Sekilas tentang Mangga Alpukat, Mangga Andalan Kabupaten Pasuruan

Beberapa tahun terakhir ini semakin banyak pecinta buah  yang melirik mangga alpukat sebagai pilihan ‘pencuci mulut’.  Dinamakan Mangga Alpukat, karena salah satu cara penyajian mangga ini mirip Alpukat.  Buahnya bisa dibelah kemudian langsung disantap dengan menggunakan sendok. Hanya saja jika Alpukat dibelah membujur, Mangga Aplukat dibelah melintang. Untuk mengambil bijinya cukup mudah, tinggal diputar dan ditarik.

Menurut Balitbang Pertanian, mangga jenis Gadung Klonal 21 ini sudah berkembang dalam skala komersial di Kabupaten Pasuruan sejak tahun 1994, melalui program Pembangunan Pertanian Rakyat Terpadu. Area Mangga Alpukat di kabupaten tersebut, hingga Juni 2017 seluas 3.925 hektar, dengan jumlah tanaman sebanyak 337.375 pohon. Sentra mangga dengan harga jual tinggi ini terdapat di tiga kecamatan; Rembang, Wonorejo, dan Sukorejo.

Mangga Alpukat sangat disukai karena memiliki beberapa keunggulan. Selain berukuran buah besar, dan daging buah tebal, kuantitas serat pada daging buah juga rendah. Kadar pati mangga ini cukup tinggi, (10,27 %), dengan kadar air rendah (75-77 %), dan rasanya manis (TSS 15-21 °Brix).

Dengan beberapa keunggulan tersebut, mangga varietas unggul dari Pasuruan ini mendapat penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara.  Penghargaan tersebut diperoleh dalam lomba Agribis Holtikultura Tanaman Buah Mangga Tingkat Nasional pada tahun 2013.

Mangga Alpukat merupakan buah tahunan yang berbuah 1 hingga 2 kali dalam setahun. Mangga Alpukat yang berasal dari bibit cangkok, dapat dipanen setelah berumur 3 tahun setelah tanam. Sedangkan bibit  yang berasal dari biji, mulai panen setelah berumur 4-5 tahun setelah tanam.

Sebenarnya saat umur 2 tahun bibit cangkok Mangga Alpukat sudah mulai berbuah namun belum optimal. Pada saat muncul buah pertama, sebaiknya dilakukan penjarangan buah. Penjarangan buah perlu dilakukan, agar buah dapat tumbuh  optimal. Ukurannya lebih besar, bersih, dan bebas dari serangan penyakit. Rangkaian buah yang terlalu banyak dapat menyebabkan buah menjadi cacat dan mudah terserang penyakit.

Mangga ini tidak hanya bisa ditanam di lahan yang luas, tapi bisa juga di pekarangan rumah dan dalam pot atau tabulampot.  Secara umum, perlakuannya tidak jauh berbeda, yang perlu diperhatikan adalah  pemilihan bibit dan pemeliharaan. Pemilihan bibit ini penting karena jika bibitnya kurang bagus, akan menghasilkan buah yang tidak berkualitas.

Yang dimaksudkan dengan pemeliharaan di sini adalah pemupukan, peyiraman, dan pengendalian hama dan  penyakit. Penyiraman disesuaikan dengan kondisi cuaca, pada saat musim kemarau intensitas penyiraman harus di tingkatkan. Sebaliknya ketika musim penghujan penyiraman harus dikurangi.

Pemupukan idealnya menggunakan kombinasi antara pupuk organik dan non organik. Aplikasi pupuk organik sebanyak 20 kilogram per pohon , diberikan pada saat pemupukan dasar, saat tanaman belum menghasilkan (TBM), maupun ketika tanaman menghasilkan (TM). Sedangkan untuk aplikasi NPK dan ZA masing-masing diberikan sebanyak 1 dan 2 kilogram per pohon, pada saat TBM maupun TM. (SP)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *