Kenali Hantu-Hantu, Sebab Siapa Tahu Saat Ini Mereka di Belakangmu

Saya hanya sekedar berbagi cerita, bukan cerita tentang taktik Ken Arok  saat menggulingkan Tunggul Ametung, atau kekejian Amangkurat I dalam mempertahankan kekuasaannya. Juga bukan cerita tentang kebiadaban Kasultanan Ternate untuk menggenosida Suku Tobelo di Halmahera. Saya hanya ingin berbagi cerita tentang berbagai spesies hantu yang dulu sering berkeliaran di desa kami, desa indah berhawa sejuk di kaki  Gunung Raung.

Kalian boleh percaya, juga boleh tidak percaya. Tapi jika kalian mengalami sendiri seperti yang saya alami, mungkin kalian akan percaya juga. Tapi bisa jadi kalian tidak percaya dengan apa yang kalian lihat. Masalah percaya itu memang serba subyektif relatif. Tidak pernah melihat dan membuktikanpun kita bisa percaya. Entah lah.

Baik, kita kembali  ke  hantu. Eh, maksudku kembali ke cerita tentang hantu. Mungkin hantu-hantu yang akan saya ceritakan ini  belum pernah kalian dengar, apalagi lihat. Sebab saya tahu kalian tidak semuanya dari Jawa, di mana hantu-hantunya beragam bentuk dan nama. Ya, seperti halnya tumbuhan, hantu pun mengenal lokalitas. Nama dan bentuk hantu antar daerah di Nusantara, memang berbeda satu sama lain. Bisa jadi bentuknya sama, tapi namanya berbeda.

Saya memang tertarik dengan hantu sejak kecil, tapi tentu saja hantu-hantu endemik yang ada di desa saya. Atau lebih tepatnya saya tertarik dengan hantu-hantu yang ‘hidup’ di kultur petani. Seperti apa kah nama dan bentuk hantu-hantu itu? Yang pertama adalah Oyot Nimang, oyot artinya akar. Jadi hantu ini merupakan hantu akar. Kenapa ada akar yang jadi hantu? Tanyakan saja ke orang yang pertamakali menemukannya. Saya sendiri juga tidak tahu.

Hantu Oyot Nimang ini seperti hantu jebakan, di mana orang yang menginjak atau melompati, akan kehilangan orientasi. Dia tidak tahu lagi akan berjalan ke arah mana untuk mencapai tujuannya. Hantu akar ini membuat orang menjadi tersesat, dan hanya berputar-putar di lokasi yang sama. Hantu ini diyakini menjadi salah satu penyebab pendaki gunung atau pengembara tersesat.

Hantu berikutnya adalah Kemamang, ingat, bukan Kemang. Sebab kata terakhir itu merujuk pada sebuah daerah elit di Jakarta. Kemamang merupakan hantu berwajah menyeramkan dan berambut api. Konon katanya, Kemamang suka mencari ikan di sungai dan membakar ikan hasil tangkapannya di atas bara api di rambutnya. Jadi jika kalian penyuka menu ikan bakar, silakan bersahabat dengan Kemamang, hantu yang nyambi jadi koki.

Selanjutnya adalah Wewe Gombel. Penampakan hantu ini sesuai namanya, Gombel (gembel?). Wajahnya keriput bak nenek-nenek renta, dengan pakaian compang-camping. Kenapa Wewe Gombel tidak melakukan oplas wajah? Tentu saja di alam ghoib tidak ada dokter bedah plastik. Paham!? Sebenarnya hantu ini artistik, bila saja (maaf) payudaranya tidak menyentuh tanah saking panjangnya. Tapi tolonng, jangan  tanyakan bagaimana bentuk bra-nya.

Ada lagi hantu yang masih populer hingga kini, yaitu Tuyul. Saya yakin kalian pasti kenal, sebab hantu ini pernah jadi pemain sinetron pada dekade ’90-an. Bentuknya serupa anak lelaki seusia Paud, dengan kepala botak. Aktivitasnya  (konon katanya) mencuri uang untuk disetorkan ke manusia yang ‘mempekerjakannya’.

Selain itu ada lagi yang namanya Kebleg (ingat bukan Gebleg), bentuknya seperti kelelawar. Bisa jadi Vampire terinspirasi dengan hantu ini. Kebleg merupakan salah satu hantu yang suka mencuri, tapi bukan seperti tuyul, hantu ini hanya mencuri beras dan telor. Kenapa hanya mencuri beras dan telor? Kenapa tidak mencuri gadget? Entah lah. Mungkin dia belum sarapan dan ingin membuat nasi goreng, dan dia tidak tahu ke mana menjual gadget curian.

Yang terakhir  adalah Hantu Sawah, karena diletakkan di  sawah. Kebanyakan berbentuk manusia yang menyeramkan, dan dibuat dari jerami. Hantu ini tentu saja tidak untuk menakuti manusia, tapi jika kalian takut itu hak kalian. Hantu ini untuk menakuti hama burung yang menyerbu bulir padi menjelang panen.

Tapi beberapa tahun terakhir ini Hantu Sawah sudah tidak populer lagi. Hantu ini banyak digantikan dengan jaring pelindung, plastik mengkilap, dan kepingan compact disc (CD) yang diikat di seutas tali. Cahaya yang dipantulkan oleh CD dan plastik tadi membuat burung menghidari sawah yang akan dijadikan warung untuk sarapan paginya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *