Membangun Desa Wisata Berbasis Agro dengan Tetap Mempertahankan Keelokan Sawah di Tabanan

Desa Tabanan, Kecamatan Selemadeg Timur, merupakan salah satu desa di Kabupaten Tabanan yang memiliki keindahan alam dan potensi pertanian. Tanahnya yang subur memungkinkan berbagai komoditas pertanian tumbuh dengan baik. Kabupaten Tabanan selama ini memang kerap menjadi jujukan wisatawan yang berburu keindahan alam perdesaan,  baik domestik maupun mancanegara.

Potensi luar biasa Desa Tabanan, menjadi perhatian Retno Wahyuningtias. Melalui PT Media Distribusi Nasional, salah satu perusahaannya, perempuan yang akrab dipanggil Tyas itu berencana akan memolesnya, untuk dijadikan sebagai desa wisata berbasis agro.

Langkah awal yang diitempuh, memastikan komoditas apa saja yang cocok ditanam di lahan pertanian  desa tersebut. Hal ini dilakukan karena Tyas menginginkan agar selain menghasilkan panen yang optimal, komoditas yang ditanam juga mampu mendukung keindahan desa tersebut.

“Saya tertarik untuk mengeksplorasi Desa Tabanan sejak 3 tahun lalu, tapi instens berkunjung untuk membangun jaringan di desa tersebut baru setahun ini. PT Media Distribusi Nasional  akan menyediakan dana untuk pembelian bibit unggul dan pupuk,” paparnya.

Dalam waktu dekat, Tyas masih belum berpikir keuntungan. Untuk mendanai proyek desa wisata berbasis agro tersebut, dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Dia tidak berharap banyak akan mendapatkan keuntungan dalam waktu dekat. Tyas mengakui mungkin hingga 3 tahun ke depan tidak memdapatkan keuntungan.

“Tentu saja sebagai pengusaha saya realistis, akan mencari keuntungan dalam berusaha. Tapi untuk usaha desa wisata ini saya lebih mendahulukan kepentingan petani. Bagaimana caranya agar produktivitas pertanian mereka meningkat, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan mereka,” ungkapnya.

Selain akan menyiapkan sarana produksi pertanian berupa bibit dan pupuk, yang menjadi perhatian perempuan yang masih terlihat muda dan cantik dalam usia setengah abad itu, adalah regenerasi petani. Seperti halnya di banyak desa di Indonesia, regenerasi petani masih menjadi momok yang menghantui para petani.

“Mayoritas petani yang saya temui sudah berumur lebih dari 45 tahun. Kebanyakan anak-anak muda tidak mau meneruskan profesi orang tua mereka. Nah ini yang menggelitik saya. Sehari-hari saya di Jakarta, mungkin untuk mencari investor (dalam mengembangkan desa itu)  bukan hal yang sulit. Tapi bagaimana dengan yang di desa, ketika anak mudanya tidak mau lagu bertani?” Ungkapnya.

Melihat kondisi yang seperti itu, menggerakkan Tyas untuk tidak hanya mengeksplorasi keindahan alam dan potensi pertanian di Desa Tabanan. Dia juga berupaya  untuk membantu proses regenerasi petani, dengan merangkul berbagai pihak, termasuk PT Petrokimkia Gresik.

Retno Wahyuningtias (mengenakan topi merah), ketika studi banding ke Kebun Percobaan PT Petrokimia Gresik (foto: Made Wirya)

“Saya sudah melakukan pertemuan dengan Wakil Bupati Tabanan, beliau sudah datang ke lokasi dan menyerukan kepada masyarakat Tabanan, khususnya  pengurus Subak bahwa Tabanan akan menjadi desa wisata. Saya juga juga melakukan beberapa kali pertemuan dengan Dinas Pertanian Tabanan, untuk mendukung program ini,” jelasnya.

Pemkab Tabanan, terang Tyas, juga bersedia  mengalokasikan  dana untuk mendukung kesuksesan program ini. Dan akan diusulkan ke pemerintah pusat, karena Pemkab Tabanan memiliki anggaran khusus untuk desa wisata. Hal ini dilakukan agar program desa wisata berbasis agro ini bisa berhasil.

“Target kita untuk tahap pertama seluas 200 hektar. Investor dari Jakarta sudah kepingin sekali, tapi saya bilang  nanti dulu. Saya akan membuat pondasi yang bagus  terlebih dahulu. Caranya bukan dengan membeli atau menyewa lahan, tapi dengan mengoptimalkan lahan milik petani. Dan mereka semuanya bersedia, itu yang membuat niat saya tidak surut,” terangnya.

Pada Senin (17/9) Tyas mengajak beberapa petani yang memilki lahan luas di desa tersebut, melakukan studi banding ke Kebun Percobaan (Buncob) PT Petrokimia Gresik (PG).  Tyas melihat bahwa PG  mempunyai kapasitas dan kapabilitas dalam teknik budidaya berbagai komoditas pertanian. Sebab selama ini PG  rutin melakukan sosialisasi dan demonstration plot (demplot) beberapa komoditas di berbagai daerah di Indonesia.

Saat ditanya tentang skema kerjasama antara PT Media Distribusi Nasional (MDN) dengan petani, Tyas menyampaikan bahwa pihaknya menyediakan bibit unggul dan pupuk. Ketika sudah panen, perusahaan yang dikelolanya yang akan memasarkan. Menurutnya, pasar untuk komoditas pertanian sangat terbuka lebar di Bali. Karena di Pulau Dewaya tersebut banyak hotel dan rumah makan.

“Hotel bintang lima di Bali sudah menggunakan produk dalam negeri semua, tentu saja ini pasar yang bagus. Hanya saja mereka (para petani) belum tahu bagaimana caranya. Saya  mengambil 1 orang lulusan S2 Agribisnis dari UGM, yang membantu saya dalam pemasarannya,” paparnya.

Baru setelah itu, kata Tyas, hasilnya dipotong dengan biaya operasional, dan sisanya dibagi baik untuk petani pemilik lahan, pemilik lahan, dan  petani penggarap. Ditegaskannya kembali, bahwa untuk tahap awal diakuinya dia tidak profit oriented.

“Yang penting semua orang happy, saya juga ikut happy. Karena MDN ini bisnisnya tidak hanya di situ, kita bikin juga di Lampung, dan beberapa usaha lainnya,” jelas distributor PG, untuk wilayah Kabupaten Badung, Gianyar, dan Tabanan, dengan bendera PT Karya Andal Sejati itu.

Mengenai komoditas yang ditanam di desa tersebut, Tyas menyampaikan bahwa yang tetap akan dipertahankan adalah sawah. Sebab Sawah tersebut merupakan daya tarik utama desa wisata tersebut. Hanya saja nantinya akan dipilih varietas yang paling bagus. Sedangkan untuk komoditas lainnya akan ditentukan setelah melakukan studi banding ke beberapa institusi. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *