Harum Mistis Wijaya Kusuma

sahabatpetani.com – Di halaman rumah saya, di sebuah desa di lereng Gunung Penanggungan, saya menanam berbagai bunga. Ada bunga hias warna-warni yang mekar dan harum pada pagi hari, seperti mawar, melati, dan lili . Ada pula bunga yang mekar malam hari seperti arum ndalu, dan sedap malam. Sebenarnya ada satu lagi bunga yang  mekar malam hari, bunga wijaya kusuma.

Beberapa orang mengatakan bahwa bunga yang mekar dan mengeluarkan aroma harum pada malam hari, identik dengan hal-hal gaib. Tapi tentu saya tidak percaya begitu saja, dengan mitos-mitos itu.

“Rumah yang ditanami wijaya kusuma, hingga bunganya bisa mekar dan berbau harum, keluarga penanamnya akan mendapatkan rejeki melimpah,” kata Barjo, salah satu kawan sesama anggota kelompok tani di desa kami. “Tidak hanya itu, jika bunga wijaya kusuma bisa mekar, pemilik rumahnya akan mendapatkan kejayaan,” lanjutnya.

Saya memang punya bunga  kusuma. Bunga ini masih keluarga kaktus, bentuk daunnya pipih tapi tidak berduri seperti kaktus pada umumnya. Saya mendapatkan bunga ini dari kawan yang tinggal di Cilacap. Bibit wijaya kusuma didapatkannya dari Teluk Penyu.

Jujur saja, sejak awal menanam bibit bunga wijaya kusuma empat tahun  lalu, belum pernah sekalipun berbunga. Sebelumnya kawan saya pernah menyampaikan bahwa cukup mudah menanam tanaman ini. Tapi untuk menjadikan tanaman bisa berbunga, membutuhkan ketelatenan dan ‘nasib baik’.

Jika bunga-bunga  lain bermekaran, baik pagi, siang, dan malam hari, mewarnai hari-hari di keluarga kami, bunga wijaya kusuma bergeming. Tapi entah kenapa saya tetap bersabar menunggu keluarnya bunga yang terbilang cukup langka ini.

Pada sebuah sore sepulang dari kebun kopi, saya melakukan aktivitas rutin,  membersihkan daun dan bunga yang layu dan luruh di tanah, kemudian menyiramnya. Setelah itu mengamati satu-persatu, untuk menikmati warna dan keharuman yang menguar dari bunga-bunga tersebut.

Ketika sampai pada bunga wijaya kusuma, saya melihat kuncup bunga. Setengah tidak percaya, saya mengamati lebih dekat. Ternyata tidak salah, bunga wijaya kusuma mulai berkuncup di lekukan tepi bunga. Jumlahnya tidak hanya satu, tapi sekaligus tiga. Tentu saja saya gembira luar biasa, dan berharap agar bisa terus tumbuh dan mekar.

Kegembiraan saya bukan karena dengan mekarnya bunga tersebut, berharap diikuti melimpahnya rejeki. Tapi penantian selama bertahun-tahun untuk bisa melihat sendiri bagaimana bunga wijaya kusuma bisa mekar, tidak lah sia-sia.

Saya merasa sudah berusaha dengan maksimal, bagaimana caranya agar tanaman bunga yang saya koleksi, bisa tumbuh dan berbunga dengan optimal. Tinggi wijaya kusuma milik saya sudah hampir 2 meter, dengan daun-daun selebar tidak kurang dari14 cm. Sebenarnya sudah saatnya untuk berbunga.

Saya segera mengabarkan berita gembira ini kepada istri yang sedang sibuk di dapur. “Bu, kamu tahu nggak, bunga wijaya kusuma kita sudah ada kuncup bunganya lho.” Istri saya menghentikan aktivitasnya sekejap. “Masak sih, Pak? Apa sudah kamu pastikan lagi itu benar-benar kuncup bunga?” “Ya iya lah!” “Syukurlah, akhirnya kamu berhasil juga.”

Menurut referensi yang saya baca, wijaya kusuma akan mekar sempurna pada puncak malam, sekitar pukul 12.00. Maka ketika kuncup bunga itu mulai menandakan segera mekar, saya pun siap-siap begadang untuk menyaksikan detik-detik prosesnya.

Pukul 11.00 malam saya  duduk di bangku taman, yang sengaja saya geser agar lebih dekat dengan bunga wijaya kusuma. Sambil sesekali menghirup kopi, saya mengamati perkembangannya. Empat puluh menit kemudian kuncup bunga mulai menggelumbung, kemudian kelopak-kelopak mulai mengembang dengan pelan.

Pukul dua belas kurang lima menit, bunga mekar sempurna, diiringi dengan aroma harum yang unik. Entah kenapa, bulu kuduk saya tiba-tiba  meremang. Ada aura mistis menyelimuti udara malam itu. Bisa jadi hal ini disebabkan  pengaruh dari cerita-cerita misteri seputar wijaya kusuma yang saya dengar dan baca.

Benarkah setelah ini saya mendapatkan rejeki melimpah, seperti mitos selama ini yang berkembang di sebagian masyarakat? Benarkah saya akan mendapatkan kejayaan? Entah lah.Tapi puncak mekarnya bunga membuat hati saya bahagia. Bukankah mendapatkan  kebahagiaan hakekatnya rejeki juga? (Seperti diceritakan oleh Purwadi / foto: http://www.projectnoah.org)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *