, ,

Sosok Misterius yang Terbang Menuju Langit Malam

Dengan hanya memiliki sawah seluas tidak lebih dari seperempat hektar, hidup kami tidak bisa bergantung dari hasil pertanian semata. Itu sebabnya saya membuka usaha pembuatan mebel kayu jati, agar dapur tetap berasap. Apalagi dua anak kami sudah memasuki sekolah dasar dan menengah pertama.

Usaha ini mulai saya rintis sejak anak sulung masih duduk di kelas 4 sekolah dasar. Tapi sebelumnya saya sudah menjual jasa sebagai tukang kayu, untuk mengerjakan kusen rumah. Tapi saat itu pasarnya hanya sebatas tetangga kiri-kanan dan penduduk satu desa.

Kami tinggal di desa pertanian dengan sawah tadah hujan, sehingga hanya bisa panen sekali dalam satu tahun. Seperti halnya saya, penduduk desa kami yang terdiri dari dua dusun itu juga mempunyai aktivitas usaha lain. Mererka ada yang membuat berbagai kerajinan dari bambu, tikar pandan, dan ada pula yang menjadi tukang batu.

Pada awal berdirinya, usaha yang saya geluti ini tidak banyak mengalami masalah. Hampir tiap bulan pesanan selalu ada , dari meja-kursi tamu, lemari, meja-kursi makan, rak, dan tempat tidur. Pemesannya tidak hanya sebatas dari desa kami, tapi juga dari desa tetangga, bahkan dari luar kecamatan. Konsumen yang sudah pernah pesan mebel di tempat saya, rata-rata puas.

Tapi kendalanya adalah bahan baku. Beberapa puluh tahun yang lalu, desa kami masih dikelilingi hutan jati. Dari mulai pohon jati berdiameter 30 sentimeeter hingga  lebih dari 1 meter, semuanya masih tumbuh dengan aman. Tapi dengan maraknya penjarahan, puncaknya pada akhir tahun ’90-an, kelebatan hutan jati itu hanya tinggal kenangan. Kondisi ini tentu saja berimbas dengan pasokan bahan baku untuk usaha saya.

Suatu ketika, saya kedatangan tamu bermobil mengkilap. Melihat nomor polisinya, mereka datang dari Surabaya. Tiga orang keluar dari mobil, satu orang lelaki setengah baya dan dua anak muda yang mengiringi di belakangnya. Mereka saya persilakan duduk, tapi lelaki setengah baya itu memilih untuk melihat beberapa papan dan balok jati yang saya jemur di dekat pagar. Saya mengikuti dari belakang.

“Saya mau pesan meja makan dari kayu jati tua, sekalian dampar-nya. Bapak punya bahan-bahannya?” Tanya lelaki setengah baya itu. “Berapa ukuran mejanya? Mau papan utuh atau sambungan?” Saya balik bertanya. “Saya maunya dari papan utuh, lebar 70 sentimeter dan tebal 15 sentimeter. Panjang meja sekitar 180 sentimeter. Dampar-nya juga dari papan utuh tebal 5 sentimeter, lebar 30 sentimeter, dan panjang sama dengan mejanya.”

Kening saya berkerut. Sebenarnya ini pekerjaan besar dengan nilai yang cukup tinggi. Andai saja pesanan ini terjadi saat bahan masih melimpah, saya akan langsung menyanggupinya. Tapi saat ini, bagaimana saya bisa mendapatkan kayu jati dengan ukuran yang sudah langka itu? Sebagai pedagang, saya tidak mau menyerah begitu saja, harus berusaha dulu mencari bahan-bahan yang diinginkan oleh konsumen kakap itu.

“Saat ini saya memang masih belum punya bahan kayu jati dengan ukuran yang anda maksudkan. Tapi akan saya usahakan, jika sudah ada kabar baik, segera saya kabari.” Tamu saya itu tersenyum. “Atau saya beri uang muka dulu. Bagaimana?” “Nggak usah, Pak. Jika sudah pasti ada saja, saya akan berkabar. Tolong minta nomor hape-nya.” Setelah bertukar nomor telepon seluler, rombongan orang kota itu pamit pulang.

Saya mulai menghubungi beberapa kawan yang biasanya memasok bahan baku kayu jati. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang memiliki stok kayu jati sesuai spesifikasi yang saya sampaikan. Ada beberapa yang punya masih dalam bentuk gelondondongan, bahkan dimensinya jauh lebih besar, tapi barang gelap. Percuma saja, saya tidak mau beruurusan dengan pihak yang berwenang.

Dua minggu kemudian kabar baik datang. Salah satu tetangga mengatakan bahwa ada saudaranya yang mempunyai bahan sesuai yang saya inginkan. Segera saja saya meluncur ke rumahnya yang tidak jauh dari desa kami. Saya melihat bahan kayu jati ini istimewa, dimensinya mendekati ukuran yang dikehendaki konsumen. Hanya saja panjang dan tebalnya kurang beberapa sentimeter.

Permukaannya tidak rata, maklum kayu lama yang dibelah dengan alat ala kadarnya. Karena kayu lama dan bekas dipakai untuk perabot, bahan ini tidak membutuhkan ijin. Selain itu masih ada beberapa papan jati tua yang ukurannya cocok buat dua dampar. Setelah membayar harga yang disepakati, saya meluncur pulang.

Sore harinya saya menghubungi si orang kota itu. Saya kabarkan bahwa saya sudah mendapatkan bahan yang dimaksudkan, tapi panjang dan tebal bahan untuk meja tidak sama persis. Ternyata dia tidak begitu mempermasalahkan, apalagi ketika mendengar bahwa bahannya dari jati juno. Dia sangat setuju dan akan segera mengunjungi saya untuk memberikan persekot.

Saya puas bisa memenuhi permintaan konsumen. Malam itu saya berharap bisa tidur pulas dan esoknya segera menyelesaikan pesananan. Tapi entah kenapa malam itu saya gelisah. Hingga pukul sebelas, mata ini belum bisa dipejamkan. Kemarau panjang ini membuat udara dalam rumah menjadi sangat gerah.

Saya putuskan untuk mencari angin segar di teras, sambil menghisap kretek. Sekali lagi saya perhatikan bahan-bahan kayu jati kuno yang baru saja saya beli. Dari keremangan cahaya lampu jalan, saya melihat ada seseorang yang berjalan menuju ke arah bahan kayu jati itu. Sigap saya menuju ke arah orang itu. Jangan-jangan orang itu mau mencuri. Celaka!

“Hei! Mau apa kamu!?  Saya berteriak. Tapi sosok itu  bergeming, tetap bergerak mendekati kayu-kayu jati yang saya tumpuk dekat pagar itu. Saya segera berlari mendekat. Dari jarak sekitar empat meter, mau harum bunga memprovokasi indera penciuman saya. Bulu kuduk saya meremang. Saya menghentikan langkah kaki.

Saya melihat sosok itu berputar mengitari tumpukan kayu jati itu. Harum bunga semakin menyengat. Tiba-tiba sosok itu menghentikan langkah dan melihat ke arah saya. Sontak saya gemetaran, keringat dingin segera berlelehan. Kaki saya seperti dibenamkan ke dalam tanah, tidak bisa digerakkan sama sekali.

Keadaan ini berlangsung hingga beberapa menit, sebelum akhirnya sosok misterius itu terbang dengan ringan ke langit malam. Akhirnya saya bisa berjalan lagi ke dalam rumah meskipun agak terhuyung.

Paginya saya menuju ke rumah penjual kayu jati kuno itu. Saya menceritakan pengalaman mistis dan menanyakan dari mana asal-usil kayu jati itu. Setelah saya desak beberapa kali, akhirnya dia mengaku bahwa papan jati kuno itu didapatkan di dekat penambangan pasir urug. Lokasinya di dekat makam Cina tua yang longsor terkena garuk alat berat.

Penjualnya berjanji akan mengembalikan uang yang sudah diterimanya, meskipun tidak semuanya. Karena sebagian sudah dipakai  untuk membayar hutang, Ya sudah, saya ikhlaskan saja. Yang penting dia mau mengambil sendiri kayu jati horor itu.

Saya pun segera menghubungi konsumen  yang memesan meja. Saya katakan padanya bahwa saya tidak sanggup lagi mengerjakan pesanananya, dengan alasan bahan-bahan itu lenyap disambar maling. (SP)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *