Aplikasikan Petroganik dan PHONSKA Plus, Hasil Panen Berbagai Komoditas Meningkat

Kesadaran petani  di Desa Ngadiluwih, Kecamatan Matesih, Karanganyar akan pentingnya pemupukan berimbang, terus meningkat. Utamanya dalam  mengaplikasikan pupuk organik dan pupuk NPK yang berkualitas. Hal ini diungkapkan oleh Karji, pemilik UD Andalas, kios pertanian yang menjual berbagai kebutuhan budidaya petani di Desa Ngaduliwih.

Karji mengungkapkan, sebelumnya petani di desanya enggan untuk mengaplikasikan pupuk organik, karena dianggap tidak ada manfaatnya. Hal ini diakuinya ketika dia mulai menebus Petroganik, pupuk organik produksi PT Petrokimia Gresik.

“Pertama kali menebus Petroganik sekitar 10 tahun yang lalu, tidak ada satupun petani di desa ini yang mau membelinya. Padahal saat itu kesuburan tanah di sini sudah mulai berkurang. Hal ini ditandai dengan menurunnya hasil panen, meskipun sudah banyak menggunakan pupuk,” paparnya.

Karji memahami, petani tidak cukup hanya butuh penjelasan secara lisan, tapi mereka minta pembuktian. Akhirnya dia membuat demplot swadaya di lahan horti miliknya pada tahun 2008. Pada 15 hari sebelum tanam, dia tebarkan Petroganik. Pada aplikasi pertama, memang masih belum terlihat hasilnya.

“Baru setelah aplikasi pada dua musim berikutnya, hasilnya mulai kelihatan. Tanah menjadi gembur, pertumbuhan tanaman lebih cepat, dan penggunaan pupuk lebih efektif. Jika selama ini dipupuk berapapun hasil panennya tetap, bahkan menurun. Setelah diberi Petroganik, pupuk lebih irit, tapi hasil panen bertambah,” akunya. Selain itu, kata Karji, olah lahannya lebih ringan, meskipun saat musim kemarau.

Keberhasilan Karji dalam menyuburkan tanah di lahannya, diikuti oleh petani di desanya. Saat ini mayoritas petani di desanya sudah mengaplikasikan Petroganik di lahan mereka. Lebih-lebih dengan kehadiran PHONSKA Plus, pupuk NPK dengan tambahan zink produksi PT Petrokimia Gresik, hasil panen mereka meningkat signifikan.

“Situasinya sama dengan ketika pertama kali Petroganik masuk di desa kami. Saya membuat demplot PHONSKA Plus secara swadaya untuk tanaman melon. Dengan PHONSKA Plus, ternyata hasil panennya meningkat. Dari yang sebelumnya 2 – 3 kilogram per buah, meningkat hingga 4,5 kilogram per buah. Selain itu kulitnya menjadi lebih tipis, dan rasa juga lebih manis,” ungkapnya.

Selain melon, Kardi juga mengaplikasikan Petroganik dan PHONSKA Plus untuk semangka, mentimun, terong, dan kacang panjang. Saat ini dia menggarap lahan seluas 5.000 hektar yang tersebar di tiga lokasi. Dia mengaku melakukan sistem pola tanam berseling antara tanaman pangan dan horti.

Keberhasilan Petroganik dan PHONSKA Plus dalam meningkatkan panen berbagai komoditas, diakui oleh Ngadi, petani yang tinggal di Desa Kedung Menjangan, Kecamatan Matesih. Konsumen setia UD Andalas ini menyampaikan, sudah 8 tahun ini dia mengaplikasikan Petroganik. Sedangkan untuk PHONSKA Plus,  Ngadi baru mengaplikasikan dua tahun terakhir.

“Saat ini saya menanam kacang panjang, dan sudah mulai dipanen. Dengan Petroganik dan PHONSKA Plus, kacang panjang di lahan saya menjadi lebih panjang dan lebih besar. Panjangnya mencapai hampir 1 meter,” terangnya.

Selain itu, menurut Ngadi, tekstur kacang panjang menjadi lebih keras. Sebelum menggunakan PHONSKA Plus, dia mengakui tekstur kacang panjang yang ditanamnya lebih lunak dan gampang layu. Hal ini menyebabkan harga kacang panjang menjadi lebih murah.

“Alhamdulillah, dengan PHOSNKA Plus hasil panen horti yang saya tanam meningkat, dan kualitasnya bagus, sehingga harganya juga ikut meningkat. Sudah 3 musim tanam ini saya menggunakan PHONSKA Plus untuk kacang panjang dan melon. Sedangkan untuk pangan saya menggunakan PHONSKA yang subsidi,” terang anggota Poktan “Ngudi Makmur” itu.

Bertambahnya petani yang sudah mengaplikasikan Petroganik, diamini oleh Trisyawati, dari CV Akar Daya Sakti, distributor PT Petrokimia Gresik di Kabupaten Karanganyar. Dia mengaku serapan Petroganik di wilayah kerjanya, meningkat signifikan sejak tahun 2017.

Untuk meningkatkan kesadaran petani akan pentingnya pupuk organik, jelas Trisyawati, selain mengadakan sosialisasi, pihaknya juga membuat demplot di beberapa lokasi. Hasil demplot tersebut, baik horti maupun pangan, mampu meningkatkan hasil panen.

“Kami akui,  sebelumnya ada  beberapa petani yang  sudah membuat pupuk organik sendiri. Tapi mereka lebih memilih Petroganik, selain mudah aplikasinya, pupuk organik ini bebas biji gulma dan mikroba patogen yang merugikan tanaman,” terangnya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *