Oleh-oleh dari Sumedang, Waida Farm, dan Kisah Tatang Kuswara

Bulan Juli merupakan bulan yang penuh aktivitas, berkaitan dengan hari ulang tahun PT Petrokimia Gresik. Ada banyak kegiatan untuk merayakan tanggal lahir pabrik pupuk terlemgkap di Indonesia itu. Tahun ini perusahaan tempat kami mencari nafkat sudah berumur 46 tahun.

Yang membedakan perayaan ulang tahun PT Petrokimia Gresik kali ini, utamanya pada  jambore petani muda, adalah dengan melibatkan siswa SMK Pertanian. Oh ya, sudah dua kali ini PT Petrokimia  Gresik mengadakan jambore petani muda. Jambore sebelumnya dilaksanakan tahun 2017, diikuti oleh 80 petani  muda sukses dari berbagai povinsi di Indonesia.

Jambore Petani Muda II tahun 2018, juga akan dilaksanakan pada bulan Juli. Dengan mengundang hampir 80 SMK Pertanian di seluruh Indonesia untuk mengirimkan makalah ilmiah. Nantinya akan dipilih 20 makalah terbaik untuk diuji di PT Petrokimia Gresik. Tim jurinya dari berbagai unsur, baik dari akademisi maupun praktisi pertanian.

Berkaitan dengan hal tersebut, perusahaan menugaskan kami, staf Departemen Promosi dan Perencanaan Pemasaran,  melakukan sosialisasi ke SMK Pertanian yang akan diundang. Saya mendapat tugas   sosialisasi di wilayah Bandung, Sumedang, dan Garut. Total ada 5 SMK Pertanian; SMK PPN Tanjungsari, SMK PPN Lembang, SMK Negeri 4 Padalarang, SMK Negeri 3 Bale Endah, dan SMK Negeri 5 Pangalengan.

Setiap kegiatan sosialisasi kami melibatkan petani muda sukses, yang pernah ikut Jambore Petani Muda I tahun 2017. Karena wilayah saya di Jawa Barat, saya mengajak Juwita, pemilik Waida Farm. Perusahaan yang dikelolanya bergerak di bidang agribisnis budidaya ciplukan. Usaha ini dimulai dari nol hjingga berhasil meraih  omset Rp. 100 juta per bulan.

Tujuan dari melibatkan petani muda sukses, diharapkan bisa menginspirasi anak-anak muda agar mencintai dunia pertanian. Para petani muda sukses tersebut sudah membuktikan bahwa bidang pertanian merupakan bidang yang usaha yang mempunyai prospek bagus. Tentu saja usaha tersebut harus dikelola dengan kerja keras dan cerdas.

Setelah melakukan sosialisasi di SMK Tanjungsari Sumedang, saya diajak Juwita berkunjung ke rumah orang tuanya.  Rumahnya terletak di Desa Pemulihan, Kecamatan Pemulihan, Sumedang. Rumah dari anyaman bambu yang tidak begitu besar itu berdiri di lahan yang cukup luas.  Halaman depan digunakan untuk lahan persemaianan beberapa komoditas.

Saya disambut oleh ayahnya dengan hangat. “Perkenalkan, nama saya Tatang Kuswara, ayah Juwita. Mari masuk,” katanya dengan ramah. Kami pun berbagi cerita. Pak Tatang Kuswara yang mengaku lahir tahun 1953 ini banyak bercerita  mengenai aktivitasnya di lahan, dan tentang anak-anaknya. Bagaimana cara dia untuk mendidik mereka, sehingga bisa berhasil menjadi manusia mandiri.

Tatang Kuswara (foto: Sahran)

Lelaki dengan penampilan sederhana ini  merupakan petani yang tekun dan ulet. Dari hasil bertani, dia mampu mengantarkan 5 anaknya meraih gelar sarjana. Dua anaknya menjadi guru,ada yang di Kemneterian Pertanian, dan satu lagi di industrti tekstil.  Sedangkan Juwita merupakan  anak bungsunya. Waida Farm dikembangkannnya setelah lulus S1 Jurusan Budidaya Pertanian Unpad. Saat ini Juwita sedang menyelesaikan S2 di universitas dan jurusan yang sama.

“Kunci dari memenangkan persaingan adalah inovasi. Siapa yang tidak mampu berinovasi, maka akan terpinggirkan,” jelas sarjana pertanian ini. Pak Tatang juga menambahkan, banyak perusahaan besar di dunia ini yang gulung tikar karena tidak mampu atau tidak cepat melakukan inovasi. “Sehingga perusahaan yang tadinya sudah mapan sekalipun,  akhirnya  gulung tikar,” ujarnya mengakhiri perbincangan kami. (Sahran)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *