Okra, Jari Lentik Gadis Jelita yang Menggoda

Bentuknya mirip jari lentik gadis jelita, tapi hampir seluruh permukaannya ditumbuhi bulu-bulu halus. Buah ini masuk dalam genus Hibiscus dari famili Malvaceae atau kapas-kapasan. Bagian dalam  buah ini berlendir. Di Indonesia, buah yang dimanfaatkan sebagai sayur dan tanaman obat ini dikenal sebagai okra. Ada juga yang menyebutnya ochro, bhindi, oyong, dan gumbo.

Nama ilmiah buah ini Abelmoschus esculentus, memang bukan buah asli Indonesia. Okra berasal dari Benua Afrika dan dibawa ke Amerika sekitar 3 abad lalu oleh para budak Afrika. Saat ini  okra sudah dikenal luas di berbagai negara di Asia, Eropa, dan Australia. Bahkan masakan berbahan dasar okra sangat populer di Sri Langka, Jepang, Philipina, Arab Saudi dan Eropa.

Di Indonesia, okra baru populer beberapa tahun terakhir.  Daerah yang terlebih dahulu membudidayakan tanaman ini adalah Jember. Menurut Edi Suprawadi marketing perusahaan eksportir okra di Jember, okra beku siap saji yang dipasarkan secara lokal hanya sekitar 30 persen. Sedangkan 70 persen dari total produksi, sekitar 1.500 ton per tahun, diekspor ke Jepang, Taiwan, Australia dan beberapa negara lainnya (Antara, 4 Maret 2017).

Dilansir dari Boldsky (19 juli 2016), okra memiliki kadar kalori sangat rendah.  Satu gelas okra mengandung 2 gram protein, 7 gram karbohidrat, 3 gram serat, 0.1 gram lemak, 30  kalori, 60 gram magnesium dan 21 gram vitamin C. Menurut beberapa penelitian, serat larut dalam okra  membantu menurunkan kolesterol. Selain itu okra bisa mengurangi aterosklerosis dan mengurangi risiko penyakit jantung.

Kandungan serat dan lendir di dalam okra merupakan obat pencahar alami yang bisa meningkatkan pergerakan usus. Sifat alami buah ini mampu menurunkan kadar insulin dalam tubuh. Penderita diabetes, disarankan untuk mengkonsumsi 6-8 buah okra setiap hari. Okra juga kaya  akan beta karoten, lutein, dan xanthin, yang sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan mata. Untuk mengkonsumsi buah tersebut, bisa dimakan langsung atau bisa juga dimasak dengan bumbu balado,  asinan, oseng-oseng, dan gulai.

Melihat prospek okra yang cukup cerah, buah ini bisa dijadikan alternatif untuk dibudidayakan. Pembudidayaannya pun tidak terlalu sulit. Menurut buku “Budidaya Okra dan Kelor dalam Pot” yang dipublikasikan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jakarta, Okra dapat tumbuh baik di daerah dataran rendah (0 mdpl) hingga sedang (800 mdpl). Jika ditanam pada ketinggian kurang dari 600 meter, umur tanaman okra lebih pendek. Sedangkan jika ditanam di dataran tinggi umur okra mencapai 4 – 6 bulan.

Selain ditanam di tanah secara langsung, okra juga dapat dibudidayakan di dalam pot. Tahapan budidaya okra dalam pot meliputi persiapan media tanam, penanaman, pemeliharaan, serta panen. Tahapan pemeliharaan, meliputi ; penyiraman, penyiangan, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit. Media tanam harus porous, mampu menyangga tanaman, dan menyediakan hara bagi tanaman. Media tanam berupa campuran tanah, pupuk kandang dan sekam 1:1:1.

Penanaman menggunakan polybag ukuran 40, pot ukuran 40. Penanaman. Benih yang akan ditanam adalah biji okra yang sudah tua. Penanaman okra dalam pot jika dalam jumlah sedikit tidak memerlukan persemaian.  Sebelum ditanam, benih direndam selama 4-6 jam. Benih yang digunakan adalah benih yang tenggelam saat perendaman. Selain untuk seleksi, perendaman berfungsi juga mempercepat perkecambahan. Jika ditanam di dalam pot, benih yang ditanam idealnya 1-2 benih.

Penyiraman dilakukan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari. Yang perlu diperhatikan adalah kondisi tanah jangan sampai kekeringan. Penyiangan dilakukan dengan mencabut gulma yang tumbuh di dalam pot atau polybag. Pemupukan dilakukan 14 hari setelah tanam dengan menggunakan Urea dan KCl, masing-masing sebanyak 10 gram/pot (sesuai dosis 100-130 kg/hektar). Pemupukan susulan diberikan tiga dan enam minggusetelah tanam,  menggunakan 10 gram urea/pot.

Hama yang sering ditemukan pada tanaman ini adalah belalang, ulat, hama penggorok buah/batang, dan nematoda. Serangan belalang ditandai dengan adanya lubang pada daun. Sedangkan untuk penyakit pada okra, lebih banyak disebabkan oleh Cercospora blight, embun tepung, busuk buah, fusarium wilt, dan virus kuning yang ditularkan melalui vektor. (SP)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *