,

Pohon Trembesi, Belik, dan Pulung yang Berpindah

Pohon trembesi yang kokoh berdiri di tengah ladang itu entah sudah berapa tahun umurnya. Sumali yakin lebih dari seratus tahun. Saat ini saja dia sudah menginjak 52 tahun. Ketika pertama kali diajak ke ladang milik kakek buyut yang diwariskan hingga ke dirinya itu, Sumali masih kelas 3 sekolah dasar. Pohon itu sudah tumbuh tinggi besar menjulang ke langit.

Dia pernah mencoba melingkarkan kedua tangannya di batang pohon trembesi itu, hanya mencapai kurang dari seperempat diameter batang. Tepat di kaki trembesi tua itu ada belik dengan air bening yang mengalir tanpa henti, meskipun musim kemarau panjang sekalipun. Air tumpahnya dialirkan melalui kanal-kanal kecil, untuk irigasi. Sumali sering berenang dan mencari udang-udang kecil, sembari menunggu ayahnya kerja di ladang.

Keberadaan mata air yang tidak pernah surut itu, membuat tanah di sekitarnya menjadi subur. Berbagai tanaman tumbuh dengan panen yang memuaskan. Ladang milik ayahnya kebanyakan ditanamai komoditas horti, seperti cabai, tomat, terong, dan, semangka. Beberapa petak di antaranya ditanami umbi-umbian.

Tapi jaman terus berubah, dulu sepanjang mata memandang, di sekitar lahan milik keluarga besarnya itu hanya ada hamparan lahan pertanian. Tapi kini sudah banyak  perumahan baru, baik yang dibangun oleh perorangan, maupun pengembang. Sebagian lagi menjadi area pergudangan dan industri. Termasuk area di dekat lahannya.

Sejak berdiri pabrik air mineral kemasan, debit air di belik jauh berkurang. Bahkan sudah beberapa kemarau ini kering sama sekali. Hal ini tentu saja berpengaruh pada pertanian di sekitarnya. Ketika waktunya menanam cabai dan semangka pada musim kemarau, para petani sulit merndapatkan air. Air irigasi dari belik di bawah trembesi tua itu tak bisa diharapkan lagi.

Pada kemarau yang kesekian kalinya, para petani kebingungan mencari air untuk tanaman di lahan meraka. Untuk mengatasi hal tersebut, dia dan teman-teman sesama petani harus mengambil air di sungai, yang letaknya cukup jauh. Pernah terpikir untuk memompa saja, dari sungai ke laham mereka. Tapi dibutuhkan pompa dengan kekuatan tinggi, yang harganya tentu saja mahal.

Sumali pasrah ketika melihat semangkanya merana kekurangan air. Sebab debit air sungai mulai surut. Sedangkan semangka sudah banyak yang berbuah. “Bagaimana bisa menghasilkan panen yang bagus, jika kondisinya terus begini,” keluhnya.

Karena masih belum juga bisa memicingkan mata, Sumali berjalan-jalan hingga mendekati lahan semangka miliknya. Entah kenapa, dia terkenang masa kecilnya. Ketika berburu kunang-kunang dengan teman-teman sepermainan di dekat belik berair bening itu. Dibelokkannya kaki menuju ke arah pohon trembesi tua.

Beberapa depa sebelum mencapai belik, langkah Sumali terhenti. Dirasakan angin dingin berhembus menerpa tubuhnya. Semakin lama angin itu semakin kencang, trembesi raksasa itu hingga bergoyang. Bulu kuduknya sontak berdiri.

Dari belik di bawah trembesi itu mengepul asap putih yang semakin lama-semakin tebal. Asap putih membumbung ke atas hingga mencapai dedaunan, sebelum melesat menuju ke arah pabrik mineral. Tubuh Sumali bergetar, jantungnya berdegup kencang. Tapi langkahnhya seperti terpateri di tanah yang dipijaknya.

Setelah asap melesat jauh dan masuk ke bubungan pabrik yang lampunya terang itu, dia merasakan lemas. Sumali mencoba untuk bersimpuh, keringat dingin di keningnya diusap dengan tangan kiri. “Makhluk apa gerangan yang barusan saya lihat itu!?” Tanyanya setengah berteriak, suaranya bergetar. Tak ada jawaban, hanya udara dingin dini hari menusuk tulang, Sumali merapatkan jaketnya.

Lekaki paruh baya berusaha berdiri, kemudian berjalan pulang menembus kabut pagi. Di benaknya, bayangan asap putih terus berlesatan. “Pertanda apakah itu? Apakah sasmita akan gagalnya panen? Apakah petunjuk tentang bagaimana kami harus bersikap?” Sumali terhuyung.

Sesampai di rumah, dia melihat istrinya menjerang air. “Dari mana Pak? Kok semalaman nggak pulang?” Ada kecurigaan di wajah istrinya. Sumali tidak segera menjawab. Dia duduk di bale bambu dekat dapur. Istrinya mendekat, ditatapnya wajah sumali dalam keremangan cahaya pagi. “Wajahmju pucat.”

Sumali menoleh pelan, menatap istrinya. “Saya melihat hantu di dekat belik.” Istrinya terkesiap, lalu duduk merapat di dekat suaminya. “Hantu!? Seperti apa wujudnya?” “Asap putih yang membumbung dari dasar belik yang kering itu. Asap itu melesat menuju ke arah pabrik air mineral.”

Dahi istrinya berkerut, matanya yang bulat itu menerawang jauh menembus dinding dapur rumah. “Jangan-jangan  sasmita, Pak.” ‘Sasmita gimana?” “Sumber air dari belik yang tidak pernah kering itu sudah berpindah. Ya, pindah ke pabrik air mineral itu,” jawab istrinya datar.

Sumali teremenung. Dia ingat awal berdirinya pabril air mineral itu. Bukankah mereka membuat beberapa sumur dengan menggunakan bor besar? Begitu yang dia dengar dari mandor proyek, yang menjadi menantu kepala desanya. Ah! Pulung itu sudah berpindah. Atau tepatnya dipaksa pindah. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *