Penampakan Asap Putih di Bekas Sumur Tua

sahabatpetani.com – Kemarau panjang membuat irigasi menjadi tidak lancar, padahal padi di sawah sudah meninginjak usia promordia. Untuk memenuhi kebutuhan air, kami yang tergabung dalam kelompok tani “Rukun Makmur”, membuat sumur bor. Biaya sumur tersebut  kami tanggung bersama, ditambah dengan uang kas yang tersisa.

Lokasi  yang kami pilih di dekat pematang sawah milik Pak Mardi, ketua kelompok tani. Pemilihan lokasi pengeboran sumur, didasarkan pada saran Mbah Ngamin, penduduk paling tua di desa kami. Saat itu saya dan Pak Mardi meminta masukan kepada Mbah Ngamin lokasi mana yang tepat untuk dilakukan pengeboran.

“Dulu di dekat pohon klampis ada sumur tua. Tapi ketika gempa bumi pada tahun ’60-an, entah bagaimana ceritanya sumur itu lenyap,” kata Mbah Ngamin. “Pohon klampis yang sebelah mana, Mbah?” Tanya Pak Mardi. “Yang dekat sawahmu itu lho. Almarhum kakekmu yang menanamnya. Kamu masih belum lahir ketika gempa itu terjadi,” jelasnya.

Menurut Mbah Ngamin ketika masih aktif, sumber air di sumur tua itu tidak pernah kering, meskipun kemarau panjang sekalipun. Dengan pertimbangan tersebut,  dia menyarankan agar membuat sumur bor, tidak jauh dari pohon klampis itu. Kami pun pulang, dan esoknya mendatangkan tukang sumur bor. Lokasi yang kami pilih tiga meter di sisi selatan pohon klampis.

Tidak sampai sehari, ketika penggalian baru mencapai 20 meter, air dengan debit cukup besar menyembur. Tentu kami menyambut dengan sukacita. Sebagai rasa syukur, kami melakukan selamatan dengan membawa tumpeng ke dekat sumur itu, pada keesokan harinya. Setelah dibacakan doa syukur oleh Mbah Kaji Marjan,  kami makan bersama dengan semua anggota kelompok tani.

Karena tidak memungkinkan dialirkan ke semua petak sawah milik anggota kelompok tani dalam waktu bersamaan, irigasi dilakukan secara bergiliran. Jadwal pun dibuat, termasuk jadwal piket anggota kelompok tani yang mengoperasikan pompa. Operasi pompa dibagi dalam dua shift, dari jam enam pagi hingga dua belas malam.

Waktu itu saya mendapat tugas jaga malam, saya berangkat sekitar pukul tujuh. Saya berjaga dengan Pak Malik, janjian ketemu di lokasi.  Saya sengaja mengendarai kendaraan bak terbuka, karena pulangnya sekalian mengambil rumput gajah di rumah Pak Raji, untuk pakan sapi.

Kami sampai di lokasi tepat ketika adzan sholat Isya’ berkumandang.  Kami pun segera mendirikan sholat di dangau yang terletak beberapa meter dari sumur. Setelah selesai sholat, saya memeriksa tangki bahan bakar pompa. Dan segera menambah isinya agar tidak kehabisan. Pak Malik membuka bekal yang dibawanya dari rumah. Dia mengeluarkan pisang goreng, kacang rebus, rokok dan termos berisi kopi.

Malam mulai merambat, jarum jam pendek di tangan saya menunjuk ke angka sembilan. Hawa dingin mulai menusuk tulang, saya menaikkan krah jaket untuk menutup tengkuk. Dari kejauhan terdengar suara burung hantu, dan jeritan tikus yang dimangsanya. Saya perhatikan Pak Maliki terlihat gelisah. Sesekali dia memegang perutnya, sambil mengaduh ringan.

“Perut saya sakit, bagaimana jika kita pulang sekarang. Mungkin karena sambal yang luar biasa pedas waktu makan malam tadi,” ajak Pak Maliki. “Bagaimana jika sampean duluan saja, nggak enak jika  terjadi apa-apa, dan nggak ada yang jaga.” “Baik jika begitu, maaf ya saya pulang dulu.” Pak Maliki bergegas mengendarai motornya menembus kegelapan malam.

 

Tinggal lah saya sendiri ditemani suara pompa, nyanyian jangkrik dan desau angin. Saya mengambil sebatang kretek, menyalakan dan menghisap dalam-dalam. Kopi di gelas dari tutup termos milik Pak Malik sudah dingin. Saya hirup pelan-pelan, rasa kopi bercampur jagung gosong terasa di lidah.

Udara semakin dingin, malam sudah hampir paripurna. Entah kenapa suasana menjadi hening. Suara pompa air melemah, mesinnya menghabiskan solar terakhir. Jarum jam sudah menunjuk lewat jam dua belas. Saya segera beranjak untuk mematikan pompa. Tapi langkah saya terasa berat. Seperti ada yang menahan dari belakang.

Ketika mulai bisa melangkah, saya melihat asap putih keluar dari rerimbunan pohon klampis. Semakin lama asap itu semakin tebal. Saya terkesiap. Jantung berdetak dengan sangat kencang, keringat dingin mengucur. Asap tebal itu pun membentuk sesosok makhluk seputih kapas.

Makhluk itu meliuk-liuk sekejap, sebelum akhirnya melesak ke tanah di dekat sumur bor. Bersamaan dengan hilangnya makhluk tersebut, pompa mati. Untuk beberapa menit saya mematung. Setelah bisa menguasai keadaan, saya berlari sekuatnya menuju  mobil yang saya parkir di pinggir jalan. Saya langsung pulang, tidak jadi mengambil rumput gajah di rumah Pak Raji. (Seperti dikisahkan oleh Pranoto)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *