Serbuan Jerami Hitam Tengah Malam

Padi di sawah Samsi  tuntas di panen. Untuk mengejar musim tanam berikutnya bapak dua anak itu segera membersihkan  jerami, sebelum mengolah lahan dan menanam bibit padi. Sepuluh hari masa jeda dirasanya  lebih dari cukup. Pagi itu Samsi mengerahkan dua buruh tani untuk membantu membakar potongan jerami setinggi betis itu.

“Jerami yang kita bakar akan membuat tanah menjadi subur dan lebih tahan terhadap hama dan penyakit,” ujarnya kepada  buruh tani yang membantunya. Korek api yang dinyalakannya segera menyulut jerami kering tak berdaya. Dua buruh tani sigap menyebar ke dua penjuru petak sawah seluas 1,5 hektar itu.

Angin kencang membantu mempercepat pembakaran. Sebelum jerami terakhir hangus dilalap api, Samsi beranjak menuju rumah  mengendarai sepeda motornya. Siang ini dia ada janji bertemu dengan pedagang beras yang akan melunasi sisa pembayaran gabah.

Malam itu tubuh Samsi  lemas, nafsu makannya jatuh, dan kepalanya  pening. Makan malam yang disiapkan Rasemi, istrinya, nyaris tidak disentuh. Rasemi memang sengaja membeli gulai kepala kambing, yang dibelinya di Pasar Pahing.

“Bapak kenapa? Masuk angin? Saya kerok punggungnya ya, biar segera sembuh.” Tanpa menunggu persetujuan suaminya, Rasemi mencari koin uang kuno di laci meja rias. Sebentar kemudian dia mendekati tubuh suaminya yang lunglai di tempat tidur.

Setelah mengoleskan minyak gosok di punggung Samsi, perempuan yang masih terlihat cantik di usia menjelang setengah abad itu mulai mengerok. Bilur-bilur merah  muncul berbarengan dengan gerakan koin. “Apa kataku! Kamu masuk angin.” Samsi menjawab dengan dengkurnya.

Lewat tengah malam, Samsi terbangun karena mendengar suara berisik di luar kamar. Suara menyerupai gesekan jerami itu semakin gaduh. Tiba-tiba pintu kamar digedor dengan kasar,  hati Samsi menciut. Istrinya tidak ada di sebelahnya. “Siapaaa?” Suara Samsi bergetar karena  takut. Pintu semakin keras digedor. Sepertinya mereka berusaha membuka pintu dengan paksa.

“Rasemiii! Rasemiiiii!!” Samsi berteriak panik, tapi yang dipanggil tidak menjawab. Tubuh Samsi bergetar semakin hebat, rasa takut membuatnya lumpuh.  Tubuhnya serasa dirantai di atas tempat tidur. Tiba-tiba, braaaaak! Pintu kamar tidurnya jebol dihantam kekuatan hebat dari luar.

Ribuan jerami berwarna hitam masuk memenuhi kamar tidurnya. Jerami-jerami itu memiliki dua kaki, dua tangan dan satu mata berwarna merah menyala. Suara-suara gesekan semakin keras memekakkan telinga. Rasemi menutup telinga. Suara-suara itu membuat gendang telinganya  sakit.

Satu jerami berukuran tinggi dan besar berteriak lantang. “Kenapa kau bakar aku!?” Ribuan jerami lainnya serempak mengikuti. “Kenapa kau bakar aku!? Kenapa kau bakar aku!? Kenapa kau bakar aku!?” Samsi semakin takut, keringat dingin membasahi bajunya. Tiba-tiba ribuan jerami itu merangsek ke arah tubuhnya. Sontak Samsi berteriak. “Jaangaaaaaan!! Jangaaaaaaaan!!!”

Samsi terbangun oleh teriakan panik istrinya. “Paaaak!! Paaaaak! Bangun Paaak!? Kamu kenapa Paaaak? Ayo Banguuuun!!!.” Samsi gelagapan. “Aaada riiibuan jerami hitam masuk kamar kita. Mereka  menyerang  saya. Jerami-jerami bertangan, berkaki, dengan mata merah menyala. Nafas Samsi terengah-engah.

Rasemi bergegas mengambil air putih dan diberikan ke suaminya. Dengan tangan masih gemetar, ditandaskannya air satu gelas itu. “Kamu mimpi buruk, Pak.” “Iya Bu. Ribuan jerami berwarna hitam itu marah. Mereka meraung-raung dan mengeroyokku.” “Apa karena Bapak membakar jerami di sawah?” Rasemi penasaran. “Entah lah,” jawabnya lirih.

Dua hari kemudian, Samsi bertemu  Rohadi, penyuluh pertanian dari kecamatan, saat sosialisasi pemupukan berimbang di balai desa. Rohadi dikenal sebagai penyuluh pertanian yang cerdas dan ‘berilmu’. Lelaki muda ini sangat  menguasai bidang pekerjaannya.

Selain banyak membaca buku, Rohadi rajin mengikuti berbagai seminar tentang perkembangan teknologi pertanian. Itu sebabnya dia menjadi jujukan para petani yang mempunyai berbagai masalah di lahan. Selain itu, ada yang mengatakan Rohadi punya ‘mata batin’ yang kuat, sehingga bisa melihat makhluk tidak kasat mata.

Usai sosialisasi Samsi mendekati Rohadi. Setengah berbisik dia menceritakan  mimpi seramnya. Rohandi manggut-manggut, sambil sesekali menghisap kreteknya. “Pertanda apa mimpi saya itu, Pak Rohadi?” Tanya Samsi setelah mengakhiri ceritanya.

Setelah memejamkan mata beberapa saat, Rohadi buka suara. “Saya melihat, mimpi Pak Samsi berkaitan dengan pembakaran jerami di sawah.” Samsi terbelalak. “Jadi memang berkaitan!?” “Betul, Pak. Jerami-jerami itu marah, dan menuntut kenapa mereka dibakar. Padahal jerami-jerami itu harus dimasukkan kembali ke dalam tanah.”  Samsi terhenyak.

“Ada yang mengatakan jerami harus dibakar agar bisa menyuburkan tanah, dan menjadikan tanaman kebal terhadap hama dan penyakit,” kata Samsi. “Siapa yang bilang!? Itu mitos! Justru sebaliknya,  membakar jerami sama dengan membakar unsur hara yang ada di dalam jerami.” Samsi melongo.

“Kok bisa begitu?” Tanya Samsi. “Sebab di dalam jerami ada kandungan unsur hara 0,5 – 0,8% N, 0,07 – 0,12 P2O5, 1,2 – 1,7% K2O dan 4 – 7% Si. Unsur yang dimiliki jerami ini justru sangat berguna untuk memperbaiki kondisi lingkungan tumbuh,” jawab Rohadi lugas.

Mata Samsi menatap lekat lawan bicaranya. Rohadi meneruskan penjelasan. “Jika jerami  dikomposkan di dalam tanah, mampu memperbaiki sifat-sifat tanah, baik fisik, kimia, dan biologi tanah.” Samsi tercengang. “Jadi kita tidak boleh membakar jerami?” “Betul! Tidak ada untungnya membakar jerami!”

Setelah cukup mendapat penjelasan, Samsi  pamit. Sesampai di rumah, dia tidak langsung  makan siang. Direbahkan tubuh gempalnya di balai bambu di teras rumah. Samsi merenung. “Ribuan jerami itu marah karena saya membakarnya. Saya tidak akan mengulangi kebodohan itu,” gumamnya. Semilir angin dan kicau burung prenjak itu membuainya. Samsi tertidur lelap hingga dibangunkan istrinya untuk diajak makan. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *