka. Jika sarung dan selendang sudah jadi, harga yang dibayar dipotong dengan uang muka dan nilai bahannya. Ada banyak Toke di sini, karena kan desa kami pusat pembuatan tenun. Tapi saya tidak menjualnya ke orang lain, sebab Toke langganan saya sudah seperti saudara sendiri,” jelasnya dengan logat Batak yang kental.

Oleh Toke, hasil karya Sariati dijual ke Medan dan beberapa kota di Sumatera Utara, sebagian lagi dijual ke Pasar Tarutung. Menurut ibu yang mempunyai tiga anak itu, di desanya kain tenun dikerjakan oleh para perempuan. Menenun merupakan pekerjaan sambilan, selain menjadi ibu rumah tangga dan mengerjakan sawah atau ladang.

Pada umumnya mereka hanya mengerjakan sarung dan selendang, hampir tidak ada yang membuat ulos. Dari berbagai motif yang mereka kerjakan, warna benang dominan emas, disusul dengan hitam dan kuning. “Sebenarnya ada satu motif lagi, namanya Sadum. Tapi saya belum bisa karena cukup rumit, membuat motif bunganya butuh ketelatenan ekstra,” akunya.

Sariati Samosir mulai menenun pada tahun 1997, belajar pada saudaranya yang memang sudah piawai. Setelah sebulan belajar, dia sudah bisa membuat sarung dengan motif Piala. Aktivitasnya sebagai penenun, bermula dari kondisi ekonomi rumah tangganya yang semakin sulit. Suaminya masih belum mempunyai pekerjaan tetap, meskipun sudah punya tiga anak yang harus dihidupi.

Dengan bekal pendidikan hanya kelas 3 SD, tidak mudah baginya untuk mendapatkan pekerjaan. Peluang mendapatkan uang untuk keluarga hanya dari menenun, seperti dilakukan oleh mayoritas ibu rumah tangga di desanya. “Hasilnya lumayan, jika bisa menyelesaikan 2 pasang (sarung dan selendang), saya membawa uang sekitar Rp. 5 juta. Selain untuk makan, juga untuk biaya sekolah anak-anak,” paparnya.

Dari hasil menenun, Sariati mampu menyekolahkan anak lelakinya yang nomor dua hingga menjadi sarjana. Saat ini dia bekerja di sebuah perusahaan swasta di Bekasi. Dua anak yang lain hanya bersekolah hingga SMA, yang perempuan menjadi ibu rumah tangga dan menjadi penenun juga. Sedangkan anak bungsunya bekerja di Batam.

“Meskipun saya berpendidikan rendah, dan suami kurang bertanggung jawab, tapi saya ingin  pendidikan anak-anak berantakan. Makanya saya berusaha bagaimana caranya agar mereka mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, sehingga bisa mendapat peluang menggfapai masa depan yang lebih baik,” jelas perempuan tangguh ini. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *