Jerami Jangan Dibakar, Komposkan Saja dengan Petro Gladiator

Hingga saat ini masih banyak petani yang membakar jerami sisa panen. Hal ini dilakukan dengan berbagai macam alasan. Ada yang mengatakan bahwa hal ini untuk meningkatkan kesuburan tanah. Ada yang berpendapat, membakar jerami bisa membuat tanaman kebal terhadap hama dan penyakit. Benarkah? Ternyata tidak, membakar jerami sisa panen malah bisa menyebabkan terjadinya ‘bencana’.

Pembakaran jerami sisa panen menyebabkan polusi udara berupa kabut asap. Selain membuat nafas menjadi sesak, kabut asap bisa memicu terjadinya kecelakaan. Seperti yang terjadi di jalur Purwodadi-Semarang pada bulan Februari 2018. Kabut asap tersebut mengganggu pandangan para pengendara kendaraan bermotor (MuriaNewsCom, 14 Februari 2018).

Pembakaran jerami sisa panen di Kabupaten Rokan Hilir menjadi masalah serius. Akibat membakar jerami di lahan seluas 2 hektar, seorang petani ditahan di Mapolsek Sinaboi (Liputan6.com, 18 Februari 2018). Penangkapan dilakukan oleh aparat, karena tindakan petani tersebut berpotensi memicu kebakaran hutan. Mengingat saat itu Riau tengah memasuki musim kemarau kering.

Jika tidak boleh dibakar, lantas jerami-jerami tersebut sebaiknya diapakan? Tentu saja harus dikembalikan ke dalam tanah. Sebab dengan mengembalikan jerami ke dalam tanah,  menjadikan tanah lebih subur.  Sebab jerami memiliki kandungan unsur hara yang sangat berguna untuk memperbaiki kondisi lingkungan tumbuh

Menurut Dobermann dan Fairhurst (2000), jerami mengandung 0,5 – 0,8% N, 0,07 – 0,12 P2O5, 1,2 – 1,7% K2O dan 4 – 7% Si.  Dengan membakar jerami,  unsur hara yang ada dalam jerami  juga ikut terbakar. Itu berarti kita telah menyia-nyiakan unsur hara yang dikandung jerami.  Sedangkan jerami yang dibakar hanya bisa menjadi arang atau karbon.

Jerami padi memiliki beberapa keunggulan dibandingkan limbah yang lain, misalnya ketebon jagung, daun ubi jalar, daun tebu, rending kacang-tanah, dan biomas (Raharjo et al., 1981). Dengan demikian jerami sangat baik digunakan sebagai sumber hara atau pupuk organik. Bahan organik ini merupakan penyangga dan berfungsi untuk memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia, dan biologi tanah.

Tanah yang miskin bahan organik, menjadikan berkurangnya kemampuan daya sangga pupuk anorganik. Hal ini berakibat pada berkurangnya  efisiensi pemupukan, karena sebagian besar pupuk akan hilang melalui pencucian, fiksasi atau penguapan. Dengan demikian produktivitas padi akan menurun.

Data dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB padi) menyebutkan, jerami yang dikomposkan ke dalam tanah mampu memperbaiki sifat-sifat tanah, baik fisik, kimia, dan biologi tanah. Dalam proses pengomposan jerami, peranan mikroba selulolitik dan lignolitik sangat penting, karena kedua mikroba tersebut memperoleh energi dan karbon dari proses perombakan bahan yang mengandung karbon.

Untuk mempercepat proses dekomposisi, dapat digunakan dekomposer. Saat ini banyak diproduksi dekomposer dengan berbagai merek. Salah satunya adalah Petro Gladiator, dekomposer produksi PT Petrokimia Gresik (PG).

Menurut Arief Wahyutomo, Manager Penjualan Produk Pengembangan PG, Petro Gladiator merupakan bio dekomposer yang mengandung 4 mikroba, bermanfaat untuk mempercepat proses dekomposisi, dan meningkatkan kandungan bahan organik.

“Petro Gladiator mampu mengendalikan mikroba dan benih gulma yang merugikan, dengan panas yang dihasilkan dari proses pengomposan. Petro Gladiator diproduksi dalam bentuk serbuk dan cair, masing masing dikemas dalam kantong plastik dan botol,” ungkap lelaki yang akrab dipanggil Tommy ini.

Petro Biogladiator, sambung Tommy, sangat mudah diaplikasikan. Cukup dengan 2 hingga 5 kilogram Petrogladiator serbuk, atau  2 hingga 5 liter Petro Gladiator cair, untuk 1 ton bahan organik.

Tommy mengungkapkan, pada prinsipnya aplikasi  Petro Gladiator, baik yang serbuk maupun yang cair adalah sama. Yaitu dengan 4 langkah mudah; tumpuk, siram, aduk, dan peram. Pertama-tama  tumpuk sampah organik, akan lebih baik jika dicacah terlebih dahulu.

“Kemudian siram Petro Gladiator cair, atau tabur jika menggunakan Petro Gladiator padat, dan aduk hingga rata. Setelah itu ditutup dengan lembaran plastik atau terplas untuk mempertahankan kelembaban,” jelasnya

Langkah berikutnya, lanjut Tommy, adalah melakukan pemeraman. Pada proses pemeraman, kelembaban harus dipertahankan  antara 40 hingga 60 %, dengan cara disiram air.  Aerasi dapat dilakukan dengan proses pembalikan seminggu sekali.

“Jika kita tidak ingin repot-repot melakukan pembalikan, bisa dengan teknik ventilasi  menggunakan bambu atau paralon yang dilubangi.  Bambu atau paralon tersebut kemudian dipasang, baik dalam posisi horisontal, vertikal, maupun diagonal, pada tumpukan kompos,” paparnya.

Lebih lanjut Tommy menjelaskan, proses pengomposan tersebut berlangsung antara 2 hingga 4 minggu, tergantung jenis sampah organiknya. (SP)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *