Menanam Padi di Lahan Rawa, Kesempatan Menambah Luas Areal Tanam Baru Pada Musim Kemarau

Musim kemarau tahun ini diprediksi Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) masih akan terjadi sampai Oktober 2018. Rendahnya curah hujan pada musim kemarau bukan berarti upaya pemerintah untuk meningkatkan produktivitas pangan berhenti. Selama musim kemarau Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong produktivitas petani, agar tetap bisa mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri.

Dalam pernyataan tertulis seperti dikutip dari Kompas (3/9/2018), Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementan Sumarjo Gatot Irianto menyampaikan,  tidak  hanya mendorong pemaksimalan lahan sawah dengan mekanisasi penyediaan air saja. Tapi pihaknya juga mengajak petani memanfaatkan lahan rawa dan lahan kering.

“Lahan rawa sebagai lahan sub-optimal memiliki potensi luas 12,3 juta hektar, namun pemanfaatannya belum optimal. Dari potensi tersebut, baru dimanfaatkan seluas 4.527.596 hektar atau 36,8 persen untuk produksi pertanian. Ini adalah kesempatan untuk penambahan luas areal tanam baru buat produksi padi di musim kemarau,” kata Gatot.

Untuk budidaya padi di lahan rawa, diperlukan strategi yang jitu agar hasil panennya bisa optimal. Menurut Rini Andriani, peneliti dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh, Kunci keberhasilan pertanian di lahan rawa adalah dengan menerapkan kebijakan yang sistematis, terpadu dan terarah.

“Kebijakan Kementerian Pertanian dalam membangun pertanian di lahan rawa difokuskan pada optimalisasi  penggunaan varietas unggul, peningkatan pengolahan tanah, pengendalian hama penyakit, pemupukan berimbang, pengelolaan pascapanen, dan pemanfaatan kearifan lokal,” ujar Rini.

Untuk mengatasi tergenangnya benih yang baru ditanam, kata Rini, diusahakan menggunakan benih unggul yang tahan genangan dan berumur genjah (sekitar 3-4 bulan). Salah satu bibit yang mampu beradaptasi pada situasi ekstrem seperti itu adalah Inpara 3.

“Kondisi miskinnya hara tanaman  (di lahan rawa), dapat diatasi dengan pemupukan yang berimbang, sesuai dengan kebutuhan tanaman dan tingkat ketersediaan hara di dalam tanah. Artinya, dosis pemberian pupuk yang akan diberikan disesuaikan dengan kondisi di setiap lokasi,” terangnya.

Seperti halnya di lahan sawah, Rini juga menyarankan untuk menggunakan sistem tanam jajar legowo. Sebab sistem tanam ini memungkinkan tanaman mendapatkan lebih banyak sinar matahari. Selain itu juga memudahkan petani dalam pemupukan susulan, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit.

“Sistem tanam jajar legowo di lahan rawa memberikan andil yang cukup besar dalam peningkatan produksi padi. Di daerah Jambi membuktikan bahwa sistem tanam jajar legowo 5-1 mampu menaikkan  produksi padi hingga 100%,” tegasnya.

Salah satu hama yang paling ditakuti petani lahan rawa, lanjut Rini,  adalah tikus. Pada saat padi berumur muda, ia menyerang batang padi. Begitu juga ketika padi telah menguning, tikus-tikus ini menggasak bulir padi yang sedang menguning.

“Untuk mengantisipasi serangan hama tikus, salah satunya  dengan  memasang pagar plastik dan saluran selebar 100 cm  yang selalu terisi air, di sepanjang pagar plastik bagian luar. Jadi, untuk mencapai sawah yang sudah ditanami padi, tikus harus berenang di saluran tersebut. Meskipun ia mampu berenang namun kakinya tak akan mampu mencengkeram plastik tadi,” paparnya. (SP)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *