,

Saat Gempa Mengguncang Palu, Rizky Dwi Kharisma dan Anaknya Terlempar Hingga Menghantam Dinding Kamar Mandi (Bagian 1)

sahabatpetani.com – Gebyar Hari Pangan Sedunia Ke 38 Tingkat Provinsi di Kabuapten Buol ditutup pada Kamis malam, tanggal 27 September 2017. Rizky Dwi Kharisma bersiap untuk pulang setelah mengikuti acara yang berlangsung selama 3 hari tersebut. Jarum jam di tangannya menunjukkan pukul 23.00 WITA.  Tapi Staf Perwakilan Daerah Penjualan (SPDP) wilayah Buol, Donggala, Parigi Motong,  dan Tolitoli itu gamang. Dia akan menginap semalam lagi atau langsung pulang malam itu juga.

Perjalanan menuju Kota Palu dengan jarak 600 kilometer itu butuh waktu belasan jam, sedangkan kondisinya kurang begitu fit karena kelelahan. Akhirnya dia mengikuti intuisinya untuk pulang malam itu juga. Setelah 14 jam mengendarai mobil, Rizky selamat sampai di rumah pada  Jumat tanggal 28 September 2018, pukul 13.00 WITA.

Karyawan PT Petrokimia Gresik yang mulai bekerja sejak 1 november 2008 itu mencoba membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Rasa kantuk dan lelah, membuatnya segera terlelap di samping anak dan istrinya. “Pukul 15.00 WITA saya terbangun karena ada gempa, tapi getarannya tidak begitu hebat. Setengah jam kemudian ada gempa lagi dengan guncangan yang tidak jauh beda dengan yang pertama. Dan saya kembali  tidur,” katanya.

Sekitar pukul 15.30 WITA ada gempa susulan lagi, dengan guncangan yang lebih kuat. Gempa yang ke tiga ini mengganggu tidurnya,  sehingga dia memutuskan untuk bangun. “Sebenarnya gempa di Palu adalah hal yang biasa, bahkan sebulan bisa sampai tiga kali.  Tapi gempa-gempa kecil yang tidak berdampak serius. Memang awalnya saya kaget juga melihat kondisi seperti ini, ketika pertama kali tinggal di Palu pada 1 Juli 2017,” kisah suami dari Aldise Nur Fadilah ini.

Sore itu Risky dan anak-istrinya berencana akan mendatangai  Festival Pesona Palu Nomoni,   festival seni dan budaya yang rutin diadakan setiap tahun di Palu. Lokasinya di pantai Teluk Palu. Jarak antara lokasi acara dengan rumahnya sekitar 7 kilometer. Dia akan mengantar anaknya yang ikut menari   di festival tersebut. “Rencananya jam lima sore  kami berangkat. Karena masih capai,  saya putuskan ke sana setelah maghrib,” jelasnya.

Kira-kira pukul 17.45 WITA, Rizky memandikan Khatijah Nur Fadilah, anak semata wayangnya yang baru berumur empat tahun. Istrinya  sedang mandi di kamar mandi yang lain, yang terletak di dalam kamar tidur utama. “Tepat ketika Adzan Maghrib berkumandang, saya selesai memandikan anak saya dan segera saya balut dengan handuk. Tiba-tiba gempa hebat terjadi, refleks saya dekap anak saya dan kami sama-sama terlempar membentur dinding kamar mandi,” ucapnya terbata.

Risky berusaha keluar dari kamar mandi, tapi getaran hebat itu terus berlangsung. Ketika melihat ke atas, plafon kamar mandi hampir runtuh. Dengan sisa kekuatan dia bergerak keluar dari kamar mandi. Beberapa detik setelah berhasil melintasi pintu kamar mandi, plafon runtuh.

Setelah berhasil menyelamatkan diri, Risky teringat istrinya. Sambil masih mendekap anaknya, dia berjalan dengan sempoyongan menuju kamar mandi. Dilihatnya seisi rumah berantakan, televisi terbanting dan pecah, pintu kulkas terbuka dengan isi berhamburan di lantai. Melalui kaca jendela, dalam keremangan senja dia melihat atap rumah milik tetangganya runtuh.

Salah satu sudut kota Palu porak poranda dihantam gempa (foto: Aldise Nur Fadilah)

“Saya kalut. Saat itu sempat berpikir istri saya tidak selamat. Ketika ada jeda waktu satu menit gempa mereda,  saya menerobos masuk kamar tidur utama dan menarik istri saya keluar dari kamar mandi. Kami bergegas menuju ke  luar rumah. Celakanya pintu ruang tamu tidak bisa dibuka karena kusennya bergeser, saya mendobrak beberapa kali sehingga akhirnya bisa terbuka,”  terang lelaki kelahiran Bangkalan, 26 Maret 1988 tersebut.

Sesampai di halaman, gempa hebat terjadi lagi. Mereka berusaha keluar menuju jalan depan rumah, tapi terhalang pintu pagar yang terkunci. Saat intensitas goyangan agak menurun, setengah berlari Rizky kembali  masuk rumah  untuk mencari kunci pintu pagar. Celakanya dia  salah ambil kunci, yang  diambil bukannya kunci pintu pagar, tapi kunci sepeda motor.

Gempa berikutnya membuat pintu pagar itu jebol. Keluarga muda itu berlari menuju ke jalan di depan rumah mereka. Di jalanan terdengar teriakan dan tangisan histeris dari tetangga kiri-kanan. Kondisi saat itu gelap-gulita karena aliran listrik padam. “Saya melihat rumah-rumah tetangga banyak yang runtuh,” kenangnya.

Gempa-gempa susulan masih berlangsung, tapi sudah tidak sehebat yang terjadi di awal. Malam pun  merangkak pelan. Rizky merenung, bagaimana dia akan menjalani hari-hari selanjutnya dalam kondisi porak-poranda seperti ini. Memang istrinya masih menyimpan persediaan bahan makanan seperti mie instan, beras, dan telor, tapi hanya cukup untuk dua hari. Susu anaknya hanya cukup untuk malam itu saja.

“Kami mengandalkan makanan dari bahan makanan yang ada di rumah. Selebihnya dibantu oleh tetangga yang memiliki toko sembako, yang masih tersisa dan bisa diselamatkan. Praktis selama dua hari anak saya hanya minum air putih dengan gula. Syukurlah dia tidak rewel dalam kondisi sulit seperti itu,” ujarnya. (Made Wirya / Bersambung)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *