Di Jepang Tomat Bisa Tumbuh di Atas Meja Makan

Pernahkah anda membayangkan bertani di atas plastik? Rasanya mustahil. Selama ini mayoritas petani di Indonesia membutuhkan lahan yang cukup luas untuk membudidayakan berbagai komoditas. Memang ada petani yang membudidayakan komoditas pertanian dengan cara hidroponik dan aeroponik, tapi  jumlahnya tidak banyak.

Tapi bertani di atas plastik bukan hal yang mustahil bagi Jepang, negara yang sering menciptakan revolusi di bidang pertanian. Teknologi yang dikembangkan oleh Mebiol Research and Development Center (Mebiol) itu, memungkinkan hal tersebut.

Di sebuah ruangan kecil di dalam pusat penelitian dan pengembangan yang terletak tidak jauh dari Tokyo itu, selada tumbuh subur  di atas nampan di bawah lampu berwarna magenta. Di rak lain, berbagai sayuran  tumbuh subur di atas meja makan. Berbagai tanaman tersebut tumbuh di atas plastik polimer bening dan tipis.

“Dapatkah anda melihat akarnya?” Tanya Hiroshi Yoshioka, wakil presiden Mebiol, sambil mengangkat bagian tepi plastik polimer yang tertutup tanaman itu. Dia mencoba untuk memperlihatkan jalinan filamen berwarna pucat dan halus. Hirtoshi kemudian menarik plastik polimer mirip taplak meja berwarna hijau tersebut. Dibebernya lembaran plastik polimer bening yang ditumbuhi tanaman tomat dengan dedaunan hijau yang mulai melebar itu.

THiroshi Yoshioka, wakil presiden Mebiol mengangkat bagian tepi plastik polimer yang tertutup tanaman. (foto: SCMP Magazine)

Plastik polimer adalah metode pertanian mutakhir yang memungkinkan manusia untuk menanam buah dan sayuran pada  hampir semua bidang datar. Terbuat dari hydrogel, bahan penyerap super yang biasanya digunakan untuk popok bayi sekali pakai. Plastik ini bekerja dengan menyerap air dan nutrisi melalui pori-pori berukuran sepersejuta milimeter. Berbagai tanaman tersebut tumbuh di atas plastik, akarnya menyebar di seluruh permukaan membran dalam bentuk yang tipis, seperti kipas.

Pertanian di atas plastik merupakan gagasan Yuichi Mori (75 tahun), fisikawan kimia yang mendirikan Mebiol pada tahun 1995. Mori menghabiskan sebagian besar karirnya mengembangkan teknologi polimer untuk industri medis. Namun, sudah cukup lama dia tertarik pada biologi tanaman. Belakangan Mori mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan pertanian di atas plastik polimer untuk berbagai komoditas hortikulltura.

“Dalam banyak hal, tanamam lebih luar biasa daripada manusia,” katanya. Mori kemudian  menjelaskan bahwa tanaman menopang kehidupan di bumi dengan menyediakan sumber makanan bagi hewan dan menghilangkan kelebihan CO2 dari udara. “Saya selalu memikirkan bagaimana memaksimalkan kekuatan tanaman,” lanjutnya.

Ide menerapkan teknologi polimer untuk pertanian, saat Mori menciptakan ginjal buatan hampir 20 tahun yang lalu. Dia bertanya-tanya apakah mekanisme yang sama bisa digunakan untuk membangun pembuluh darah sintetis, dan filter membran dapat digunakan sebagai media pertumbuhan untuk sayuran.

“Tanaman dapat memecahkan banyak masalah masyarakat, dari penyakit akibat gaya hidup hingga masalah lingkungan. Saya membayangkan sebuah dunia,  di mana kita bisa bercocok tanam di mana pun,” paparnya.

Mori memulai mimpinya dengan membuat  sepetak kecil rumput pada plastik hidrogel di bawah lampu LED. Setelah lebih dari satu dekade percobaan, dia dan rekan-rekannya mengembangkan sistem pertanian tanpa tanah yang dapat digunakan untuk menanam tanaman di rumah kaca dalam skala besar.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Grantham Centre di Universiy of Sheffield pada tahun 2015, ditemukan bahwa bumi telah kehilangan sepertiga dari lahan suburnya akibat polusi dan erosi, dalam 40 tahun terakhir. Hal ini diperparah dengan penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan sehingga  menyebabkan tingkat kesuburan tanah turun drastis,  melampaui kemampuan alami bumi untuk pulih.

Perubahan iklim dan peristiwa cuaca ekstrem telah mempercepat erosi, dan memperburuk situasi tersebut. Ironisnya, kehilangan lahan subur yang dramatis terjadi justru pada saat permintaan makanan duna meningkat. Sehingga pada tahun 2050, produksi pangan harus ditingkatkan sebesar 50 persen, untuk memberi makan populasi dunia yang diproyeksikan sebesar 9 miliar orang. Kekurangan air menimbulkan risiko lebih lanjut terhadap keamanan pangan.

Ketersediaan air tawar telah menurun seiring dengan penurunan tanah, menyusut hampir dua pertiga selama empat dekade terakhir di daerah-daerah seperti Timur Tengah, Asia Barat dan Afrika. Pertanian dengan menggunakan media plastik polimer, bisa menjadi alternatif untuk mengatasi hal tersebut. Karena dengan sistem pertanian ini, penggunaan air 90 persen lebih sedikit daripada pertanian konvensional.

Pori-pori mikroskopis membran polimer juga bisa menangkkal bakteri dan virus, sehingga tidak membutuhkan pestisida berbahaya. Karena tanah tidak diperlukan, pertanian berkelanjutan dapat didirikan hampir di mana saja, seperti di gurun, di atas atap kota, dan bahkan di atas tanah yang terkontaminasi.

Metode ini digunakan di 150 lokasi di seluruh Jepang dan satu di China, serta di sebuah peternakan di tengah padang pasir di Uni Emirat Arab. Mebiol berencana untuk mengekspor teknologinya ke Eropa dan negara-negara lain di Timur Tengah akhir tahun ini.

Semula para petani merasa skeptis, tetapi metode ini semakin populer di antara para produsen muda seperti Ayaka Miura, presiden Drop Farm, yang menanam tomat-tomat di Prefektur Ibaraki. Karena plastik polimer memegang molekul air, tanaman di atas harus bekerja keras untuk menyerap air dan nutrisi. Stres menyebabkan mereka mengembangkan kadar gula, asam amino, dan fitokimia yang lebih tinggi. (Disadur dari artikel yang ditulis Melinda Joe, pernah dimuat di SCMP Magazine)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *