Perjalanan Hidup Wakil Bupati Tanah Datar, Mengalir Seperti Air Lona di Dekat Kampungnya

Tidak pernah terbersit sedikitpun dalam pikiran Zuldafri Darma suatu ketika dia akan menjadi orang terpandang di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Sebelum menjadi Wakil Bupati, bapak 2 anak ini menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Tanah Datar selama 2 periode. Hidupnya mengalir seperti air lona (sungai) di dekat kampungnya.

Sebagai anak yang lahir dari keluarga petani miskin di Jorong Silabuak, Nagari Parambahan, Kecamatan Limo Kaum, dia menjalani masa kecilnya sengan segala keterbatasan. Tetapi lelaki yang lahir pada 4 September 1963 ini tidak menyerah pada nasib. Dia berusaha keras agar kehidupannya menjadi lebih baik lagi.

Berbagai pekerjaan dijalaninya sejak muda, mulai dari  pencari pasir di sungai, menjadi sopir Bis Kopatra antar kabupaten di Sumatera Barat, membudidayakan ikan di sungai, dan bertani. Bakat kepemimpinannya mulai terasah ketika menjadi ketua kelompok tani di Nagari Parambahan pada tahun ‘90an.

Karir politik anak ke 4 dari 7 saudara itu dimulai sejak bergabung di salah satu ormas. Zuldafri juga aktif di berbagai  organisasi olah raga. Hingga saat ini dia menjabat sebagai  Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI),  Ketua PSSI, dan Ketua Persatuan Olah Raga Buru Babi (Porbi) Tanah Datar.

“Saya menjadi Ketua DPRD Tanah Datar selama dua periode. Periode pertama untuk masa bhakti 2009-2014, dan periode kedua  2014-2019. Tapi karena masyarakat Tanah datar mendukung saya untuk mencalonkan diri sebagai wakil bupati, jabatan terebut saya lepas. Dan Alhamdulillah saya  terpilih menjadi Wakil Bupati periode 2016-2021,” ujarnya.

Dari awal terjun di dunia politik, dia mendapat dukungan penuh dari daerah pemilihannya. Bahkan dia pernah mendapatkan 90 % suara dari  dua nagari. Hal ini sempat menjadi perbincangan masyarakat dan politikus di Sumatera Barat saat itu. Zuldafri mengakui bahwa dukungan masyarakat selama ini memang luar biasa.

Zuldafri Darma (kedua dari kiri) bersiap untuk memacu sapinya dalam acara Pacu Jawi di Nagari Parambahan, Kecamatan Limo Kaum, Tanah Datar. (foto: Made Wirya)

“Saya selalu berusaha bisa membaur dan membumi dengan masyarakat akar rumput. Jabatan yang saya sandang tidak saya bawa ke mana-mana. Saat bertemu  masyarakat, jabatan saya tinggalkan. Di Tanah Datar kami mencoba menciptakan  suasana, di mana antara  anggota DPRD dan Wakil Bupati  tidak berjarak dengan masyarakat. Sehingga ketika mereka menyampaikan aspirasi, tidak sungkan,” ungkapnya.

Apa yang disampaikan oleh suami dari Usda ini tidak berlebihan. Selama wawancara yang dilakukan di dekat  kolam ikan miliknya, di Nagari Parambahan, beberapa kali rombongan petani lewat dan menyapa Zuldafri. Dari gestur para petani itu, tidak sedikitpun menunjukkan bahwa mereka sedang berhadapan dengan orang nomor dua di Kabupaten Tanah Datar itu.

Ketika rombongan petani tepat berada di depannya, salah satu di antara anggota rombongan menyapa dan bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa lokal. Mereka pun terlibat pembicaraan sebentar, sebelum rombongan petani yang baru pulang dari sawah itu berlalu.

“Hobi saya hanya hobi kelas kampung, seperti memelihara ikan di kolam, memelihara anjing untuk olah raga buru babi, dan sapi untuk pacu jawi. Karena hobi tersebut sangat dekat dengan masyarakat Tanah Datar, yang mayoritas berprofesi sebagai petani,” katanya.

Bagi masyarakat Sumatera Barat, khususnya Kabupaten Tanah datar, anjing dan sapi sangat akrab dengan kehidupan mereka. Penduduk yang tergabung di dalam Persatuan Olah Raga Buru Babi di Tanah Datar, jumlahnya mencapai puluhan ribu. Aktivitas berburu babi dengan menggunakan anjing, dan pacu jawi menjadi hobi yang mengasikkan. Tidak heran satu keluarga bisa memiliki lebih dari satu ekor anjing pemburu.

Di tengah kesibukan menjadi wakil bupati, Zuldafri masih menyempatkan diri untuk bertani di lahannya. Saat ini dia sedang menanam cabai sebanyak 10 ribu pohon, dan membudidayakan kakao di lahan seluas 1 hektar. Selain itu lelaki bersahaja itu juga memelihara berbagai jenis ikan air tawar di kolam. Dia mengaku, setiap kali panen, hasil dari budidaya ikan di 10 kolam yang dikelolanya itu dibagikan kepada masyarakat sekitarnya.

“Selain sapi untuk pacu jawi, saya juga memelihara sapi pedaging dengan jumlah yang lumayan banyak. Untuk sapi pedaging, pemeliharaannya bekerjasama dengan para petani  dengan sistem bagi hasil. Mereka dapat 60 %, saya 40 %. Tapi tidak jarang keuntungan yang 40 % saya kembalikan lagi ke mereka,” ungkapnya.

Zuldafri mengakui bahwa bertani dan beternak tidak bertujuan semata-mata mencari uang. Tapi lebih kepada memberi contoh kepada masyarakat agar mereka tidak meninggalkan sawah dan ladang. Di sawah dan ladangh yang dikelolanya, dia juga terlibat langsung dalam menanam, memupuk, dan memanen.

“Hal ini saya lakukan agar masyarakat tanah datar tidak meninggalkan pertanian. Utamanya untuk generasi mudanya, yang enggan untuk bertani. Ketika mereka melihat  saya bertani, harapannya mereka yang enggan bertani akan tergerak hatinya. Di samping itu saya bisa mengetahui permasalahan  yang dihadapi petani, ” ucapnya tanpa pretensi. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *