Ronald Indrayanto Siahaan, Pulang Kampung untuk Menciptakan Lapangan Kerja dan Membangun Desa

sahabatpetani.com – Tidak banyak anak muda, apalagi sudah meraiih gelar sarjana, yang memilih bertahan di desa kelahirannya, menekuni profesi sebagai petani atau peternak. Di antara sedikit sarjana berusia muda yang bekerja mengeksplorasi potensi desanya adalah Ronald Indrayanto Siahaan. Setelah lulus jenjang strata 1 teknologi pertanian Universtas Bengkulu tahun 2014, Ronald memgembangkan usaha yang dirintis orang tuanya, beternak ayam kampung.

Anak muda kelahiran 4 Januari 1992 itu melihat bahwa prospek usaha ayam kampung masih cerah. Karena bagi masyarakat Batak pada umumnya, kata Ronald, ayam kampung merupakan salah satu komponen penting ketika keluarga batak melaksanakan upacara adat. Seperti pada upacara pernikahan, menerima tamu yang dihormati, atau ketika melepas anaknya untuk merantau.

“Di Simalungun kami biasa menyebutnya dengan ayam mirah, selain untuk pelengkap upacara juga sebagai hidangan buat tamu yang hadir. Ayam kampung biasanya dimasak untuk Dayok Nabinatur. Masakan ini diberikan kepada orang atau kelompok orang, sebagai ucapan terima kasih,” jelasnya.

Dayok Nabinatur harfiah berarti ayam yang dimasak dan disajikan dengan teratur. Keteratutan tersebut dimulai dari proses penyembelihan, pemotongan tiap bagian ayam, hingga penyajian. Penyajiannya ditata sedemikian rupa, sehingga potongan-potongannya membentuk  ayam utuh.

“Untuk upacara di lingkungan keluarga, Dayok Nabinatur diberikan kepada anak yang akan merantau. Keluarganya berharap agar anaknya selama di perantauan tahu etika  dan sopan-santun. Yang memasak makanan tersebut kebanyakan para lelaki. Ayam kampung yang digunakan biasanya yang jantan,” papar bapak satu anak ini.

Melihat permintaan ayam kampung terus meningkat, Ronald mengembangkan usaha orang tuanya. Modal awal sebesar Rp. 8 juta dipinjam dari bapaknya. Uang tersebut untuk biaya pembelian bibit, pakan, dan obat-obatan. Untuk kandang ayam, dia memanfaatkan bekas kandang sapi dengan sedikit modifikasi.

Semula Ronald hanya mampu menghasilkan 100 ekor ayam per bulan, kemudian berkembang menjadi 200, 300, dan saat ini mampu menghasilkan 1.500 per bulan. Ayam-ayam tersebut dijual hidup ke pengepul.  “Pada awal beternak, saya hanya untung antara Rp 1 hingga Rp. 2 juta dalam tempo 3 – 4 bulan. Saat ini saya bisa meraup untung sekitar Rp. 10 juta per bulan,” akunya.

Menurut Ronald, dari sisi pemeliharaan hampir tidak ada masalah. Mulai dari pakan hingga pencegahan dan pengendalian penyakit bisa diatasinya dengan baik. Justru kendala utamanya adalah permainan harga dari pengepul. Hal ini yang membuatnya agak memusingkan, karena bisa berpengaruh pada keuntungan yang dia dapat.

Selain menjalankan usaha peternakan ayam kampung, Ronlad juga punya aktivitas lain yang tidak kalah penting. Sejak satu tahun ini dia mengajar teknologi pertanian di salah satu SMK di dekat rumahnya. Ronlad juga bertani kopi di lahan seluas satu hektar milik orang tuanya.

Ketika ditanya kenapa dia memilih bekerja di desanya, sedangkan banyak anak muda yang baru lulus kuliah memilih bekerja di kota, Ronald tersenyum. “Menurut saya, sarjana itu harus bisa menciptakan lapangan kerja, dan membangun desanya sendiri,” ungkapnya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *